counceling

TEORI-TEORI YANG BERDASARKAN TEORI PEMBELAJARAN, POSTMODERN, SOSIOEKONOMI, DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN SERTA APLIKASINYA

Posted on: April 6, 2009

Pada tahun 1979 teori Krumboltz, berdasarkan teori pembelajaran sosial Albert Bandura (1977), diperkenalkan. Meskipun ide Bandura mengenai perolehan perilaku telah berubah sampai pada beberapa tingkat tertentu (contoh, Bandura, 1986), Krumboltz tidak membuat perubahan yang berarti dalam teorinya. perbedaan antara teori-teori yang berasal dari teori pembelajaran dan teori kepribadian-dan-faktor adalah teori tersebut tidak begitu memperhatikan peran kepribadian, seperti minat dan nilai-nilai, dalam proses pengambilan keputusan karir. tetapi lebih memfokuskan pada proses pembelajaran yang mengarahkan pada keyakinan dan minat diri serta bagaimana hal ini mempengaruhi proses pengambilan keputusan karir. Teori tersebut juga berbeda dari aliran perkembangan(developmentalist) dalam beberapa aspek intinya, yaitu bahwa mereka tidak menimbang tingkat perkembangan. Teori-teori pembelajaran percaya bahwa karena banyaknya faktor yang melingkupi pilihan dan penyesuaian karir telah dipelajari, teori mereka harus menghitung proses pembelajaran yang mengarahkan terhadap tercapainya keyakinan dan sikap kritis terhadap proses pengembangan karir.

Teori Pembelajaran Sosial Krumboltz
Krumboltz (1979,1996) dan Mitchell dan Krumbotz (1984, 1990, 1996) menggambarkan teori pembelajaran sosial tentang pilihan karir berdasarkan teori perilaku Bandura (1977) dan lainnya, menekankan pada teori reinforcement (dorongan). Krumboltz mengidentifikasi empat faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan karir:
1. Pengaruh gen dan kemampuan khusus. Krumboltz mengenali bahwa karakteristik keturunan tertentu dapat membatasi seseorang, sebagaimana Tiedman juga mengidentifikasi kondisi biologis, beberapa contohnya adalah, ras, jenis kelamin, dan penampilan fisik. faktor-faktor lain dimana keturunan, setidak-tidaknya sebagian, bisa membatasi. Termasuk juga berbagai kemampuan khusus, seperti kecerdasan, kemampuan musik dan seni, dan koordinasi fisik.
2. Kondisi-kondisi dan peristiwa lingkungan. Termasuk dalam faktor ini adalah pengaruh-pengaruh yang mungkin berada di luar kontrol seseorang tetapi menunjang individu melalui lingkungan dimana individu tersebut tinggal. Beberapa pengaruh mungkin sintetis dalam arti luas; beberapa pengaruh lain mungkin disebabkan kekuatan alam. Manusia atau elemen alam semacam ini bisa menyebabkan terjadinya peristiwa yang membebani individu dalam pendidikan dan proses keputusan karir. contoh pengaruh semacam ini adalah adanya kesempatan kerja dan pelatihan, kebijakan sosial, dan prosedur untuk memilih pelatih atau pekerja, nilai balasan dari berbagai jabatan, tenaga kerja, hukum serta peraturan persatuan pekerja, peristiwa fisik seperti gempa bumi dan banjir, adanya sumber daya alam, pengembangan tehnologi, perubahan dalam organisasi sosial, pengalaman pelatihan dan sumber daya keluarga, sistem pendidikan, dan pengaruh lingkungan dan komunitas.
3. Pengalaman belajar. Seluruh pengalaman belajar sebelumnya mempengaruhi pendidikan dan pengambilan keputusan karir seseorang. Setelah Krumboltz mengenali serumitan proses pembelajaran, dia mengidentifikasi hanya dua tipe pembelajaran sebagai contoh: pengalaman pembelajaran instrumental dan pengalaman belajar asosiatif. Dia menggambarkan pengalaman pembelajaran instrumental sebagai situasi dimana individu mematuhi lingkungan untuk menciptakan beberapa konsekuensi tertentu. Pengalaman pembelajaran asosiatif digambarkan sebagai situasi dimana individu belajar dengan cara bereaksi terhadap stimulus dari luar, dengan cara mengamati langsung atau model buatan, atau dengan mencocokkan dua kejadian dalam satu waktu atau lokasi.
4. Keahlian-keahlian pendekatan tugas. Keahlian-keahlian yang digunakan individu pada setiap tugas atau permasalahan baru dinamakan keahlian-keahlian pendekatan tugas. Termasuk dalam contoh ini adalah standar performa dan nilai; kebiasaan kerja, latihan simbolik, pengkodean, dll. Penggunaan keahlian-keahlian ini mempengaruhi hasil dari setiap tugas atau masalah dan akibatnya dibatasi oleh hasil-hasilnya.
Kesimpulannya, individu dilahirkan ke dunia dengan karakteristik generik tertentu: ras, jenis kelamin, dan kemampuan atau ketidakmampuan khusus. Seiring dengan berjalannya waktu, individu mengahadapi peristiwa-peristiwa dan kondisi lingkungan, ekonomi, sosial dan budaya. Kesuksesan-kesuksesan dan kegagalan-kegagalan yang tumbuh dalam kondisi ini mempengaruhi individu dalam memilih serangkaian tindakan dalam pengalaman-pengalaman pembelajaran selanjutnya, meningkatkan kecenderungan untuk membuat pilihan serupa dengan yang telah dilakukan yang mengarahkan kepada kesuksesan dan menghindari pilihan-pilihan serupa yang mengakibatkan kegagalan. Proses ini dipesulit dengan aspek ketidakstabilan karena indiviu berubah sebagai hasil dari serangkaian pengalaman belajar yang terus berlanjut, dan situasi juga berubah karena dinamika kondisi-kondisi lingkungan, budaya dan sosial.
Status dan Kegunaan Teori Krumboltz teori Krumboltz (Krumboltz, 1996; Mitchell & Krumboltz, 1996) hanya menarik perhatian sebagian kecil peneliti dan praktisi meskipun banyak yang merekomendasikannya. Teori ini cukup atraktif sebagai dasar konseling karir. dia menolak gagasan tradisional bahwa tujuan konseling karir adalah untuk memilih pekerjaan berdasarkan karakter personal pembuat keputusan. Tetapi, dia menyarankan bahwa tujuannya adalah untuk memfasilitasi perolehan pengetahuan tentang diri dan skill yang dibutuhkan untuk menangani dunia yang selalu berubah yang dipenuhi dengan ketidakpastian. Dia mengembangkan Career Beliefs Inventory (Krumboltz, 1991) dan buku catatan yang menyertainya (Levin, Krumboltz, & Krumboltz, 1995) untuk membantu pembaca mengidentifikasi keyakinan mereka dan memadukannya dengan minat mereka. Menurut Krumboltz, Individu yang tidak belajar untuk mengambil keuntungan dalam kesempatan pembelajaran yang diberikan kepada mereka dalam pelatihan dasar berkelanjutan cenderung untuk membuat keputusan tidak bagus. Yang paling penting, konseling karir harus menyiapkan klien untuk mengenali dan mengambil keuntungan dari kesempatan pembelajaran yang diberikan pada mereka. Konseling karir harus dilakukan dengan empat pertimbangan.
1. Para klien harus siap untuk mengembangkan pengetahuan dan keahlian mereka dibandingkan keadaan mereka ketika pertama kali mereka masuk proses konseling. Konselor karir harus membantu klien untuk memetakan status mereka dan memberikan garis besar rencana untuk perubahan dan pengembangan. Dengan adanya rencana untuk berubah. Para klien mengembangkan struktur kesempatan mereka.
2. Para klien harus siap dengan sebuah kondisi umum pekerjaan yang sedang berubah.
3. Meskipun diagnosa permasalahan pengembangan karir saat ini adalah sebuah langkah dalam proses konseling karir, hal ini tidak cukup. Para klien harus didorong untuk menghadapi tekanan dunia yang selalu berubah.
4. Para konselor karir harus lebih fokus dan membantu klien menangani serangkaian masalah pekerjaan yang meeka hadapi. Klien harus memahami nilai dan hal yang memuaskan mereka. Mereka harus meraih kontrol hidup mereka, untuk mampu menangani permasalahan di tempat kerja, termasuk bagaimana maju di tempat kerja dan rencana untuk berhenti.

Prespektif Sosial Kognitif
Teori karir sosial kognitif (SCCT), yang berdasarkan pada teori sosiokognitif Albert Bandura (1986), pada beberapa tingkat tertentu mirip dengan teori Krumboltz. Tetapi juga berbeda dengan teori Krumboltz pada beberapa hal penting. Perbedaan paling penting adalah Lent, Brown, dan Hackett (1995,1996,2002) lebih menekankan pada kesadaran peraturan diri, terutama yang berhubungan dengan harapan efektifitas diri, yang berhubungan dengan posisi Bandura. Keyakinan efektifitas diri itu dinamis, persepsi diri yang selalu berubah yang diyakini individu mengenai kemampuan mereka untuk melakukan tugas tertentu. Mereka berkata, “dalam memformulasikan SCCT kami mencoba mengasopsi, mengurai, dan memperluas aspek-aspek teori Bandura yang tampaknya sesuai dengan proses pembentukan minat, pemilihan karir, dan performa” (Lent dkk, 1996,2992, hal 258). Permasalahan sentral dari teori sosial kognitif sebagaimana berikut:
1. Interaksi antara orang dan lingkungan mereka sangat dinamis; hasilnya adalah individu di satu saat dipengaruhi oleh dan mempengaruhi terhadap lingkungan mereka.
2. Perilaku yang berhubungan dengan karir dipengaruhi empat aspek seseorang sebagai tambahan terhadap karakteristik yang ditentukan secara genetik adalah: perilaku, keyakinan efektifitas diri, memperoleh hasil yang diharapkan, dan tujuan.
3. Keyakinan efektivitas diri dan memperoleh hasil yang diharapkan mempengaruhi langsung pada pengembangan minat. orang tertarik pada sesuatu karena mereka yakin bahwa mereka bisa melakukan dengan baik dan menghasilkan hasil yang berharga.
4. Variabel jenis kelamin, ras, kesehatan fisik, ketidakmampuan, dan lingkungan mempengaruhi pengembangan efektifitas diri, sebagaimana memperoleh hasil yang diharapkan juga mempengaruhi dan, pada akhirnya, tujuan dan performa.
5. Pilihan dan implementasi karir aktual lebih dipengaruhi oleh sejumlah variabel langsung dan tidak langsung daripada efektivitias diri, harapan hasil yang diperoleh dan tujuan yang telah ditentukan. Termasuk pengaruh-pengaruh langsung terhadap pilihan dan pengembangan karir adalah diskriminasi, variabel-variabel ekonomi yang memepengaruhi persediaan dan permintaan, serta budaya pengambil keputusan. Termasuk pengaruh-pengaruh tidak langsung adalah kejadian-kejadian.
6. Performa di aktivitas-aktivitas pendidikan dan pekerjaan adalah hasil interaksi dari kemapuan, efektifitas diri, memperoleh hasil yang diharapkan dan tujuan yang telah ditentukan. Semuanya memiliki tingkat yang sama, orang dengan level kemampuan tertingi dan keyakinan efektivitas diri terkuat melaksanakan dalam level tertinggi. Meskipun begitu keyakinan efektivitas diri dan harapan hasil yang diperolehterus-menerus berubah seiring interaksi individu dengan lingkungannya.
Lent dan koleganya (Lent, Brown, Hacket, 1996) percaya bahwa teori mereka berhubungan dengan meningkatnya penekanan pada fungsi kognitif dalam psikologi. Mereka percaya bahwa teori terdahulu, seperti teori pembelajaran sosial Krumboltz (Krumboltz 1979; Mitchell & Krumboltz, 1996), berkaitan erat dengan sejarah pembelajaran dan tidak terlalu menekankan pada proses kognitif untuk menjelaskan perilaku yang berhubungan dengan karir. sebagai contoh, operant conditioning dan classical conditioning tidak disebutkan dalam teori mereka, yang bukan merupakan kasus dalam penelitian Krumboltz.
Status dan Kegunaan Teori Karir Sosial Kognitif Teori karir sosial kognitif pertama kali di publikasikan pada tahun 1994. Sejak itu SCCT berdampak sangat besar terhadap penelitian mengenai pilihan karir. teori ini juga mempengaruhi proses penilaian karir pada sejumlah hal yang penting (Betz & Borgen, 2000). Terdapat semakin banyak bukti bahwa SCCT mempengaruhi praktek konseling karir (Sharf, 2002).
Salah satu asumsi tentang SCCT adalah bahwa efektivitas diri dan minat saling terhubung dan minat dapat dikembangkan atau diperkuat mengggunakan cara memberi model, dorongan, dan, yang paling kuat, dengan pengundangan hasil. Oleh karena itu, kelompok klien, seperti wanita yang mungkin memiliki kesempatan kecil untuk terlibat dalam aktivitas tertentu karena penentuan jenis kelamin, mendapat keuntungan dengan penggunaan teori ini. Lent, Brown, dan Hackett (2002) juga menyarankan bahwa SCCT sangat berguna dalam pekerjaan dengan kelompok lain, seperti anggota etnis dan ras minoritas, yang karena diskriminasi atau kemiskinan, memiliki kesempatan lebih sedikit untuk terlibat dalam aktivitas yang berhubungan dengan pekerjaan. Para peneliti ini menunjukkan bahwa teori tersebut berhasil dilaksanakan untuk wanita yang dipenjara, wanita lesbian, pria gay, dan orang dewasa yang sakit jiwa.
Lent dan koleganya (2002) merekomendasikan dua aplikasi konseling karir SCCT. Pertama dimulai dengan mengumpulkan data tes tradisional mengenai kebutuhan-kebutuhan, nilai-nilai, dan bakat, sama dengan yang ditawarkan oleh Dawis (1996), sebagaimana telah dibahas di bab 2. Data ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi keahlian yang telah dikembangkan dan situasi dimana keahlian tersebut bisa digunakan sedemikian rupa sehinggga akan mengakibatkan kepuasan.
Aplikasi kedua yang disarankan Lent dan koleganya (29002) melibatkan penggunaan berbagai macam kartu pekerjaan yang dimodifikasi sebagai representasi pekerjaan untuk struktur jabatan.
Akhirnya, rekomendasi-rekomendasi untuk konseling karir diberikan oleh Mitchell dan Krumboltz (1996) pada bagian sebelumnya harus diuji untuk diterapkan pada SCCT. Meskipun Lent dan koleganya serta Krumboltz mendapatkan berbagai macam kesimpulan dalam teori mereka, kedua teori tersebut berdasarkan pada teori pembelajaran dan berkaitan erat dengan teori pembelajaran sosial dari Albert Bandura (1977, 1986)

Model Pemrosesan Informasi Karir untuk Pilihan Karir
Model Pemrosesan Informasi Karir (CIP) pertama kali dikenalkan pada tahun 1991 (Peterson, Sampson, & Reardon, 1991) dan baru-baru ini direvisi (Peterson, Sampson, & Reardon, 2002). Sebagaimana model kognitif sosial diatas, model omo berdasarkkan pada teori pembelajaran. Meskipun begitu, berbeda dengan Lent, Brown, dan Hacket, yang bersandar penelitian Bandura sebagai dasar teori mereka, Peterson dan koleganya mendukung cabang teori pembelajaran yang fokus pada pemrosesan informasi. Terlebih lagi, mereka mendukung penelitian Meichenbaum (1977), ahli terapi kognitif, sebagai dasar beberapa rekomendasi mereka untuk intervensi pada permasalah hkarir.
Gambar 3.1 adalah representasi grafik teori CIP. Gambar tersebut menunjukkan bahwa, dengan mempertimbangkan keputusan karir, orang harus mengembangkan dua tipe pengetahuan: pengetahuan diri dan pengetahuan mengenai karir. ketika tiba waktunya untuk membuat kepustusan karir, para individu mendukung keahlian pemrosesan informasi generik yang telah mereka kembangkan, digolongkan dengan akronim CASVE: komunikasi, analisa, sintesis, penilaian, dan pelaksanaan. Fase komunikasi (C) dimulai dengan sinyal dari dalam atau luar organisme yang mengalami masalah. Sebagai respon terhadap sinyal ini, individu mencoba untuk menentukan aspek (A) masalah. Pada tingkat sintesis (S), indivigu membangkitkan solusi potensial dan kemudian mengidentifikasi pilihan yang realistis. Pada tingkat penilaian (V) analisa biaya-keuntungan dilakukan berdasarkan sistem nilai individu, akhirnya, rencana-rencana dikembangkan dan dilaksanakan (E) untuk mengikuti beberapa alternatif yang telah dipilih.
Metakognisi mengacu pada puncak piramida (gambar 3.1) adalah fungsi-fungsi kognitid yang penting untuk memonitor dan mengatur proses pengambilan keputusan. Termasuk dalam hal ini adalah perolehan, penyimpanan, pengembalian, dan pemrosesan informasi yang sesuai dnegan permasalahan karir yang dihadapi. Termasuk metokognitif primer adalah bicara pada diri sendiri, kesadaran diri, monitoring dan kontrol. Agar pengambilan keputusan bisa optimal keseluruhan bicara pada diri sendiri ini harus positif (contoh “saya seorang pembuat keputusan yang baik”; banyak yang bisa saya lakukan”). Kesadaran diri adalah metakognisi yang menjaga pembuat keputusan bekerja dengan menghasilkan realisasi-realisasi bahwa merekalah yang paling terlibat dan dengan mencegah faktor-faktor yang tidak berguna. Fungsi monitoring dan kontrol memiliki dimensi temporal (dimanakah posisi saya dalam proses pengambilan keputusan? Dan, dimana saya harus berada saat ini?). metakognisi ini juga menjadikan orang tahu kapan mereka telah mengumpulkan cukup informasi, kapan mereka harus mundur kembali, dan kapan tiba waktunya untuk bergerak tingkat demi tingkat dalam proses tersebut.
Paling mendapat perhatian dari konselor karir dan psikolog konseling adalah ketika klien, karena alasan apapun, bukan merupakan pembuat keputusan yang baik. The Career Thoughts Inventory (CTI) (Sampson, Peterson, Lenz, Reardon, & Saunders, 1996) dikembangkan untuk mendiagnosa berbagai macam aspek permasalahan pengambilan keputusan, CTI memiliki item-item yang berhubungan dengan setiap bagian yang ditunjukkan gambar 3.1, termasuk proses-proses eksekutif, Siklus Casve, pengetahuan diri, dan pengetahuan mengenaipekerjaan. Instrumen ini harus membuat teori CIP berguna bagi para praktisi dan mungkin memicu penelitian juga.
Status dan Kegunaan the Career Information-Processing Model model CIP Pertama kali dipublikasikan pada tahun 1991. Sampai saat ini penelitian dan tulisan mengenai model ini merupakan hasil usaha para penulis teori. Aplikasi model CIP dimulai dengan menilai kesiapan individu untuk membuat pilihan-pilihan karir yang masuk akal serta kemampuan kognitif dan afektif untuk membuat pilihan-pilihan tersebut. Ketika menilai kesiapan, konselor karir menguji empat faktor :
• Tingkat pengetahuan diri tinggi dan kesediaan untuk menggunaan pengetahuan itu dalam proses pengambilan keputusan.
• Kesediaan untuk menjelajahi dunia kerja
• Motivasi untuk belajar mengenai dan terlibat dalam proses pengambilan keputusan
• Kesadaran diri tentang bagaimana pikiran negatif mempengaruhi pemecahan masalah dan kesediaan untuk meminta bantuan ketiak diperlukan.
Faktor kedua yang mendapat perhatian konselor karir adalah apa yang diistilahkan oleh Peterson dan koleganya (1991) faktor konpleksitas. Sependek-pendeknya, kompleksitas menunjukkan pada faktor-faktor konteksual yang kemungkinan besar akan mempengaruhi proses. Termasuk dalam hal ini adalah variabel keluarga, organisasi yang memperkerjakan, masyarakat luas, variabel ekonomi, dsb. Para peneliti ini menyimpulkan bahwa orang mungkin akan mengatasi faktor-faktor kognitif, seperti harapan mengenai diskriminasi , atau faktor-faktor kontekstual yang rumit. Kesiapan dapat dinilai menggunakan the Career Thoughts Inventory (Sampson dkk., 1996), yang terdiri dari tiga skala: kebingungan pengambilan keputusan, kecemasan komitmen, dan konflik eksternal.
Peterson dan koleganya (2002) memberikan garis besar model tujuh langkah untuk konseling karir. berikut ini langkah-langkah tersebut beserta penjelasannya:
1. Wawancara awal. Konselor karir bertemu dengan klien untuk membina hubungan mereka, menjelaskan proses konseling karir, dan mengklarifikasi kebutuhan klien. Sebagai kesimpulan sesi ini , klien diberikan informasi mengenai proses yang dapat ditinjau kembali kemudian.
2. Penilaian pendahuluan. Konselor dan klien menetukan kesiapan klien untuk terlibat dalam pengambilan keputusan karir.
3. Mendefinisikan masalah dan menganalisa kasus satu sama lain
4. Memformulasikan tujuan.
5. Mengembangkan encana pembelajaran individu. Pertimbangkan sumber yang bisa dihubungi dan aktivitas-aktivitas yang akan membantu klien mencapai tujuannya.
6. Menerapkan rencana pembelajaranindividu.
7. Evaluasi pencapaian tujuan. Bantu klien untuk menggunakan keahlian dan pengetahuan yang telah diperoleh untuk pengambilan keputusan di masa depan.
Terdapat sejumlah informasi mengenai penerapan model CIP pada klien dari ras dan etnis minoritas; orang cacat; gay, lesbian, biseksual, dan transeksual. Jelas sekali bahwa model ini terutama diterapkan pada orang yang berkeinginan untuk mengambil keputusan mereka sendiri, terlebih lagi, CTI (Sampson dkk, 1996) mengganggu; klien harus melaporkan pemikiran mereka dan hal ini mungkin tidak sesuai digunakan pada budaya minoritas seperti orang asia amerika dan orang amerika asli.

TEORI_TEORI POSTMODERN
Teori Karir Kontekstualis
Sebagaimana telah disebutkan pada pendahuluan bab ini, salah satu teori yang dikemukakan mendasarkan pada konstruktivisme sebagai lawan dari positivisme. Teori tersebut adalah teori kontekstualis (Young, Valach, & Collin, 2002). Young dan koleganya menyarankan bahwa pendekatan dikotomis yang digunakan para ahli teori sikap-dan faktor untuk menggambarkan orang dan lingkungan kerja tidak sesuai. Mereka percaya bahwa satu-satunya jalan untuk memahami individu adalah dalam konteks lingkungannya ketika mereka menagalami dan memikirkannya atau arti dari pengalaman-pengalaman tersebut.
Kontekstualis tidak percaya bahwa tindakan individu disebabkan oleh kejadian masa lalu atau saat ini. Perilaku yang berhubungan dengan karir adalah hasil-hasil yang mengarahkan pada tujuan dari konstruksi individu tentang konteks dimana dia berfungsi. Untuk memahami sebuah peristiwa, seseorang harus memulainya dengan peristiwa tersebut, menentukan pandangan individu mengenai peristiwa tersebut, dan melanjutkan dari titik tersebut.
Young, Valach, dan Collin (2002) tetap berpendapat bahwa tindakan-tindakan yang diambil berkenaan dengan karir melibatkan serangkaian perilaku berorientasi tujuan yang ditunjukkan secara simultan oleh individu dan sosial konteks dimana mereka berpartisipasi. Mereka membagi aksi menjadi tiga bagian: perilaku yang tidak dapat diobservasi, proses internal yang tidak dapat diobservasi, dan arti atau hasil sebagaimana diinterpretasikan oleh individu dan orang lain yang mengawasi tindakan. Aksi-aksi bersama, sebagaimana pada konseling karir, terjadi antar orang. Dalam proses ini, tujuan bersama dibentuk, dan para pemain terlibat dalam aksi bersama yang juga memiliki arti personal dan sosial. Proyek-proyek adalah aksi individu atau bersama jangka panjang, seperti mempersiapkan karir. ketika orang membentuk arti diantara aksi-aksi dan proyek-proyek, mereka bisa terlibat dalam usaha seperti karir.
Tindakan-tindakan bertempat pada serangkaian langkah berurutan yang terjadi dalam sosial konteks dimana tindakan tersebut tak terpisahkan. Arti yang berhubungan dengan tindakan dan proyek yang berhubungan dengan karir diinterpretasikan tidak hanya dari segi konteks yang terjadi tetapi juga tujuan individu (Young dkk 2002). Interpretasi-interpretasi juga dipengaruhi oleh jenis kelamin dan budaya aktor karena berbagai macam persepsi yang berkembang sebagai hasil dari variabel-variabel tersebut. Interpretasi terjadi pada dua tingkat: konteks saat ini, yang dibangun dalam aliran tindakan, dan konteks masa depan yang diantisipasi. Untuk menggambarkan kejadian ini, para indivivu membangun cerita-cerita yang merupakan interpretasi temporer dari kejadian hidup yang menyinggung karir. jika para individu ditanya, mengapa anda memasuki karir anda saat ini?, mereka membuat cerita berdasarkan pada interpretasi kejadian-kejadian yang mengarahkan mereka pada karir mereka sebagaiaman mereka menginterpretasikan apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang yang menanyakan pertanyaan tersebut. Salah satu peran konselor karir adalah membantu klien untuk memproyeksikan cerita mereka dalam konteks masa depan.
Tersedia sejumlah publikasi yang mengilustrasikan bagaimana teori kontekstual dapat diterapkan dalam konseling karir (contoh Savickas, 1995; Young dkk., 2002). Savickas (1995) menyarankan pendekatan lima langkah yang dimulai dengan cerita –cerita menyenangkan yang mengarahkan pada identifikasi tema. Tema-tema sering disebut sebagai ide mengenai hakikat masalah karir. apabila tema atau beberapa tema telah tergambar, konselor “bercerita” atau menggambarkan tema pada klien. Klien dan konselor kemudian menginterpretasikan permasalahan sesuai dengan tema, mengedit atau mengubah tema, dan memperpanjangnya sampai masa depan. Langkah akhir dalam proses ini mencakup membantu klien mengembangkan keahlian-keahlian perilaku yang dibutuhkan untuk menerapkan tema naratif masa depan yang telah dikembangkan.
Status dan Kegunaan Teori-teori Kontekstualis. Pemikiran konsekstualis mendapat perhatian cukup besar dan telah membangkitkan sejumlah artikel menenai proses konseling karir (lihat Young dkk, 2002). Aplikasi-aplikasi teori ini akan didiskusikan kemudian di bab ini.
Dinamika Kompleksitas, Kekacauan, dan Nonlinier: Teori Kekacauan tentang Pengembangan dan Spiritualitas Karir
Bloch (2005) memulai penjelasan teorinya dengan memberikan daftar karakteristik-karakteristik entitas adaptif, dimana salah satunya adalah karir. karakteristik-karakteristik tersebut digambarkan dibawah ini.
1. Entitas-entitas adaptif memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri meskipun bentuk dan komponen mereka berubah.
2. Mereka adalah sistem-sistem terbuka, mengambil energi dari lingkungan dan sebagai balasannya memberikan energi.
3. Mereka merupakan bagian dari jaringan, menggunakan pertukanran sumber daya. Jaringan ini dapat dilukiskan sebagai lingkaran-lingkaran konsentris yang saling terkait dan semakin melebar (hingga efek kupu-kupu)
4. Mereka merupakan bagian dari entitas lain. Bagian-bagian tersebut dinamakan fraktal.
5. Mereka dinamis dan karenanya semakin berubah. Dalam proses perubahan bentuk dan komponen ini, mereka bergerak antara keteraturan dan kekacauan.
6. Mereka melalui transisi dan selama periode ini mencari kecocokan puncak yang memaksimalkan kesempatan bertahan.
7. Merka berperilaku secara tidak linear karena peristiwa-peristiwa ganda dan tak dapat dijelaskan.
8. Mereka bereaksi sehingga perubahan kecil akan mengakibatkan efek yang besar.
9. Mereka bergerak melalui transisi. Mereka mungkin berulangkali kembali pada keadaan yang sama ( titik attractor), berputar dari satu titik ke titik lainnya dalam ayunan attractor , atau bergerak dalam lingkaran, tetapi nonkonsentrik, pola-pola (torus attractor)
10. Fraktal bisa menciptakan fraktal baru ketika mereka bergerak melalui transisi.
11. Fraktal ada hanya sebagai bagian dari realitas yang berasal dari semesta; mereka interindependen. Spiritualitas adalah mengalami kesatuan dengan alam ini.
Bloch menerapkan 11 prinsip ini dalam teori perkembangan karirnya. Dia mengindikasikan bahwa orang membangkitkan kembali karir mereka secara terus-menerus, bergerak bebas dalam jalur karir. karir-karir adalah fraktal-fraktal dan merupakan bagian dari kehidupan seseorang, dan mereka, sebagai balasannya, adalah badian dari jaringan yang dihubungkan yang membentuk dan membentuk kembali diri mereka. Karena mereka bekerja dan berpartisipasi dalam karir mereka, orang mengalami perhubungan sumber daya dan energi sama dengan yang terjadi pada fraktal, karir beberapa orang dan bahkan hidup mereka, berada pada berurutan dan kekacauan. Perubahan kecil dalam karir seseorang sering mengakibatkan perubahan besar yang tak terantisipasi. Ketika orang mengalami transisi, yang mungkin atau mungkin tidak merupakan proses terus menerus, pencarian mereka terhadap karir baru mencadi pencarian pada puncak kecocokan, atau apa yang diharapkan terbaik oleh seseorang. Meskipun begitu beberapa orang “terjebak” dalam pola dimana beberapa perubahan kembali pada status kuo.beberapa orang berputar dari satu tempat yang dapat dijelaskan ke tempat lainnya (dari stu kerja ke kerja lainnya), dan beberapa hanya berputar-putar dalam lingkaran saja. Karir menjadi masuk akal hanya jika diuji mengunakan logika nonlinear. Perpindahan dalam karir dan bentuk dan keadaan yang diinginkan tidak dapat diprediksi; mereka hanya bisa dipahami secara fenomena, yaiut, dari prespektif individu.
Status dan Kegunaan Teori-Teori Posmodern. Terlalu dini untuk mengatakan apakah teori Bloch (2005) akan diikuti oleh banyak orang, tetapi boleh kita katakan bahwa banyak profesional setuju dengan filosfi yang mendasari teorinya, terutama idenya bahwa konseling karir adalah konseling spiritual. Meskipun dua belum mengucapkanpendekatan menyeluruh pada konseling karir, dia dan Lee Rich mond (Bloch & Richmonf, 1998) mengidentifikasi tujuh konektor yang bisa membantu klien memperoleh atau mempertahankan hubungan antara kerja dan spiritualitas.
1. Klien mempertahankan keterbukaan untuk berubah dalam hidup mereka dn mengembangkan kapasistas untuk bereaksi terhadap kejadian yang tidak direncanakan (Krumboltz 1998).
2. Klien menyeimbangkan aktivitas dalam hidup mereka antara keluarga, pekerjaan, waktu senggang, dll.
3. Klien mengembangkan energi sehingga mereka merasa mereka bisa melakukan apa yang mereka kehendaki.
4. Klien dapan bekerja di komunitas- berkolaborasi.
5. Klien dapat mengembangkan rasa bahwa bekerja adalah panggilan spiritual dimana dia menerapkan nilai-nilai dan kemampuan-kemampuan.
6. Klien dapat bekerja dlam suasana yang sesuai dengan talenta dan nilai mereka.
7. Klien dapat mengembangkan rasa bahwa bekerja memiliki arti spiritual yang melebihi ekonomi karena, baik langsung maupun tidak, bekerja itu melayani orang lain.
Bloch mengembangkan Salient Connecting Spirit and Work (SBR) untuk mengukur kecocokan antara nilai yang dipegang individu dan organisasi dimana mereka bekerja. Ketujuh konektor yang ditulis diatas mejadi landasan SBR.

Konseling Karir Postmodern
Tujuan konseling karir menurut prespektif kontekstualis adalah membantu klien untuk menyusun karir di masa depan. Termasuk tindakan bersama antara konselor dan klien, berlawanan dengan teori yang berdasarkan pada modernisme, yang melukiskan konselor dan klien memiliki dua peran yang berbeda. Tindakan bersama berarti bahwa tujuan bersama mungkin muncul dalam proses. Berbeda dengan situasi yang digambarkan pada titik ini, tujuan bersama tidak ditentukan sebelumnya; mereka timbul secara spontan dari proses. Termsuk contoh dari tujuan perkembangan dan pengungkapan cerita nyata dari klien, cerita-ceritanya. Pengambilan tindakan didorong oleh ikatan antara klien dan konselor yang berperan untuk mendorong penciptaan cerita hidup, yang terdapat dalam karir usaha patungan. Young, Valach, dan Collin (2002) mengindikasikan bahwa teori mereka menekankan pada tujauan, sehingga beberapa orang postmodernisme menolaknya karena hal ini membuat teori terlalu rasional. Mereka segera menambahkan bahwa, dalam teori mereka, tujuan hanya merupakan salah satu dasar pengaturan tindakan dan sering tujuan timbul sejara spontanitas dari kejadian nyata dan tidak ditentukan sebelumnya.
Young dan koleganya (2002) meningdikasikan bahwa aspek terpenting dalam konseling karir adalah interpretasi, yang melibatkan pemahaman pengalaman klien. Ketika klien menceritakan kisah hidup mereka, konselor dan klien secaa spontasn menginterpretasikan cerita dalam usaha pembentukan arti. Bagi konselor, tujuan proses interpretasi adalah (1) untuk mengetahui pandangan klien; (2) untuk membantu klien peduli terhadap konseptualisasinya dan bagaimana hal tersebut dapat dilakukan dalam rentang hidup mereka; (3) untuk mendukung klien dalam penerapan gagasan-gagasan; dan (4) untuk mempertahankan konstruksi klien dan tidak meninggalkannya demi ide-ide yang lebih ilmiah seperti tipe sifat dan kepribadian. Proses ini harus membuat klien untuk mengidentifikasi gagasan-gagasan yang berhubungan dnegan pilihan-pilihan karirnya. Sering kali terjadi, gagasan-gagasan akan memiliki arti di luar batasan-batasan lapangan pekerjaan. Setelah gagasan-gagasan diidentifikasi dan dinilai atau ditolak, para klien yang berhasil akan memprioritaskan dan mengintegrasikan gagasan-gagasan tersebut pada tema-tema tertentu, seperti kemampuan-kemampuan dan nilai-nilai. Ketika tema dalam cerita berubah, prespektif klien berubah (Savickas, 1997).
Pendekatan kelompok konstruktivis dinilai bebas, setidak-tidaknya dalam teorinya. konselor karir mengesampingkan nilai-nilai mereka selama sesi-sesi ini dan bergabung dengan klien dalam proses menciptakan cerita kehidupan yang akan mendorongnya dalam kesempatan karirnya. Prespektif bebas nilai ini membentuk pemikiran dan teori postmodern, sebagaimana yang dibuat oleh Young dan koleganya, ideal untuk digunakan untuk seluruh kelompok, termasuk etnis minoritas. Dengan bebas nilai, konselor dapat bekerja dengan klien dalam proses bantuan tanpa diikat oleh sistem kepercayaan konselor.

Pendekatan Kedua pada Konseling Karir Postmodern:
Konseling Karir Ringkas Terfokus pada Pemecahan Masalah (SFBCC)
Sebagaiman telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, banyak dari ahli teori postmiodern, seperti Bloch (2005) dan Neimeyer (1992), menekankan pentingya menarik cerita klien untuk membantu mereka mengidentifikasi gagasan-gagasan mereka dan mengintegrasikan gagasan mereka pada perencanaan masa depan. Savickas (1995) juga berada pada posisi ini. Dlam edisi kedelapan, pendekatan postmodern pada konseling karir berdasarkan penelitian Shazer (1985) dipresentasikan. Amundson (2003) mempresentasikan filsafat postmodern serupa, tetapi dia menambahkan sebuah langkah yang dinamakan seond-order questioning, yang terdapat pada presentasi ini, berikut ini urutan SFBCC: (1) klien mengidentifikasi masalah untuk dikenali; (2) klien mengidentifikasi perubahan (tujuan) yang dilakukan dan membuat skala tujuan; (3) klien didorong untuk mencari penecualian, yaitu, waktu dimana mereka bisa memecahkan masalah serupa; (4) klien mengidentifikasi kekuatan personal dan strategi yang diterpakan pada keberhasilan sebelumnya yang bisa digunakan untuk memecahkan masalah yang teridentifikasi; (5) konselor dan klien meninjau ulang tujuan, membuat skalanya, dan mengembangkan sebuah rencana untuk memecahkan kembali atau mengurangi akibat masalah yang ditemui; dan (6) konselor boleh terlibat dalam menanyakan urutan kedua jika klien “macet.” Masing-masing langkah ini akan segera dijelaskan lebih mendetail, teapi sebelum dijelaskan harus dicatata bahwa SFBCC tidak dikembangkan untuk mengenali masalah kesehatan mental, seperti depresi dan kecemasan tentang keputusan. Oleh karena itu, jika permasalahan kesehatan mental menjadi penghalang proses konseling karir, konselor harus mengenalinya dengan menggunakan pendekatan seperti pendekatan perilaku kognitif sebelum melanjutkan dengan konseling karir.

TEORI-TEORI SOSIOEKONOMI
Teori-teori yang telah dijelaskan sejauh ini pada dasarnya berdasarkan pada psikologis dimana mereka berpendapat bahwa individu-individu memiliki kontrol terhadap hidupnya. Meskipun sebagian besar ahli teori akan setuju bahwa tingkat kontrol berbeda antara individu yang satu dan lainnya dan dari satu situasi ke situasi lainnya, mereka juga setuju bahwa proporsi bahwa individu memang memiliki kontrol dan adalah tugas konselor karir untuk meningkatkan tingkat pengarahan diri.
Berbeda dengan para psikolog, sosiolog dan ahli ekonomi cenderung memperhatikan perilaku kelompok kecil dan besar. Pasa sosiolog sering memfokuskan pada kelompok kecil seperti keluarga, tetapi mereka mungkin memperhatikan kelompok besar seperti wanita atau kelompok minoritas. Beberapa ahli ekonomi mungkin fokus pada kekuatan ekonomi yang mempengaruhi pengembangan karir seluruh angkatan kerja, seperti ekonomi global, apa yang disebut dengan pasar tenaga kerja dual, atau akibat persediaan dan tuntutan pekerja mengenai gaji dan masa kerja. Hotchkiss dan Borow (1990, 1996) melaporkan peningkatan penekanan oleh para psikolog dan ekonom terhadap variabel-variabel struktur, seperti status ekonomi; rintangan pengembangan karir, seperti diskriminasi dan pemisahan pekerjaan; dan pertimbangan-pertimbangan pasar tenaga kerja yang mempengaruhi karir. pendekatan inklusif ini sangat menekankan pada faktor-faktor di luar kontrol individu daripada pendekatan-pendekatan peikologis terhadap titik ini.

Teori Pencapaian Status
Menurut Hotchkiss dan Borow (1984,1990,1996), publikasi The American Occupational Structure (Blau & Duncan, 1967) menandai kedatangan teori pencapaian status (SAT). pada awalnya, SAT mengusulkan bahwa status sossioekonomi sebuah keluarga mempengaruhi pendidikan, yang pada gilirannya mempengaruhi pekerjaan yang dimasuki. Variabel-variabel setelahnya, seperti kemampuan mental dan apa yang diistilahkan social-psychological processes, ditambahkan pada model ini. Hotchkiss dan Borrow (1996) menyarankan bahwa, sebagaimana keadaan model saat ini, asumsi dasarnya adalah status keluarga dan variabel kognitif berkombinasi melalui proses sosial-psikologis untuk mempengaruhi pencapaian pendidikan yang pada gilirannya mempengaruhi pencapaian pekerjaan dan penghasilan. Beberapa sosiolog dan ekonom mengkritisi SAT karena terlalu menyederhanakan dan mencari alternatifnya. Contohnya, beberapa diantara mereka mencoba menjelaskan pencapaian pekerjaan dengan memfokuskan pada tipe perusahaan dimana individu bekerja.

Teori Pasar Tenaga Kerja Dual
Teori pasar tenaga kerja dual mengusulkan dua tipe bisnis dalam pasar tenaga kerja kita: inti dan peripheral (sekeliling). Perusahaan inti memiliki pasar tenaga kerja internal yang kurang lebih memiliki jalur karir yang baik dan menawarkan kesempatan untuk meningkatkan mobilitas. Perusahaan ini memiliki peran dominan dalam pasar dimana mereka berkompetisi. Mereka menggunakan teknologi dan peralatan lain untuk meningkatkan posisi mereka di pasar. Perusahaan peripheral tidak membuat komitmen jangka panjang pada pegawai mereka. Bahkan pekerja dibayar per pekerjaan dan diusir ketika tidak lagi dibutuhkan. Para pekerja di perusahaan semacam ini hanya memiliki sedikit kesempatan untuk meningkatkan mobilitas menurut teori dan penilitian yang mendukung penilaian ini (Hotchkiss & Burrow, 1996)

Ras, Jenis Kelamin dan Karir
Para sosiolog berada di garis terdepan dalam penelitian mengeani akibat ras dan gender terhadap pencapaian pekerjaan dan pendapatan. Penelitian ini secara konsisten telah menunjukkan bahwa orang pendapatan Afrika Amerika lebih rendah dari orang kulit putih (contoh Saunders, 1995). Data gaji mengenai pria dan wanita juga menunjukkan pola serupa, dengan pendapatan wanira secara konsisten lebih rendah dari pria (contoh Johnson & Mortimer, 2002; Reskin, 1993; Roos & Jones, 1993). Penelitian Reskin juga menunjukkan bahwa pria dan wanita dipisahkan di tempat kerja dengan wanita lebih sering dipindahkan pada pekerjaan dengan pendapatan dan status lebih rendah.
Status dan Kegunaan Teori-teori Sosioekonomi. Teori-teori sosioekonomi telah dikembangkan pada praktek lebih masju. Tujuan mereka adalah untuk membantu meningkatkan pemahaman faktor-faktor sosiologis dan ekonomispada pilihan dan pengembangan karir (Hotchkiss, Borow, 1996; Johnson & Mortimer, 2002). Teori-teori ini, dan penilitian yang berasal darinya, mengindikasikan bahwa struktur kesempatan tidak sama untuk semua kelompok. Individu adalah variabel penting dalam pemikiran sosiologis, yang terutama berkenaan dengan variabel-variabel seperti ras, etnis, prestasi akademik, dan jenis kelamin yang semuanya telah diteliti secara ekstensif. Meskipun begitu, para sosiolog cenderung untuk mempertimbangkan konteks sosial dimana seseorang tumbuh, berkembang, dan bercita-cita dibandingkan para psikolog dan konselor. Status sosial keluarga dalam hubungannya dengan pilihan pekerjaan menjadi sebuah variabel yang sangat diperhatikan para psikolog selama beberapa dekade dan ditemukan sebagai peramal yang kuat mengenai puncak pencapaian pekerjaqan. Penelitian, seperti pemisahan pekerjaan wanita dan stratifikasi sosioekonomi kelompok minoritas, harus berperan untuk mengingatkan para konselor karir dan lainnya bahwa dibutuhkan usaha yang luar biasa dalam praktik dan advokasi jika terdapat permasalahan yang telah berlangsung lama.

TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Setiap teori yang dibahas dalam bab ini menggabungkan pengambilan keputusan sebagai sebuah aspek penting dari pilihan karir dan pengembangan karir. Bagaimanapun dengan pengecualian dari teori pembelajaran sosial Kumblotz (1979), sebagian besar memberikan tanggapan yang kecil terhadap bagaimana individu membuat keputusan-keputusan itu. Tujuan dari bab ini adalah untuk mengingatkan pembaca betapa pentingnya proses ini, untuk melihat kembali dengan jelas beberapa permulaan besar untuk memahami proses pengambilan keputusan, dan untuk membawa pembaca ke diskusi yang lebih luas tentang topik ini.
Japson dan Dilley 1974) serta Wight (1984) memberikan pembaca beberapa model diskusi yang relevan. Jepson dan Dilley membagi model yang mereka diskusikan kedalam 2 kelompok: model perspektif, yaitu model yang mendeskripsikan bagaimana keputusan sebaikmnya dibuat, dan model deskriptif, yang menjelaskan bagaimana keputusan-keputusan sebenarnya dibuat. Mereka juga mengatakan bahwa proses meliputi seorang pengambil keputusan dan situasi dimana terdapat 2 alternatif atau lebih yang membawa hasil potensial dari faktor-faktor penting untuk pembuat keputusan. Hal-hal yang penting dari proses ini adalah untuk mengidentifikasikan dan menentukan nilai-nilai relatif kepada altrernatif-alternatif dan konsekuensi mereka jadi dia dapat memaksimalkan hasilnya. Kami menguji secara jelas 2 model dari tiap-tiap tipe.
Mitchel (1975) memodifikasi sebuah model yang sebelumnya telah dikemukakan oleh Restle (1961) sehingga dapat diaplikasikan ke proses pengambilan keputusan dalam karir. Restle mengatakan bahwa pembuat keputusan mencocokan situasi yang dihadapi dengan pandangannya tentang sesuatu yang ideal kemudian memilih alternataif yang paling mirip dengan situasi yang ideal. Mitchel mengidentifikasikan 4 elemen yang dianut oleh pengambil keputusan.
1. Batasan mutlak yaitu faktor-faktor yang harus disajikan atau ditiadakan untuk alternatif agar menjadi aktif
2. Karakteristik negatif yaitu adlah aspek-aspek yang tidak diinginkan.
3. Karakteristik positif adalah aspek-aspek yang diinginkan.
4. Karakteristik netral adalah aspek-aspek yang ada namun tidak relevandengan pilihan yang dibuat.
Pengambil keputusan dapat menggunakan elemen-elemen ini dengan beberapa cara, sebagai pembanding, hanya katrakteristik-karakteristik positif, mengingat alterrnatif-alternatif satu demi satu mencocokan karakteristik positif dengan karakteristik negatif dan kombinasi-kombinasi lainya. Tuersky (1972) mengajukan sebuah model yang ia namai eliminasi oleh aspek-aspek. Pendekatan ini fokus pada semua pilihan secara serempak, dengan masing-masing pilihan mempunyai macam karakteristik. Pada model ini, karakteristik (misal pekerjaan keamanan) untuk tiap-tiap alternatif dicocokan, dan yang tidak sesuai dengan standar pengambil keputusan dieliminasi.
Contoh dari model deskriptif termasuk model pengharapan dari Vroom (1964) menggunakan dua persyaratan kunci dalam mengembangkan modelnya: valensi yang dapat diartikan sebagai pilihan dan harapan yang dapat diartikan sebagai kepercayaan, bahwa pilihan –pilihan dapat diwujudkan. Kedua aspek tersebut penting untuk masing-masing keputusan dan berpengaruh didalam proses. Paksaan atau tekanan untukmembuat sebuah pilihan khusus nsecara langsung berhubungan dengan jumlah valensi dari semua hasil dan kekuatan dari harapan-harapan yang dipilihnya akan muncul pada pencapaian hasil yang diinginkan.
Janis dan Mann (1997) beranggapan bahwa konflik terjadi ketika seseorang dihadapkan dengan mengambil sebuah keputusan, hal ini menimbulkan tekanan dan ketidakyakinan. Proses dimulai ketika pembuat keoutusan menjadi waspada akan ancaman yang ia rasa perlu untuk dipertimbangkan (misal suara alarm kebakaran). Proses ini berlanjut melewati beberapa langkah yang dapat digambarkan dengan runtutan pertanyaan yang jika dijawab dengan benar, memerlukan tindakan yang membawa ke pertanyaan berikutnya dan ketika dijawab dengan salah akan menimbulkan gangguan terhadap proses pengambilan keputusan. Pertanyaan-pertanyaan itu antara lain sebagai berikut.
1. Apakah beresiko rumit jika tidak saya ubah?
2. Apakah beresiko serius jika tidak saya ubah?
3. Dapatkah saya menentukan sebuah solusi aktif untuk masalah tersebut?
4. Apakah ada cukup waktu untuk mencari alternatif-alternatif aktif?
Individu yang menjawab pertanyaan terakhir secara benar dipertimbangkan berada dalam keadaan bahaya, dimana dapat diberikan perhatian untuk mempelajari informasi tentang kemungkinan-kemungkinan dan untuk menimbang keuntungan dan kerugian masing-masing kemungkinan. Hal ini dipertimbangkan menjadi situasi yang paling baik untuk mendapatkan keputusan yang tepat.
Konselor karir menghadapi sebuah dilema serius ketika membantu para klien dalam proses pengambilan keputusan. Sekarang tidak satupun dari model-model yang telah dijelaskan digabungkan kedalam teori-teori umum. Hal ini muncul seperti bahwa sebuah model dapat membantu beberapa klien dan beberapasituasi lebih baik dan yang lainya mungkin lebih meuaskan hasilnya untuk keadaan yang berbeda. Ironisnya, konselor harus menggunakan sebuah model dalam menentukan model mana yang sepertinya paling bagus untuk klienya saat ini.
Beberapa kesulitan yang besar bagi konselor berkisar pada ketidakmampuan untuk yakin pada penilaian karakteristik klien (misal seseorang tidak yakin terhadap motivasi klien, kejelasan memahami diri sendiri, dan keseksamaan dalammmenganggap dari beberapa faktor) sering tidak mungkin untuk yakin bahwa klien telah digabungkan dengan nilai paling pentingnya dan telah mengukurnya dengan tepat. Meskipun demikian, klien harus dibantu dan konselor harus meilih sebuah model atau kombinasi dari beberapa model yang muncul.
Status dan Kegunaan dari Teori Pengambilan Keputusan. Sebagian besar, bagian dari teori pengambilan keputusan telah digambarkan disini tidak memiliki aplikasi segera kecuali untuk membantu konselor karir memahami dengan lebih baik proses pengambilan keputusan untuk karir dengan satu pengecualian. Janis dan Mann (1997) mengembangkan lembar keseimbangan sebagai alat untukl membantu siswa SMA untuk menetukana kuliah lanjutannya.
Lembar keseimbangan juga dapat digunakan sebagai dasar untuk memilih karir. Sebuahy garis besar dari sebuah Lembar keseimbangan yang dimodifikasi dapat dilihat pada tabel 3.1. proses penggunaan Lembar keseimbangan adalah sebagai pertolongan untuk memulai pengambilan keputusan dengan menghilangkan semua tetapi mempertimbangkan 4-5 jabatan. Hal ini khususnya didasarkan berdasarkan faktor-faktor seperti sebuah perkiraan upah minimum yang akan diperoleh (saya ingin sebuah pekerjaan yang gajinya minimal $500 per minggu) wilayah geografis dimana pekerjaan itu dapat ditemukan (saya ingin kerja di tenggara karena keluarga saya ada disana ) persyaratan pendidikan (saya berkeinginan untuk pergi ke perguruan tinggi selama 2 tahun), dan sebuah keinginan (sebuah pekerjaan harus sesuai dengan keinginan saya), keinginan menginventaris, seperti kunci karir (Jones, 2005) yang tersedia dalam bahasa Inggris, Prancis, Korea, Cina dapat digunakan untuk mengidentifikasikan pekerjaan dikelompok berikut ini dan mungkin tempat untuk memulai proses memisahkan. Kunci karir yang meruapakan sebuah keinginan mengiventaris online, memproduksi tipe-tipe Hollan (1997) orang-orang yang menggunakan kunci karir, atau bantuan lainya yang mirip, sering menemukan lebih dari selusin jabatan yang cocok dengan profil hollan mereka. Hal ini mengarahkan ke kebutuhan untuk mengurangi jumlah alternatif pilihan yang mungkin. Individu dapat menggunakan faktor-faktor lain, seperti pekerjaan kantoran dan pekerjaan lapangan, dan pilihan untuk periode liburan yang lebih panjang,: pada proses menghilangkan pilihan.
Setiap kali pekerjaan dipilih kedalam kategorti dapat diterima dan tidak dapat diterima, individu melengkapi Lembar keseimbangan mengidentifikasi kriteria yang akan digunakan dalam membuat sebuah pilihan akhir. Beberapa kriteria yang sering digunakan dalam membuat sebuah pilihan akhir dapat dilihat pada tabel 3.1
Setiap kali kriteria yang digunakan memilih sebuah pekerjaan telah didaftar, langkah berikutnya adalah mengukur luas dimana tiap-tiap jabatan bertemu dengan masing-masing- kriteria ke sebuah derajat kecil dan 10 mengindikasikan bahwa ini memenuhi kriteria terhadap derajat yang dipertimbangakan. Setiap penilaian selesai, kolom-kolom ditotal dan diuji. Jika 2 atau lebih jabatan mempunyai rating yang sama, kriteria lain mungkin dubutuhkan untuk dipertimbangkan atau sebuah pengujian mendalam dari pilihan mungkin diperlukan untuk mempertimbangkan beberapa dari aspek –aspek yang tidak menonjol dari pekerjaan. Jika seorang klien mempertimbangkan jabatan-jabatan spesifik dan majikan-majikankhusus(misal ahli piranti lunak untuk Apple dan Microsoft) disarankan bahwa sifat dari para majikan ini ditambahkan pada daftar kriteria di tabel 3.1. kriteria ini dapat meliputi menguji nilai stok mereka, pendapatan, perlakuan terhadap wanita dan kaum minoritas, dan sejarah perekrutan, dan hjumlah dari variabel-variabel lasin. Akhirnya hal ini harus ditekankan kepada klien bahwa jumlah yang diperoleh dari Lembar keseimbangan adalah hanya sebuah arti dari menstimulasi pikiran mereka ntentang proses menganmbil pilihan. Ini sama sekali seperti sebuah individu yang pada akhirnya akan memilih sebuah jabatan yang merupakan salah satu dari yang memilikinilai evantitif paling tinggi.

Ringkasan.
Pilihan karir dan pengembangan teori berdasarkan pada teori pembelajaran dan filosofi modern telah disinggung di bab ini. Teori sosioekonomi dan mengambil keputusan juga telah ditutup. Teori pembelajaran memiliki beberapa persamaan, khususnya milik Kromboltz (Mitchel & Kromboltz) dan Lent dkk. (2002) jkarena m,ereka berdasarkan pada anggapan bahwa individu(sebagai lawan dari keluarga atau kelompok) akan menjadi pembuat keputusan, aplikasimereka terhadap orang-orang dengan nilai sosialtambahan menjadi terbatas. Ini bukan pembatasan dari teori postmodern. Teori sosioekonomi telah menghasilkan penelitian yang sebaiknya dianggap sebagai pengingat dari kebutuhan untuk melipatgandakan usaha kita dengan kelompok yang dicabut suaranya di budaya kita

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: