counceling

Konseling Karir

Posted on: Juni 30, 2009

PROGRAM PERKEMBANGAN KARIR DI INSTITUSI PENDIDIKAN

Membentuk dan Melaksanakan Program Perkembangan Karir Umum K-12 dalam Kerangka Kerja Model Nasional ASCA

Ada masa – masa penting dalam proses perkembangan karir. Walaupun, jika kita mengembangkan dasar untuk proses perkembangan mental, kita pasti menghadapi tahun tahun menguntungkan ketika para siswa bersekolah. Untungnya, Asosiasi Konselor Sekolah Amerika (ASCA, 2003) telah berperan penting di wilayah ini dengan menerbitkan ASCA model nasional: dalam Kerangka Kerja untuk Program Konseling Sekolah (ANM). ANM adalah kerangka kerja yang menekankan perkembangan karir, akademik, dan sosial. ANM memberikan uraian untuk mengembangkan program perkembangan karir umum. Kompetensi seharusnya dihasilkan dari suatu program, dan informasi yang berharga lainnya. Pada bab ini, membentuk dan melaksanakan program perkembangan karir umum K12 dasarnya seperti yang ditunjukkan oleh ANM. Maksudnya adalah menunjukkan bahwa perkembangan karir merupakan bagian dari kerangka kerja untuk program konseling sekolah tersebut tidak berdiri sendiri.

I. Latar Belakang Sejarah
Perkembangan karir merupakan proses yang tetap (Ginzberg, Ginzburg, Axelrad, dan Herma, 1951; Super, 1957) dan aspek penting dari perkembangan ini yang terjadi selama tahun – tahun sekolah. Lebih dari empat dasawarsa yang lalu, dorongan pendidikan dimaksudkan untuk mengembangkan perkembangan karir dari sekolah dasar, menengah dan atas. Yang paling berambisi dari program – program ini adalah gerakan pendidikan karir yang dikembangkan selama pelaksanaan Nixon yang dibawah kepemimpinan dan Pendidikan Kesekretarisan Sidney Marland. Banyak pengajar konselor yang terkemuka, termasuk K. B. Hoyt (2005) terlibat di dalam gerakan ini yang melihat pembentukan program ekstensif untuk membantu anak – anak dan dewasa memperluas wawasan karirnya, mempelajari kemampuan menentukan keputusan, membutuhkan kemampuan kejuruan, dan secara umum mengembangkan pengetahuan untuk diri mereka sendiri. Hoyt (1977) menjelaskan pendidikan karir sebagai berikut:

Pendidikan karir merupakan suatu usaha yang dimaksudkan untuk mengfokuskan pendidikan Amerika dan kegiatan masyarakat luas yang akan membantu orang – orang membutuhkan dan menggunakan pengetahuan, kemampuan, dan sikap yang perlu bagi setiap orang untuk melakukan kegiatan yang berguna, produktif dan memenuhi kebutuhan hidupnya (hal.5).

Marland (1974) menjelaskan delapan pendidikan karir yang dikenali oleh Pusat Penelitian Pendidikan Kejuruan di Universitas Negeri Ohio:

1. Kesadaran Karir – pengetahuan dari seluruh spektrum karir.
2. Kesadaran Diri – bagian pengetahuan untuk memberikan keputusan sendiri.
3. Penghargaan, Sikap – peran hidup, perasaan terhadap diri sendiri dan yang lain dalam menghargai masyarakat dan ekonomi.
4. Kemampuan Menentukan Keputusan – menggunakan informasi pada proses rasional untuk meraih keputusan.
5. Kesadaran Ekonomi – persepsi dari proses produksi, distribusi, dan konsumsi.
6. Kesadaran Kemampuan dan Kompetensi Awal – kemampuan dimana manusia menyampaikan perilakunya.
7. Kemampuan untuk Dapat Mengerjakan – kemampuan hubungan sosial dan komunikasi yang tepat pada penempatan karir.
8. Kesadaran Pendidikan – persepsi hubungan antara pendidikan dan tugas hidup (hal. 100 – 102).

Pada pertengahan 1980an, sebagian besar sisa – sisa gerakan pendidikan karir pada tahun 1970an yang telah diperluas dari sekolah Amerika dengan gerakan pendidikan dari yang terbelakang hingga dasar. Anjuran yang lampau hingga dasar itu sangat penting terhadap pendidikan karir di sekolah dasar yang mengfokuskan perhatian anak – anak terhadap pekerja, mengembangkan ketrampilan dengan cara melanjutkan pendekatan, dan bidang yang menjalankan tempat kerja karena kegiatan ini membutuhkan waktu yang jauh dari inti pokok persoalan. Walaupun, kegagalan pendidikan karir di sekolah dasar tidak bisa semata – mata diletakkan di ambang pintu dari gerakan terbelakang hingga dasar. Banyak kesalahan yang dibuat dalam perencanaan dan pelaksanaan program tersebut, termasuk (1) mereka dibiayai dengan dana luar negeri hingga sekolah negeri dengan tidak dirancanakan untuk memberikan dukungan keuangan dari dalam sekali lagi dana dari luar negeri itu diserahkan; (2) mereka menambahkan beban kerja dari kelompok yang melebihi batas: guru; (3) istilah pendidikan karir berhubungan secara negatif dengan pendidikan kejuruan pada banyaknya orang tua kelas menengah, mengenai anak – anaknya yang mungkin dialihkan dari kurikulum lanjutan perguruan tinggi; (4) dukungan politik lokal diantara pendidik, orang tua, dan lingkungan bisnis yang dikembangkan dengan tidak teliti dalam banyak contoh.
Walaupun, pendidikan karir, dan khususnya ide pendidikan dan karir seharusnya berhubungan, itu lebih ulet dari pada yang dipercaya banyak orang. Pada tahun 1989 Komite yang Menyelaraskan Informasi Pekerjan Nasional (NOICC, 1989a, b, c, d) menerbitkan empat terbitan luas yang menguraikan bagaimana perkembangan karir di sekolah – sekolah dan di tempat – tempat lain bisa dilaksanakan. Ini telah digabungkan kedalam terbitan pada tahun 1996 (Kobylarz, 1996). Pada tahun 1994 Sekolah yang Menyiapkan Kesempatan (STW) disahkan oleh kongres. Perundang – undangan tidak sabar menyediakan sekolah umum untuk mengembangkan program pendidikan yang menarik bagi semuanya, untuk menghubungkan pokok persoalan akademik untuk dilaksanakan, membantu siswa untuk mengenali minatnya , dan mendorong siswa untuk melakukan peencanaan pendidikan dan karir. Hasil pertumbuhan STW dan sekolah yang membentuk gerakan adalah pemakaian empat materi bagi siswa yang berharap lulus dari SMA di North Carolina. Pilihan kurikuler ini merupakan lompatan kesempatan, karir, teknik swasta, perguruan tinggi. Meskipun siswa yang mungkin mengalihkan materinya selama tahun – tahun SMAnya, mereka harus menyelesaikan semua persyaratan kurikuler dari satu diantara materi materi tersebut agar lulus.
Baru – baru ini organisasi profesional lain, Asosiasi Sekolah Konselor Amerika, menerbitkan Standar Nasional untuk Program Konseling Sekolah (Campbell dan Dahir, 1997), yang menekankan pentingnya mengembangkan kompetensi perkembangan karir di usia sekolah dalam konteks program konseling sekolah. Sekolah standar menetapkan lima standar yang digolongkan di bawah tiga area: perkembangan akademik, karir, pribadi/sosial. Standar untuk perkembangan karir mencakup (1) siswa seharusnya mengembangkan ketrampilan yang diperlukan untuk mencari dunia kerja yang ada hubungannya dengan dirinya sendiri dan menggunakan informasi ini untuk menentukan karir; (2) siswa akan menggunakan strategi – strategi untuk meraih pilihan dan kepuasan karir masa depan; dan (3) pelajar akan mengembangkan pemahaman dari hubungannya dengan kualitas, pendidikan, dan dunia kerja pribadi. Kemudian standar tersebut mulai mengenali kompetensi tertentu jika program konseling sekolah dikembangkan untuk memenuhi standar.
Penerbitan Standar Nasional untuk Program Konseling Sekolah (Campbell dan Dahir, 1997) merupakan pendahuluan pada penerbitan yang jauh lebih penting, salah satunya kelihatannya dipersiapkan untuk memiliki dampak yang besar pada program perkembangan karir K-12. Pada tahun 2003, ASCA Model Nasional: Suatu Kerangka kerja untuk Program Sekolah (ANM). Penerbitan yang mencakup standar nasional, juga menjelaskan proses untuk program konseling sekolah umum diantara komponen lain.

II. Model ASCA dan Perkembangan Karir

ANM mengandung apa yang “ASCA percaya terhadap bagian penting pada kualitas dan program konseling sekolah yang efektif” (ASCA, 2003, hal. 3) dan penjelasan singkat dari mekanisme penyampaian yang digunakan dalam program konseling umum. Ini juga mengandung daftar kompetensi bahwa siswa seharusnya berkembang sebagai hasil dari program konseling sekolah.
Seperti yang bisa dilihat pada gambar 11.1, ANM mengandung empat kompetensi. Ini merupakan dasar dari system penyampaian, keadaan untuk dapat dipertanggungjawabkan, dan system menejemen. Program dasar tersebut menyediakan dasar penyampaian dan system menejemen. Seperti panah pada model ilustarasi, fondasi untuk program konseling sekolah umum yang seharusnya berdasarkan pada pernyataan kepercayaan; pernyataan tugas.

Gambar 11.1 menurut bagan Nasional ASCA

Sumber: Dari model Nasional ASCA: Sebuah Kerangka Kerja untuk Program Konseling Sekolah. Ijin Cetak dari Asosiasi Konselor Sekolah, http://www.schoolcounselor.org.

Dan standar nasional untuk perkembangan akademik, karir, dan pendidikan. Standar perkembangan karir tidak semuanya murni. Campbell dan Dahir (1997) melaporkan bahwa standar pekembangan karir memiliki sumber dimana standar dikembangkan oleh NOICC (198a, b, c, d) seperti sumber lain.
Sistem penyampaian pada model ASCA meliputi strategi – strategi yang digunakan oleh konselor sekolah pada sistem penyampaian siswa dengan yang lain. Elemen – elemen di dalam sistem penyampaian diambil secara langsung dari model program bimbingan umum (Gysbers dan Henderson, 2000). Bimbingan kurikulum mengandung bimbingan kelas, struktur kegiatan kelompok, pendidikan orang tua, dan unit – unit kelas yang diajarkan oleh guru. Ini merupakan strategi dasar yang dipakai dalam penyampaian program pengembangan karir, dengan perkecualian perencanaan pribadi. Perencanaan siswa sendiri merupakan proses anjuran bahwa tugas yang perlu dijalankan sebagai dasar untuk saran dan perkembangan perencanaan karir dan pendidikan jangka panjang dan jangka pendek.
Pemberian saran termasuk guru, konsultasi orang tua, penyerahan, konseling, tanggapan permasalahan, dan kegiatan yang sama – sama difasilitasi. Konseling karir yang termasuk rubrik ketentuan informasi. Dukungan sistem yang melibatkan kolaborasi dengan pemegang pernyataan lain di dalam dan di luar sekolah, menejemen program konseling, dan perkembangan profesi. Kolaborasi antara bisnis dan agen seperti keamanan pekerjaan untuk memudahkan perkembangan dari masa training dan penempatan kerja.
Keadaan untuk dipertanggungjawabkan, bagian ketiga dari program tersebut, terdiri dari evaluasi keberhasilan sistem penyampaian dan kepribadian, dan penyebaran data dalam bentuk hasil laporan untuk mendukung kebehasilan program tersebut.
Bagian keempat, sistem menejemen, termasuk kapan, mengapa, dan wewenang siapa diantara berbagai aspek program yang dilaksanakan. Kapan program konseling sekolah mencakup kalender peristiwa dan rencana kegiatan. Mengapa berdasarkan data yang menganjurkan bahwa kegiatan yang diambil itu cocok, dan persoalan wewenang ditujukan melalui perkembangan persetujuan diantara ketua kelas dan sebagai penasehat untuk program tersebut.
Seperti yang dikemukakan sebelumnya, kandungan program konseling yang pertama kali dikatakan pada tahun 1997 pada Standar Nasional untuk Program Konseling Sekolah (Campbell dan Dahir, 1997). Sembilan standar untuk program konseling sekolah diperkenalkan yang berhubungan dengan tiga area yang diketahui. Standar ini termasuk dalam ANM; standar tersebut mendaftarkan kompetensi siswa dimana areanya dikembangkan oleh program konseling sekolah dan penunjuk yang terdapat pada kompetensi yang dikembangkan. Standar untuk wewenang perkembangan karir dan penunjuk kompetensi ditunjukkan pada tabel 11.1. Tabel ini merupakan versi yang dimodifikasi ASCA perkembangan dan kurikulum silang yang bisa digunakan untuk merencanakan satu segi program; bimbingan kurikulum.
Perencana program memiliki dua keputusan mengenai perkembangan kompetensi. Yang pertama berasal dari sudut perkembangan: pada usia berapa seharusnya kompetensi dikembangkan? Persoalan kedua melibatkan kegiatan dan materi – materi yang diperlukan untuk mengembangkan kompetensi. Seperti yang terdaftar sebelumnya, bimbingan kurikulum terdiri dari bimbingan kelas, kegiatan kelompok terstruktur, pendidikan keluarga,

Tabel 11.1

WEWENANG PERKEMBANGAN KARIR
STANDAR A: Siswa akan membutuhkan ketrampilan untuk meneliti dunia kerja yang berhubungan dengan pengtahuan diri dan menentukan keputusan karir yang diberitahukan.
Kompetensi A:1:Mengembangkan Kesadaran Karir Tingkat kelas Tanggal Kegiatan Materi Tanggung Jawab Seseorang
C:A1.1 Mengembangkan ketrampilan, untuk menempatkan, evaluasi, menafsirkan informasi karir
C:A1.2 Belajar mengenai berbagai penduduk tradisional dan nontradisional
C:A1.3 Mengembangkan kesadaran terhadap kemampuan pribadi
C:A1.4 Belajar cara berinteraksi dan bekerjasama dalam tim
C:A1.5 Belajar menentukan keputusan
C:A1.6 Belajar cara menentukan tujuan
C:A1.7 Memahami pentingnya rencana
C:A1.8 Mendorong dan mengembangkan kompetensi dalam bidang minat
C:A1.9 Mengembangkan hobi dan minat kejuruan
C:A1.10 Menyeimbangkan antara pekerjaan dan waktu luang
Kompetensi A:2: Mengembangkan kesiapan kerja

C:A2.1 Memerlukan ketrampilan terhadap kemampuan untuk dapat diperkerjakan, seperti bekerja dalam tim, pemecahan masalah, kemampuan dalam organisasi
C:A2.2 Ketrampilan kesiapan melamar kerja untuk mencari kesempatan kerja
C:A2.3 Menunjukkan pengetahuan tentang perubahan tempat kerja
C:A2.4 Belajar tentang hak – hak dan tanggung jawab atasan dan pegawai
C:A2.5 Belajar menghargai keunikan pribadi di tempat kerja
C:A2.6 Belajar cara menulis ringkasan
C:A2.7 Mengembangkan sikap positif kearah kerja dan pelajaran
C:A2.8 Memahami pentingnya tanggung jawab, hal yang dapat diandalkan, ketepatan waktu, kejujuran, dan usaha di tempat kerja
C:A2.9 Kemampuan memanfaatkan waktu dan pengelolaan tugas
Bersambung
Tingkat kelas Tanggal Kegiatan Materi Tanggung jawab Seseorang
STANDAR B: Siswa akan menggunkanan strategi untuk meraih tujuan karir dan kepuasan nantinya.

Kompetensi B:1:Kebutuhan Informasi Karir
C:B1.1 Menggunakan ketrampilan menentukan keputusan untuk perencanaan karir, seleksi mata pelajaran, dan perlaihan karir.
C:B1.2 Mengenali ketrampilan seseorang, minat, dan kemampuan, dan menghubungkannya dengan pilihan karir sekarang ini.
C:B1.3 Menunjukkan pengetahuan terhadap proses perencanaan karir
C:B1.4 Mengenali berbagai cara dimana pekerjaan bisa dikelompokkan
C:B1.5 Menggunakan sumber penelitian dan informasi untuk memperoleh informasi karir
C:B1.6 Belajar menggunakan internet untuk mengakses informasi perencanaan karir
C:B1.7 Menjelaskan pilihan karir secara tradisional dan non tradisional
C:B1.8 Memahami bagaimana merubah kebutuhan ekonomi dan sosial yang mempengaruhi trend dan pelatihan nantinya.
Kompetensi B:2: Mengenali Tujuan Karir
C:B2.1 Menunjukkan kesadaran terhadap pendidikan dan pelatihan yang diperlukan untuk meraih tujuan karir
C:B2.2 Menilai dan mengubah rencana pendidikan untuk mendukung tujuan karir
C:B2.3 Menggunakan kemampuan untuk dapat mengerjakan dan ketrampilan kesiapan kerja dalam masa training, menasehati, menaungi dan/atau pengalaman kerja lain
C:B2.4 Menyeleksi tugas mata pelajaran yang berhubungan dengan minat karir
C:B2.5 Memelihara portfolio perencanaan karir
STANDAR C: Siswa akan memahami hubungan antara kualitas pribadi, pendidikan, pelatihan, dan dunia kerja
Kompetensi C:1:Memerlukan Pengetahuan untuk Meraih Tujuan Karir
C:C1.1 Memahami hubungan antara prestasi pendidikan dan keberhasilan karir
C:C1.2 Menjelaskan bagaimana pekerjaan bisa membantu meraih keberhasilan dan kepuasan pribadi
C:C1.3 Mengenali kesenangan dan minat pribadi yang mempengaruhi pilihan dan keberhasilan karir
C:C1.4 Memahami bahwa perubahan tempat kerja yang memerlukan pembelajaran yang tetap dan memerlukan ketrampilan baru
C:C1.5 Menggambarkan dampak kerja terhadap gaya hidup
C:C1.6 Memahami pentingnya persamaan dan akses dalam dunia kerja
C:C1.7 Memahami bahwa pekerjaan merupakan cara yang penting dan kepuasan terhadap ungkapan pribadi
Kompetensi C:2:Menerapkan ketrampilan untuk meraih tujuan karir
C:C2.1 Menunjukkan bagaimana minat, kemampuan, dan prestasi yang berhubungan dengan tujuan pribadi, sosial, pendidikan, dan karir
C:C2.2 Belajar bagaimana menggunakan ketrampilan menejemen konflik dengan sebaya dan dewasa
C:C2.3 Belajar bekerja sama dengan yang lain sebagai anggota tim
C:C2.4 Menggunakan ketrampilan akademik dan kesiapan pekerjaan dalam situasi pembelajaran yang berdasarkan pada pekerjaan, seperti masa training, menaungi, dan/atau pengalaman menasehati
Sumber: Dari ASCA Model nasinal: Kerangka kerja untuk Program Knseling Sekolah. Ijin dari Asosiasi Konselor Sekolah Amerika, http://www.schoolcounselr.org.

Dan unit ruang kelas dipakai oleh guru. Konselor sekolah menggunakan dalam merencanakan bimbingan kurikulum itu seharusnya mempertimbangkan kegiatan – kegiatan yang ditawarkan dan tingkat kelas yang akan kompetens kembangkan.
Ini tidak bernilai apa – apa bahwa kompetensi terdaftar pada model ASCA yang tidak dilanggar oleh tingkat kelas; maka kompetensi akan dikembangkan di tiap tingkat kelas yang harus ditentukan oleh panitia perencanaan. Kelihatannya mungkin bahwa banyak kompetensi yang akan ditujukkan pada beberapa poin di dalam kurikulum. Misalnya kompetensi C:A1.1, “mengembangkan ketrampilan untuk menempatkan, mengevaluasi, dan menerjemahkan informasi karir, “mungkin ditunjukkan sebagai berikut:
Kelas 4- sebagai bagian dari unit karir nontradisinal, siswa mewawancara para pekerja yang telah memasuki karir nontradisional.
Kelas 7- sebagai bagian dari unit penjelajahan diri, siswa mengenali tiga tugas yang berhuibungan dengan kode Holland dan, menggunakan pedoman mengenai pandangan pekerjaan (versi online atau cetak), mengembangkan penjelasan pekerjaan singkat dan informasi gaji.
Kelas 11- menggunakan sumber data online, siswa mengenali pekerjaan, penjelasannya, mungkin lokasi geografisnya, dan tingkat penerimaan gaji yang behubungan selain rencana pendidikan untuk penempatan tambahannya (umum) atau pekerjaan yang diharapkan setelah lulus.

Kesimpulannya, ANM mengandung empat bagian, empat tema, empat strategi penyampaian, dan beberapa ukuran dan pendekatan yang dapat dipertanggung jawabkan untuk membantu sebagai model penggabungan yang bisa digunakan untuk membentuk dan menjalankan program konseling sekolah komprehensif. ASCA juga memberikan proses program perkembangan yang seharusnya terjadi.

III. Proses Perkembangan Program
Perencanaan program komprehensif mencakup (1) memperoleh dukungan administratif, 2) menentukan persyaratan, (3) membentuk komite perencanaan, (4) mengadakan keperluan penilaian untuk menentukan perlunya kompetensi yang dikembangkan, (5) merencanakan program untuk mengembangkan kompetensi, (6) pelaksanaan program, dan (7) membangun sistem yang bisa dipertanggungjawabkan (ASCA, 2003).

 Memperoleh Dukungan Administatif
Meskipun ANM berkembang untuk melayani sebagai bimbingan untuk perkembangan atau pembaharuan program wilayah yang luas, model tersebut menerapkan di sekolah swasta. Pada persoalan lain, pengurus tingkat tinggi atau kepala sekolah yang besifat membangun harus menyetujui untuk mengesahkan program perkembangan karir jika berhasil. Jika usaha perkembangan program ditujukan pada semua wilayah, pengesahan dari kenaikan kelas seharusnya dilihat. Ini menjadi penting jika uang ditempatkan untuk mendukung program tersebut.
Meskipun memperoleh dukungan administratif untuk perubahan dalam program perkembangan karir itu penting, perlu untuk mengembangkan dukungan diantara stakeholder lain, termasuk guru, orang tua, kelompok masyarakat, dan bisnis (Brown Pryzwansky, dan Schulte, 2006). Berhasilnya program perkembangan karir melibatkan semua kelompok lain, dan dukungan lain permulaan itu penting.

 Menentukan Persyaratan
Agar berhasil, program harus memiliki staf, anggaran, fasilitas, materi dan persediaan, dan teknologi yang tepat untuk menjalankan program. Sebelum banyaknya usaha diawali pada bentuk program, konselor sekolah seharusnya memperkirakan biaya yang diperlukan di tiap komponen di dalam program tersebut. Perkiraan ini seharusnya disampaikan oleh penyelenggara selama proses memperoleh dukungan administratif. Keterlibatan konselor sekolah seharusnya juga berharap menunjukkan secara rasional untuk pengeluaran. Pengesahan konsep untuk memberikan pelayanan perkembangan karir yang akan datang jika alasan menuliskan syarat – syarat semua tujuan sekolah swasta atau daerah (Brown dan Trusty, 2005a). Apa tujuan ini semua? Beberapa tujuan ini mungkin mencakup
 Mengurangi tingkat dropout
 Meningkatkan prestasi siswa
 Menurunkan jurang pemisah antara siswa kulit putih dan minoritas
 Meningkatkan pendaftaran tugas tambahan

Penting untuk tidak menjanjikan untuk lebih dari mungkin sebagai akibat dari pelaksanaan program perkembangan karir, tapi ada beberapa bukti daripada variabel yang terdaftar di sini bisa dipengaruhi oleh program yang dibentuk dengan baik (Brown dan Trusty, 2005b).

 Membentuk Komite Perencanaan
ASCA menganjurkan bahwa, mendukung perkembangan program diperoleh dan ditentukannya prasyarat, langkah selanjutnya penentuan komite perencanaan. Komite ini memiliki sejumlah tanggung jawab, termasuk menulis misi pernyataan, konsep filosofi untuk program tersebut, melakukan perlunya penilaian, dan perencanan program.
Komite perencanaan seharusnya mencakup perwakilan dari staf administrasi, pengajukan fakultas, konselor sekolah, orang tua, anggota masyarakat bisnis, dan setidaknya satu perwakilan siswa. Beberapa tugas yang dikerjakan oleh komite dan dijelaskan secara rinci pada paragraf berikut.
Misi dan pernyataan filosofi itu penting. Pernyataan misi tersebut mencerminkan program perkembangan karir apa yang diperlukan, dan pernyataan filosofi merupakan surat singkat untuk umum mengenai program tersebut (Konsorsium Nasional Ketua Bimbingan Negeri, 200). Misalnya, pernyataan misi mungkin menunjukkan bahwa program tersebut merupakan bagian integral dari program konseling sekolah yang memiliki tujuan dasar yang melayani semua siswa memfasilitasi pilihan kair dan pelaksanaan karir untuk semua siswa. Perbedaan dari bagian pernyataan ini, “memperoleh pilihan karir dan pelaksanaannya bagi semua siswa,” akan tepat pada blangko surat dari ketua program. Pernyataan filosofi yang mengedepankan nilai program yang dibentuk. Ini mungkin mencakup poin – poin berikut:
 Melayani semua siswa dan ditujukkan untuk memajukan perkembangan pendidikan dan karir
 Diangkat oleh ahli, konselor, dan guru yang banyak berpengetahuan
 Memudahkan peralihan
 K-12, program yang terkoordinasi
 Bagian integral dari program konseling sekolah, dan masyarakat tersebut
 Ditujukan untuk memajukan misi pendidikan Sekolah (daerah)

Pernyataan filosofi mungkin ditunjukan selain format catatan naratif. Tujuannya memberitahukan stakeholder dari program tersebut dan menjalani sebagai bimbingan dalam proses perencanaan.

 Perlunya Penilaian
Sekolah daerah terletak di pedesaan West Verginia, suburban Indianapolis, di dalam kota Chicago, dan Chapel Hill, North Caolina semuanya memilki tipe siswa yang berbeda, maka dibutuhkan tipe program perkembangan karir yang berbeda. Banyak siswa di pedesaan West Virginia masuk untuk menjadi militer atau pegawai negeri, seperti yang dilakukan para siswa di dalam kota Chicago. Walaupun, para siswa di pedesaan West Virginia mungkin merelokasi wilayah geografi lain di dalam negeri atau bahkan di luar negeri untuk mencari pekerjaan yang lain. Jika siswa dari dalam kota merupakan siswa minoritas, mereka mungkin dihadapkan dengan tingkat diskriminasi yang sangat luas. Mungkin sejumlah siswa dari sekolah daerah Chapel Hill dan Indianapolis suburban akan menghadiri beberapa bentuk institusi pendidikan selanjutnya; karena itu proses keputusan karir sebelumnya akan lebih diperpanjang. Walaupun semua siswa ini perlu bisa memasukkan perencanaan karir kedalam proses perencanaan pendidikannya. Untuk menentukan tipe program apa yang sebaiknya dijalani siswa di sekolah daerah – daerah ini, penting bahwa pemahaman penuh dari sifat – sifat siswa dan keluarganya itu berkembang. Proses pekembangan profil ini biasanya dihubungkan dengan perlunya penilaian.
Data tentang kebutuhan siswa itu tersedia dari berbagai sumber, termasuk data demografi mengenai masyarakat; hasil uji prestasi; informasi tentang tingkat dropout; mengikuti materi lulusan dan dropout; dan survey langsung mengenai siswa, guru, ketua bisnis, dan orang tua. Pertanyaan yang dijawab dengan perlunya penilaian lain adalah (1) Apa yang siswa perlukan saat mereka berkaitan dengan program perkembangan karir? Dan (2) Apakah pendekatan terbaik untuk memenuhi kebutuhan yang dikenali? (Brown dan Trusty, 2005a). Ketika data dari perlunya sarana penilaian, seperti salah satu yang ditunjukkan pada gambar 11.2, dihubungkan dengan informasi yang dikumpulkan dari ketua lulusan dan bisnis seperti sumber lain, perencana bisa mulai mendapat kegunaan tipe program yang perlu disampaikan.
Perlunya penilaian mungkin diarahkan oleh panitia acara seperti yang dianjurkan pada pedoman NCDG (Kobylarz, 1996). Walupun, lebih mungkin bahwa perlunya penilaian diarahkan oleh konselor sekolah, direktur pelayanan konseling sekolah, atau perwakilan dari divisi pendidikan kejuruan. Panitia acara diletakkan pada tempat keperluan itu dibangun pada dukungan administratif tingkat tinggi itu diperoleh. Perlunya program perkembangan karir telah didokumentasikan, dua materi kegiatan itu mungkin salah satunya itu menunjuk komite penasehat untuk melobi program tersebut. Yang lain meminta sesorang yang mengadakan perlunya penilaian untuk menggunakan pengumpulan data mengenai perlunya siswa memperoleh persetujuan dari penyelenggara sekolah dan dewan sekolah. Tanpa menghiraukan cara memandang, pengabsahan administratif dari program tersebut seharusnya dijamin sebelum peluncuran proses perencanaan skala besar.

Gambar 11.2 Bentuk Survey perlunya Penilaian-Sekolah dasar
Tingkat penting
Kecil Sedang Besar
Pengetahuan diri: Siswa akan berkembang
Pengetahuan terhadap pentingnya konsep diri yang positif 1 2 3
Kemampuan berinteraksi dengan yang lain secara positif 1 2 3
Kesadaran terhadap pentingnya prestasi pendidikan 1 2 3
Pendidikan dan eksplorasi Pekerjaan:
Para siswa akan berkembang
Kesadaran pentingnya prestasi pendidikan 1 2 3
Kesadaran hubungan antara pekerjaan dan pembelajaran 1 2 3
Kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi karir 1 2 3
Kesadaran terhadap pentingnya tangung jawab pribadi dan 1 2 3
Kebiasaan kerja yang baik
Kesadaran bagaimana pekerjaan berhubungan dengan kebutuhan 1 2 3
dan fungsi masyarakat
Perencanaan karir: Siswa akan mengembangkan 1 2 3
Memahami bagaimana menentukan keputusan 1 2 3
Kesadaran hubungan timbal balik antar peran hidup 1 2 3
Kesadaran terhadap perubahan peran manusia dalam tenaga kerja 1 2 3
Kesadaran terhadap proses perencanaan karir 1 2 3

Sumber: diambil dari Pedoman Perkembangan Karir Nasional: K-buku pedoman Dewasa oleh L. Kobylarz, 1996 (hal. A.3). Stillwa.er,OK: Institut Pelatihan Perkembangan Karir

IV. Penulisan Tujuan dan Sasaran, dan Menentukan Kriteria demi Keberhasilan
Meskipun panitia acara pogram seharusnya menentukan tujuan, sasaran program tertentu seharusnya ditentukan di tiap sekolah. Biasanya tujuan dinyatakan pada syarat – syarat yang luas, misalnya, “Para siswa akan menunjukkan peningkatan pengetahuan tipe karir yang ada.” Lalu pernyataan tujuan yang luas menjadi terganggu di dalam sasaran perilakunya yang disebabkan secara kronologis. Sasaran perilaku mengandung empat bagian: yang akan menyelesaikan dan pada tingkat bagian apa tersebut akan diselesaikan, kapan bagian tersebut akan diselesaikan, dan dengan cara apa bagian itu akan diselesaikan (Burns, 1972; Morris, Fitz-Gibbon, dan Lindheiman, 1987). Berikut adalah contoh deretan sasaran perilaku yang mungkin akan ditulis untuk tujuan yang telah disebutkan di atas:

Tujuan: Siswa akan meningkatkan pengetahuan tipe karir ada pada diri mereka.
k- Setelah TK, siswa akan bisa mengenali pekerjaan orang tuanya dan bisa ditulis setidaknya tiga tugas yang mereka kerjakan dalam tugas tersebut, sebagai akibat dari penilaian pekerjaan rumah untuk menanyakan orang tuanya mengenai pekerjaannya.
Kelas satu- Setelah kelas 1, seluruh siswa akan bisa mengenali tiga pembantu masyarakat dan tiga tugas masing – masing sebagai akibat dari pembicara program yang menjelaskan masyarakat pekerja.
Kelas dua- Setelah kelas 2, seluruh siswa akan bisa mengenali tiga pekerja yang bekerja di negaranya bersamaan dengan dua tugas yang mereka jalankan dan bagaimana mereka membaca pekerjaanya sebagai akibat dari unit kelas yang bejudul “Pekerja di Negaraku.”
Kelas tiga- Setelah kelas 3, seluruh siswa akan bisa mengenali lima pekerja yang bekerja untuk negara, mengenali tanggung jawab utamanya, dan menyebutkan dua cara matematik yang mereka gunakan, sebagai akibat bidang perjalanan ke ibukota dan mengikuti kegiatannya.
Kelas empat- Setelah kelas 4, seluruh siswa akan mengenali lima pekerja yang unik di Southeast, menjelaskan tanggung jawab pekerjaan utama, dan menyebutkan bagaimana mereka menggunakan informasi yang dipelajari setidaknya dua mata pelajaran sekolah terhadap pekerjaannya, sebagai akibat dari penyelesaian tugas di luar kelas “Pekerja di Dareah Kami.”
Kelas lima- Setelah kelas 5, seluruh siswa akan bisa mengenali 10 pekerja Amerika yang memiliki pekerjaan di luar Southeast, tugas utama yang mereka kerjakan, dan bagaimana mereka menggunakan informasi dari sekolah terhadap pekerjaannya, sebagai akibat dai menulis essay pada pekerjaan di Amerka Serikat, yang memperlihatkan rentetan foto pada film maksud pekerjaan dibentuk untuk tujuan ini, dan penilaian kelas.
SMP- Setelah kelas 8, siswa sudah akan mengenali tiga pekerjaan yang akan menjadi minat bagi mereka di masa depan, menentukan kemampuan akademik apa yang diperlukan untuk memasuki pekerjaan tersebut, dan menganalisa bagaimana bakat dan prestasi akademik yang mungkin dipersiapkan untuk atau memberikan beban untuk memasuki pekerjaan ini, sebagai akibat dari kegiatan – kegiatan berikut:
Kelas enam- siswa belajar tentang karir di belahan bumi dan dunia sebagai akibat dari infusi di semua kelas. Siswa menyelasikan essay bahasa Inggrisnya “Seandainya saya bisa jadi apa saja.” Seminar bulanan yang dipimpin oleh konselor akan menggambarkan pembicara yang mewakili karir internasionalnya.
Kelas tujuh- Siswa menyelesaikan minat inventaris dan kemudian ikut serta dalam kelompok yang dipimpin konselor untuk membahas sumber minat dan bagaiman minat mempengaruhi penentuan pilihan karir.
Kelas delapan- Siswa menyelesaiakan kelas sembilan minggu pada pilihan karir yang fokus pada penentuan keputusan dan menggunakan informasi pekerjaan bersama dengan data diri untuk menentukan pilihan karir. Pengalaman puncak bagi siswa untuk memilih tiga minat karir dan meletakkan langkah pendidikan pada karir yang paling diinginkan.
SMA-Tiap siswa akan menentukan pilihan karir persiapan pilihan karir dengan pilihan alternatif dan membangun rencana pendidikan untuk memasuki karir tersebut, sebagai akibat dari kegiatan yang diarahkan oleh konselor, seperti seminar karir, pembahasan perencanaan pribadi, bibilioterapi, sedikit kerja, partisiapasi dalam hari karir, penilaian minat dan bakat, dan seterusnya.

Pendekatan lain dari sasaran penulisan yaitu mengikat pada kompetensi yang tertulis pada model ASCA (2003). Pada tabel 11.2, sub yang menentukan standar dan kompetensi perkembangan karir ASCA tampilkan.
Seperti yang bisa dilihat pada tabel 11.2, kompetensi tidak ditulis dengan syarat syarat yang bisa diamati dari perilaku yang menyulitkan proses evaluasi. Karena itu, ini perlu ditulis lagi jadi supaya cocok pada proses evaluasinya. Kompetensi yang ditulis kembali ditunjukkan pada tabel 11.3 yang menyarankan tidak hanya bagaimana kompetensi itu dikembangkan. Meskipun sasaran ditulis untuk perkembangan karir SMP, sasaran dan rencana yang sama bisa dikembangkan untuk kegiatan SD dan SMA. Informasi pada tabel 11.3 merupakan satu langkah dalam perencanaan bimbingan kurikulum.

Tabel 11.2
Standar ASCA:Bidang Perkembangan Karir, Standar A, Kompetensi A.1 dan Penunjuk

Kompetensi A:1: Mengembangkan kesadaran karir
C:A1.1 Mengembangkan ketrampilan untuk menempatkan, dan menafsirkan informasi karir
C:A1.2 Belajar tentang berbagai pekerjaan tradisional dan nontradisional
C:A1.3 Mengembangkan kesadaran kemampuan pribadi, ketrampilan, minat, dan motivasi
C:A1.4 Memepelajari cara berinteraksi dan bekerjasama dalam tim
C:A1.5 Mempelajari cara membuat keputusan
C:A1.6 Mempelajari cara mengatur tujuan
C:A1.7 Memahami pentingnya perencanaan
C:A1.8 Mendorong dan mengembangkan kompetensi di area minat
C:A1.9 Mengembangkan hobi dan minat kejuruan
C:A1.10 Menyeimbangkan antara kerja dan waktu luang

Sumber: dari ASCA Model Nasional: Kerangka Kerja untuk Program Konseling Sekolah. Ijin cetak Asosiasi Konselor Sekolah Amerika, http://www.schoolcouselor.org

Tabel 11.3
Standar ASCA: Bidang Perkembangan Karir, Standar A, Kompetensi A.1 dan Penunjuk yang Ditulis Ulang

Kompetensi A.1:Mengembangkan Kesadaran Karir dalam Unit Perkembangan Karir SMP
C:A1.1 Tiap siswa akan mengenali tiga sumber informasi mengenai pekerjaan yang berhubungan dengan kode Holland dan menggunakan informasi untuk menjelaskan pekerjaan
C:A1.2 Tiap siswa akan mengenali tiga pekerjaan tang terdiri dari 25% laki – laki atau perempuan dan memberitahu apakah ini nontradisional bagi laki – laki atau perempaun di tiap halaman laporan
C:A1.3 Sebagai akibat dari Pencarian Arah Diri dan analisa terhadap ketrampilan dan kemampuan, di tiap siswa akan mengenali kode Hollandnya dan kemampuan dan ketrampilannya yang paling penting ketika mereka menghubungkan dengan piihan pekerjaan saat ini
C:A1.4 Setelah berlangsung selama satu jam, tidak terstruktur, rancangan kerjasama dalam menggunakan intenet dan mencari informasi karir, siswa dalam tiga kelompok akan memberikan tingkat kualitas yang tanpa nama dari perilaku kerjasama dengan anggota kelompok lain yang menggunaan skala dibentuknya latihan
C:A1.5 Setelah pendahuluan pada lembar keseimbangan, siswa akan membentuk acuan yang mengenali dua pekerjaan bahwa mereka mempertimbangan sebagai pilihan pekerjaan yang mungkin, menghasilkan kriteria yang bisa digunakan untuk menguji keabsahan pilihan, dan menerapkan lembaran keseimbangan untuk membuat persiapan pilihan pekerjaan
C:A1.6 Siswa akan menentukan tujuan satu minggu untuk beberapa aspek perilaku dan tingkat yang luas bahwa tujuan dicapai pada akhir minggu; prosedur ini juga akan digunakan untuk tujuan dua dan tiga minggu
C:A1.7 Kelompok kecil siswa akan mengatur sekolah kecil yang berbasis bisnis; beberapa kelompok akan diberi bimbingan rencana dan yang lain tidak; kemajuan dinilai setelah satu jam pertimbangan
C:A1.8 Setelah mengenali satu pekerjaan yang berdasarkan pada kode Holland, siswa tidak akan menggunakan O*NET untuk mengenali kemampuan seseorang yang diperlukan pada prestasi pekerjaan dan mengembangkan rencana untuk mengembangkan kemampuan tersebut
C:A1.9 Sebagai akibat dari bidang perjalanan ke rumah sakit, siswa akan mengenali minat pekerjaan baru seseorang dan dua opsi luang bahwa seseorang dalam pekerjaan tersebut mungkin menikmati
C:A1.10 Sebagai akibat membayangi satu diantara orang tuanya atau wali atau orang lain yang bekerja, siswa akan mengenali (1) bagaimana orang tua menghabiskan waktunya dan (2) bagaimana persyaratan pekerjaan mungkin mencampuri kegiatan keluarga dan waktu luang

Sumber: dari ASCA Model Nasional: Kerangka Kerja untuk Pogram Konseling Sekolah. Ijin cetak Asosiasi Konselor Sekolah Amerika, http://www.schoolcouselor.org

V. Perencanaan Program Perkembangan Karir
Dengan jelas, langkah 1 hingga 4 mengatur tingkat untuk fase yang paling penting dalam proses perencanaan, bentuk aktual dari program tersebut. Beberapa pertanyaan perlu dijawab. Mungkin fase yang paling penting ini merupakan sistem penyampaian yang akan digunakan dalam usaha membantu siswa mengembangkan kompetensi yang begitu penting. Bimbingan kurikulum merupakan aspek utama dalam perkembangan kompetensi jika program tersebut dijalani semua siswa, nilai yang mendukung ANM (ASCA, 2003). Bimbingan yang pertama dalam deretan sub pertanyaan. Dengan anggapan bimbingan kurikulum ini merupakan

1. Kesempatan apa yang ada atau bisakah dibuat ada sebagai unit perkembangan karir?
2. Kesempatan apa yang ada untuk memasukkan bahan perkembangan karir kedalam unit yang ada?
3. Tipe kegiatan kelompok kecil apa yang bisa ditawarkan?
4. Bagaimana aspek orang tua mengenai bimbingan kurikulum bisa dibentuk dan disampaikan secara efektif?
5. Bagaimana orang tua minoritas dan siswa miskin bisa bekerjasama di dalam program tersebut?
6. Materi apa yang akan digunakan untuk mendukung bimbingan kurikulum?
7. Bagaimana teknologi, seperti internet bisa digunakan untuk menyampaikan bimbingan kurikulum?
8. Bagaimana Staf Pusat Sumber Karir terlibat di dalam bimbingan kurikulum?
9. Bagaimana tiap aspek bimbingan kurikulum bisa dievaluasi?

Pertanyaan – pertanyaan yang muncul sebagai anggapan perencanaan siswa pribadi adalah
1. Pada poin apa proses pendidikan yang siswa terima untuk memilih kurikulum? Kegiatan apa yang seharusnya mengawali proses ini?
2. Bagaimana orang tua bisa terlibat dalam di dalam proses ini?
3. Penilain apa yang diperlukan untuk mendukung pendidikan individu dan kelompok dan usaha perencanaan karir?
4. Apa pendekatan yang terbaik untuk memberikan perencanaan pendidikan dan karir yang dibutuhkan oleh semua siswa (misalnya, guru penasihat, kepala konselor, pembimbing yang setingkat)?
5. Adakah siswa dengan kebutuhan tertentu memerlukan tipe penilaian dan kegiatan perencanaan yang berbeda?
6. Tipe akomodasi apa yang akan diperlukan bagi minoritas dan/atau bahasa Inggris sebagai bahasa kedua (ESL) siswa?

Selama perencanaan terhadap tanggapan membantu pertanyaan berikut harus dipertimbangkan:
1. Bagaimana pelayanan konsultasi bisa ditawarkan kepada guru dan yang lain terlibat di dalam program tersebut?
2. Bagaimana siswa yang yang memerlukan konseling karir bisa dikenali?
3. Tipe konseling karir apa yang diperlukan bagi siswa yang tidak mampu, minoritas, dan siswa ESL?

Pertanyaan yang muncul ketika dukungan sistem perencanaan adalah
1. Tipe perkembangan profesi apa yang diperlukan supaya mempersiapkan pelaksanaan program?
2. Bagaimana staf konseling sekolah mendukung pelaksanaan sekolah yang menggunakan konsultasi dan kolaborasi?
3. Tipe masyarakat apa yang diperlukan untuk mengakrabkan konselor dengan sumber masyarakat?
4. Bagaimana program tesebut akan dikelola?
5. Bagaimana staf akan dinilai?

Akhirnya, seluruh rencana bagi program perkembangan karir sebagai bagian dari program konseling sekolah berhubungan dengan persoalan koordinasi program yang mengembangkan kalender kejadian untuk program tersebut, dan evaluasi program tersebut.

Menghadapi Persoalan: Pelaksanaan Program
Memilih Sistem Menejemen

Program perkembangan karir merupakan bagian program konseling sekolah, dan maka koordinator program pelaksanaan sekolah di daerah dan tingakat pembangunan akan mengkoordinasikan aspek perkembangan karir dari program tersebut. Selain itu, seperti koordinator Pusat Sumber Karir, pemimpin transisi tugas sekolah, dan wakil pendidikan kejuruan, akan terlibat dalam koordinasi dari seluruh program konseling sekolah dan bagian perkembangan karir. Tidak dihiraukan bagi yang terlibat pada tim menejemen, seluruh pendekatan pada pengelolaan program seharusnya menjadi tim yang berkolabrasi.
Johnson, Johnson, dan Downs (2005) menunjuk bahwa peran kordinator program itu mengulas rencana bahwa staf program menghasilkan; memantau kegiatan yang berhubungan rencana tersebut; mengaudit hasil laporan; dan bersama staf penyelesaian yang valid, memudahkan perkembangan staf, dan ikut serta dalam penentuan persetujuan diantara staf dan bersama penyelenggara. Brown dan Trusty (2005a) menyarankan bahwa koodinator program seharusnya juga dipersiapkan untuk digunakan dalam solusi konflik, memudahkan pemecahan masalah, membentuk hubungan kolaborasi di dalam dan di luar program, menyesuaikan usaha hubungan masyarakat, memberikan hasil laporan, dan menganjurkan program jika perlu.

I. Perencanaan dan Pelaksanaan Bimbingan kurikulum
Tujuan bimbingan kurikulum adalah memberikan informasi dasar bagi siswa yang menggunakan apa yang sebaiknya dijelaskan sebagai model pendidikan dan psikoedukasi. Meskipun diskusi pada poin ini telah difokuskan untuk membantu siswa mengembangkan kompetensi perkembangan karir dimaksudkan untuk mengembangkan akademik dan kompetensi sosial pribadi karena hubungan antara kompetensi ini dan fungsi pendidikan, karir, dan pribadi. Mempertimbangkan Standar A, kompetensi akademik, dan penunjuk bahwa kompetensi A1 elah dikembangkan, seperti yang tertulis pada tabel 11.4 dimana penunujuk tidak diperlukan untuk keberhasilan dalam memilih, mempersiapkan, memasuki, dan berhasil dalam suatu pekerjaan? Tentunya, pekerja yang berhasil telah mengembangkan suara akademik konsep diri seperti yang ditunjuk oleh variable A:A1.1 hingga A.A1.5.
Sekarang pertimbangkan tabel 11.5. Sekali lagi kompetensi dan penunjuk bahwa kompetensi telah dikembangkan itu penting bagi seseorang, fungsi masyarakat dan untuk keberhasilan pekerjaan dengan baik. Berapa kali pentingnya pengetahuan diri telah diungkapkan pada bab 10 buku ini? Dengan penuh harapan sering cukup mengesankan pembaca bahwa tanpa pengetahuan diri, mustahil membuat pilihan karir yang disampaikan. Unit kelas dan kelompok kecil tercakup dalam bimbingan kurikulum

Tabel 11.4
Standar ASCA: Bidang Akademik, Standar A, Kompetensi A1 dan Penunjuk

Standar A: Siswa akan membutuhkan sikap, pengetahuan, dan ketrampilan yang menyalurkan pembelajaran yang efektif di sekolah dan menguraikan masa hidup.
Kompetensi A:1: Membenahi Akademik Konsep Diri
A:A1.1 Menyampaikan perasaan mampu dan percaya diri sebagai pelajar
A:A1.2 Menunjukkan minat positif dalam belajar
A:A1.3 Bangga akan pekerjaan dan prestasi
A:A1.4 Menerima kesalahan saat penting pada proses pembelajaran
A:A1.5 Mengenali sifat dan perilaku yang menuntun pembelajaran yang berhasil

Sumber: Dari Model Nasional ASCA: Kerangka Kerja untuk Program Konseling Sekolah. Ijin cetak Asosiasi Konselor Sekolah Amerika, http://www.schoolcounselor.org

seharusnya direncanakan dengan cara fokus pada keseragaman kompetensi, tanpa menghiraukan bidang dimana mereka telah ditempatkan.
Perlunya penilaian yang sebelumnya membahas kompetensi yang seharusnya fokus pada program konseling sekolah dan aspek perkembangan karir dari program tersebut. Bimbingan kurikulum unit kelas dan kegiatan kelompok kecil dipilih pada sasaran setidaknya pad beberapa kompetensi tersebut. Jaringan seperti salah satu yang ditunjukkan pada tabel 11.6 mungkin terbantu dalam merencanakan bimbingan kurikulum K-12.

Tabel 11.5
Bidang Sosial Seseorang, Standar A, Kompetensi A1 dan Penunjuk

Standar A: siswa akan memperoleh pengetahuan, sikap, ketrampilan terhadap sesama untuk membantu mereka memahami dan menghargai diri sendiri dan yang lain.
Kompetensi A:1: Memperoleh pengetahuan diri
PS:A1.1 Mengembangkan sikap positif terhadap diri sendiri sebagai orang yang unik dan berharga
PS:A1.2 Mengenali nilai, sikap, dan kepercayaan
PS:A1.3 Mempelajari proses penentuan tujuan
PS:A1.4 Memahami bahwa perubahan merupakan bagian pertumbuhan
PS:A1.5 Mengenali dan mengungkapkan perasaan
PS:A1.6 Membedakan antara perilaku yang tepat dan tidak tepat
PS:A1.7 Mengenali batas pribadi, hak, dan kebutuhan pribadi
PS:A1.8 Memahami kebutuhan terhadap pengendalian diri dan bagaimana mempraktekannya
PS:A1.9 Menunjukkan perilaku kerjasama di dalam kelompok
PS:A1.10 Mengenali kekuatan dan aset pribadi
PS:A1.11 Mengenali dan membahas perubahan peran pribadi dan sosial
PS:A1.12 Mengenali dan mengakui perubahan peran keluarga

Sumber: Dari Model Nasional ASCA: Kerangka Kerja untuk Program Konseling Sekolah. Ijin cetak Asosiasi Konselor Sekolah Amerika, http://www.scholcounselor.org

Tabel 11.6
Jaringan Perencanaan Bimbingan Kurikulum K-1

Tingkat kelas Kompetensi ANM Sasaran Kegiatan Materi yang Dibutuhkan Strategi Evaluasi
Dan bulan

2 Oktober PS:A1;C:A1-penge Tiap siswa akan Bimbingan Krayon merah dan hijau; Daftar siswa akan di-
tahuan diri mengenali tiga kelas empat kertas kumpulkan dan dieva-
ketrampilan bahwa pembahasan luasi untuk kompetensi
dia mengerjakan
dengan baik dan
seseorang mengem
bangkannya
8 April A:B2; C:A1-penen- Siswa akan menun Pembahasan Tak satupun Siswa dengan kelompok
tuan tujuan jukkan kemampuan bimbingan akan diminta untuk
menentukan tujuan kelas 6.40 mengevaluasi tujuan
jangka pendek dan menit jangka pendek dan jang
panjang ka panjang yang telah
ditulis
11 September C:C2; PS:B1- Pena Siswa akan menun Tiga pem- Tak satupun Kelompok kecil akan
nganan konflik jukkan kegunaan bahasan mengevaluasi dan
satu model pena bimbingan saling memberi berda
nganan konflik- kelas sarkan penerapan peran
sama sama menang main dari model
tersebut

Dua hal yang seharusnya jelas dari data yang ditunjukan pada tabel 11.6. Pertama, perkembangan bimbingan kurikulum K-12 merupakan tugas yang membutuhkan banyak tenaga, sekalipun ini perlu. Kedua, salah satunya lengkap, jaringan memberikan banyak informasi diperlukan untuk mengembangkan kalender untuk program konseling sekolah, yang merupakan keuntungan nyata. Dengan menambah nama orang – orang yang menyampaikan unit dan kelompok kecil pada jaringan, tanggung jawab dibatasi dan maka tugas penting yang lain telah diselesaikan.

II. Perencanaan dan Pelaksanaan Individu
 Perencanaan Siswa
Kegunaan perencanaan siswa individu (ISP) merupakan istilah yang salah karena pelayanan ini mencakup pendidikan pribadi dan kelompok dan kegiatan perencanaan karir. Salah satu perhatian mengenai ISP diangkat oleh Brown dan Trusty (2005a) bahwa ini mungkin dipandang sebagai hal yang bisa dan makanya diabaikan, yang menyebabkan siswa menderita. Maksud peneliti ini yaitu penelitian dilakukan oleh Adelman (1999) dan Trusty dan Niles (2004) berhubungan dengan faktor yang mempengaruhi penyelesaian gelar sarjana. Pria itu kurang mungkin daripada wanita menyelesaiakan gelarnya, dan pelajar Amerika kulit putih dan Asia itu lebih mungkin daripada orang Amerika berdarah Afrika dan suku asli Amerika untuk menyelesaikan gelarnya. Maksudnya diperlukan kehati – hatian dalam merencanakan dengan kaum pria dan minoritas. Penelitian tersebut dikutib oleh Brown dan Trusty (2005a) juga menyimpulkan bahwa penyelesaian kelas matematika dan IPA dalam tingkat yang maju merupakan kunci faktor dalam menyelesaikan tingkat prasarjana. Karena itu, mendorong siswa yang tidak mungkin mengambil materi di tingkat maju di daerah ini yang seharusnya merupakan prioritas di ISP. Meninggalkan pertanyaan, bagaimana ISP seharusnya terstruktur dan tersampaikan?
Pada tahun 2002, gabungan publikasi oleh Perintah Perekrutan Tentara Amerika dan ASCA berjudul Rencana Hidup memberikan beberapa jawaban yang menganggap maksud ISP. Terbitan ini menonjolkan program perencanaan karir yang patut dicontoh dari Amerika Serikat. Pengarang menganjurkan bahwa setiap siswa memiliki rencana karir tersendiri (ICP), yang mencakup tujuan karir dan pendidikan, penilaian data, kegiatan ektrakurikuler dan kegiatan luang, perkerjaan paruh waktu, kegiatan pelayanan masyarakat, dan informasi lain yang mungkin berguna dalam perencanaan pendidikan dan karir. Dokumen tersebut ditunjukkan pada gambar 11.3 yang menggunakan sebagai dasar ICP.
Disamping itu beberapa bimbingan umum untuk mengembangkan pelayanan ISP, Rencana Hidup berisi gambaran daerah luas yang terkemuka dan program sekolah itu sendiri. Program daerah luas yang terkemuka digambarkan di dalam laporan yang terletak di Hillsboro, Oregon. Sifat – sifat program ini mencakup
K-12. Seawal TK, ide perencanaan karir dan pendidikan itu ditekankan. Kegiatan ini mencapai puncak dalam kegiatan yang fokusnya pada peralihan tugas sekolah di SMA
Penilaian. Penelitian yang mengarahkan pada diri sendiri diberikan pada semua kelas sembilan.
Teknologi. Daerah tersebut mengembangkan databes yang bisa dicari di websitenya yang memperkenankan guru untuk mengenali unit – unit yang bisa digunakan di kelasnya. Mereka juga menggunakan sistem informasi karir yang berdasarkan Oregon (CIS) untuk memberikan informasi pendidikan dan karir.
Pengangkatan. Sukarelawan orang tua direkrut untuk melatih siswa dan melayani sebagai penasehat. Setiap penasehat orang tua diberikan sebagai beban persoalan. ICP, ditempatkan di Pusat penelitian Karir, ditinjau kembali dan diperbaharui setiap tahun. Siswa bertemu dengan konselor sekali dalam setahun.
Fasilitas. Menyarankan kegiatan ditempatkan di Pusat Sumber Karir seperti yang sudah dilaksanakan kegiatan lain.
Yang lain. Kunjungi website, bayangan pekerjaan, dan tamu pembicara disampaikan.

SMP Bearcreek di Fairburn, Georgia; merupakan satu diantara sekolah swasta yang khusus untuk pengenalan. Program sekolah ini diadakan dengan tiga pertanyaan.

Kelas 6: Siapa saya?
Kelas 7: Saya mau kemana?
Kelas 8: Bagaimana saya bisa sampai sana?

Beberapa aspek menarik dari program SMP Bearcreek mencakup:
Koordinasi. Dikoordinasi oleh kordinator pusat karir
Pengangkatan. Koordinator pusat karir, guru yang telah mengintegrasi konsep ke dalam kurikulernya, dan didukung oleh konselor sekolah
Penilaian. Inventaris Penentuan Keputusan Karir dilaksanakan di kelas delapan; alat informal lain digunakan untuk menilai bakat dan kemampuan.

Gambar 11.3 Bentuk Rencana Karir Pribadi: Tingkat SMA

Kegiatan ini menganjurkan sebuah tehnik untuk membantu staf untuk memonitor dan memperkuat prestasi siswa akan bimbingan prestasi dan mendorong kompetensi dan membantu dalam mengembangkan rencana karir dan pendidikan.

Petunjuk
1. Ini dianjurkan bahwa sebuah rencana karir pendidikan untuk dipertahankan bagi tiap siswa di semua pengalaman SMA.
2. Konselor merupakan siswa yang diberi akan bertanggung jawab untuk bertemu dengan siswa yang mengembangkan, menimbang, meninjau, dan melaksanakan rencana tersebut.
3. Sebagai hasil evaluasi yang sempurna, profil hasil yang dicapai siswa secara standar akan ditambahkan pada rencana tersebut.

Nama __________________________________________________________________
Sekolah __________________________________________________________________
Terakhir Pertama Tengah
1. Minat saya adalah:
Kelas 9 Kelas 10 Kelas 11 kelas 12

2. Kemampuan dan ketrampilanku adalah:
Kelas 9 Kelas 10 Kelas 11 kelas 12

3. Hobi dan kegiatan rekreasi/waktu luang adalah:
Kelas 9 Kelas 10 Kelas 11 kelas 12

4. Materi sekolah yang saya kerjakan adalah:
Kelas 9 Kelas 10 Kelas 11 kelas 12

5. Saya telah memeriksa karir dalam kelompok pekerjaan berikut:
Kelas 9 Kelas 10 Kelas 11 kelas 12

6. Saya telah bekerja paruh waktu atau memiliki beberapa pengalaman dengan pekerjaan berikut atau tugas kerja:
Kelas 9 Kelas 10 Kelas 11 kelas 12

7. Tujuan karir saya sementara adalah:
Kelas 9 Kelas 10 Kelas 11 kelas 12

8. Saya telah memilih kurikulum berikut untuk belajar di SMA. Materi yang dipelajari pada rencana pembelajaran SMAku, merupakan bagian dari kumpulan catatan:
Kelas 9 Kelas 10 Kelas 11 kelas 12

9. Saya berencana mengikuti pelatihan lebih lanjut, melebihi SMA pada program berikut, sekolah, atau perguruan tinggi:
____________________________________________________________
____________________________________________________________ ____________________________________________________________

ATAU
Saya berencana memperoleh pekerjaan pada salah satu pekerjaan berikut (bisnis, industri):
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________

10. Saya telah mencapai penunjuk tertentu pada standar perkembangan karir siswa daerah. Jika tidak, saya telah menemui konselorku untuk menentukan kegiatan yang bisa saya kerjakan untuk memperkuat setiap penunjuk yang belum saya capai. Juga melampirkan profil pribadi yang merupakan ringkasan penunjuk hasil yang dicapai siswa di tiap tahun.

Kelas Kompetensi 9 10 11 12
Memahami dampak positif dari konsep diri. __ __ __ __
Ketrampilan untuk berinteraksi secara positif dengan yang lain. __ __ __ __
Memahami hubungan antara prestasi pendidikan dan
perencanaan karir. __ __ __ __
Memahami kebutuhan untuk sikap positif terhadap pekerjaan dan
pembelajaran. __ __ __ __
Ketrampilan untuk menempatkan, mengevaluasi, dan menafsirkan
informasi karir. __ __ __ __
Ketrampilan untuk mempersiapkan, mencari, memperoleh,
mempertahankan, dan mengganti pekerjaan. __ __ __ __
Memahami bagaiman kebutuhan masyarakat dan fungsi
mempengaruhi asal dan struktur pekerjaan. __ __ __ __
Ketrampilan untuk membuat keputusan. __ __ __ __
Memahami hubungan imbal balik akan peran hidup. __ __ __ __
Memahami perubahan yang terus menerus dalam peran
pria/wanita. __ __ __ __
Ketrampilan dalam perencanaan karir. __ __ __ __

Tanda tangan:
Siswa _______________________________________________________ Orangtua _______________________________________________________
Konselor ______________________________________________________

Sumber: Dari Bimbingan perkembangan Karir Nasional: Buku Pegangan Daerah untuk SMA (hal. 81 – 87), oleh Komite Koordinasi Informasi pekerjaan Nasional, 1989, Washington, DC: Pengarang.
Teknologi. System informasi karir Georgia merupakan sumber informasi karir dan pendidikan
Fasilitas. Pusat Sumber Karir untuk sebagian besar kegiatan
Penyimpanan catatan. Sistem jabatan sama dengan sistem yang ada pada gambar 11.3
Yang lain. Sedikit Pekerjaan

Dengan tanpa diharapkan, bukan SD yang termasuk dalam perencanaan hidup. Walaupun, awalnya secapat yang siswa meminta yayasan akademik diperlukan, yang mungkin mendekati akhir kelas tiga, siswa seharusnya menggunakan dalam penentuan tujuan dan perencanaan kegiatan yang akan mempersiapkan untuk transisi SMP. Ini seharusnya melibatkan kunjungan di SMP, seminar diadakan oleh siswa SMP mengenai kehidupan “siswa” SMP, pertemuan orang tua sebelum peralihan, dan seterusnya. Mereka seharusnya juga membuka kegiatan – kegiatan yang berhubungan dengan pendidikan dan karir, mengembangkan ketrampilan penentuan keputusan secara sistematis, membantu kesadaran diri, dan meminimalkan ras dan klise yang berdasarkan pada gender. SD E. k. Powe di Durham, Carolina Utara, membiayai Hari Karir tahunan untuk kelas 4 dan 5 yang berhubungan dengan banyaknya konsep ini bersama.
Program ISP dijelaskan pada pembahasan iniitu dipadukan kedalam program perkembangan karir yang lebih luas, itu mungkin sebabnya mereka dikhusukan oleh penggabungan proyek tentara Amerika/ASCA, yang dimaksudkan untuk mengenali program yang patut dicontoh dan meningkatkan karir dan perencanaan program pendidikan pada umumnya. Ketika persoalan dengan semua bagian yang disebut program perkembangan karir, seringnya sulit untuk disampaiakan dimana satu komponen memulai dan yang lain berhenti.

 Penilaian
Penilaian merupakan bagian kunci dari program ISP. Pengembang Hillsboro, Oregon, Daerah ISP menggunakan minat inventori di SMP ketika penilaian formal saja. Ahli perkembangan karir di ISPnya SMP Bearcreek menganjurkan bahwa mereka menggunakan bentuk lain dari penilaian tapi tidak khusus. Brown dan Trusty (2005a) menganjurkan bahwa data prestasi diperlukan untuk memberitahukan proses perencanaan individu. Perkiraan diri akan konsep konselor terhadap ketrampilan dan kemampauan bisa digunakan untuk menempatkan secara komersial lebih mahal menciptakan perkiraan. Perkiraan diri akan ketrampilan dan kemampuan dari system O*NET juga bisa digunakan sebagai ukuran ketrampilan dan kemampuan yang tidak mahal. Skala perkiraan diri dari konsep lokal yang mengukur tipe Holland jika bisa berguna jika anggaran ini dan instrument lain menghalangi perolehannya. Guru yang akrab dengan siswa bisa disurvey untuk mendapatkan perkiraan kerampilan kepada sesame dan gaya dan kemampuan penentuan keputusanan. Akhirnya, perkiraan menganggap rintangan bahwa orang – orang yang menghadapi dalam mencapai tujuannya bisa memberikan pengetahuan perencana kedalam hubungan siswa mengenai persoalan dunia nyata, dan menargetkan mereka dan tindakan yang tegas untuk mengurangi atau menghapuskan rintangan yang mungkin ditempatkan kearah tujuan.

 Hasil Akhir
ISP seharusnya mulai tidak lebih dari kelas delapan dan seharusnya memuncak ketika siswa lulus dari SMA atau meninggalkan sekolah dasar hingga kelulusan. Semua pembahasan perencanaan seharusnya berakhir dengan jabatan terbaru (lihat gambar 11.3) dan atau catatan kejadian lain yang muncul dan keputusan yang dibuat. Siswa yang berharap meninggalkan seklah dasar hingga kelulusan seharusnya memiliki peralihan rencana mungkin mencakup kembali ke sekolah sekali dengan persoalan yang menimbulkan penarikan diri terpecahkan. Seperti yang telah ditulis di tempat lain, siswa yang berada dalam pendidikan khusus pasti memiliki rencana peralihan dalam IEPnya dan rincian daftar strategi yang perlu membawakan rencana pada hasil yang diperoleh. Siswa yang rencananya lulus juga memerlukan rencana peralihan, apakah mereka menghadiri beberapa bentuk pendidikan tambahan atau menuju tenaga kerja. Ini merupakan fakta yang tidak menguntungkan bahwa banyak konselor SMA mempertimbangkan rencana peralihan siswa yang sempurna salah satu siswa telah diterima pada satu diantara pilihannya. Rencana ini tidak cukup untuk alasan sederhana bahwa beberapa siswa yang berencana pergi ke perguruan tinggi tidak pernah sampai kampus, beberapa siswa harus menunda hadir selama beberapa tahun untuk mencari uang atau untuk mengurus persoalan keluarga, dan jumlah yang jauh lebih besar masuk ke kampus hanya dropout dasar hingga lulus. Tanpa kemungkinan rencana (Apa – jika? rencana), siswa ini harus memulai penelitian suatu pekerjaan bahwa seharusnya telah ditentukan pada dasar permulaan. Kompetensi terdaftar pada ANM (ASCA, 2003) tidak hanya bagi siswa yang berharap langsung setelah SMA. Ketrampilan beguna bagi setiap siswa yang hadir ke sekolah.

III. Perencanaan dan Pelaksanaan Pergantian Pelayanan
Pergantian pelayanan mencakup konsultasi, konseling kelompok kecil dan individu, konseling masa genting dan tanggapan masa genting, penyerahan, kemudahan yang sama. Pergantian pelayanan ini, keduanya membutuhkan perhatian yang sangat besar dalam perencanaan program perkembangan karir merupakan konsultasi dan konseling kelompok dan individu. Disarankan di sini bahwa bagi sebagian besar bagian ide konsultasi tidak jadi disetuju dengan penggabungan. Konsultasi melibatkan hubungan kerjasama dimana klien dengan penasehat mengenali masalah klien, membangun tujuan, dan bentuk intervensi. Pelaksanaan intervensi ditinggalkan klien, yang khususnya seorang guru. Penggabungan mengikuti proses yang sama dengan perkecualian. Dalam penggabungan, kolaborator bersama – sama bertanggung jawab atas pelaksanaan intervensi tersebut (Brown dll., 2006). Dalam pendekatan penggabungan, perkembangan karir ahli bersama – sama bertanggung jawab membentuk dan melaksanakan intervensi perkembangan karir. Mungkin maksudnya bahwa konselor dan guru akan bekerja sama membentuk dan menyampaikan unit kelas pada peralihan dari sekolah ke pekerjaan. Demikian pula, mereka mungkin sama – sama bertanggung jawab terlibat dalam pembentukan hari karir SMP atau pada hari sedikit pekerjaan. Misalnya, konselor, pendidikan kejuruan mengajarkan, dan mewakili dari penggabungan bisinis untuk membentuk dan menyampaikan sedikit pekerjaan pada hari Groundhog tiap tahun di SMA Gerakan Orang Atena di Raleigh, Carolina Utara.
Tidak semua siswa akan membutuhkan konseling karir jika bagian ISP dari program perkembangan karir dijalankan dengan tepat. Walaupun, semua siswa akan memiliki keinginan keputusan dan akan membutuhkan konseling karir untuk menguasai masalah ini. Siswa yang diberi mungkin memiliki begitu banyak sekali pilihan terbuka bagi mereka bahwa konseling karir itu perlu membatasi pilihan yang dapat diatur. Siswa yang tidak mampu mungkin memerlukan perlakuan khusus dari penampungan konselor supaya mengenali pilihan karir dan bantuan diperlukan oleh pegawai yang sedang dibantu orang Amerika dengan ketidakmampuan tindakan. Beberapa SMA memiliki staf konselor penampungan paruh waktu atau full time yang bekerja di Divisi Negara dari Konseling penampungan.
Mengenali siswa yang memerlukan konseling karir seharusnya dimulai dengan melatih penasehat untuk mengenali siswa yang bisa menguntungkan dari tugas tesebut, khususnya dengan keinginan kuat dan keinginan yang tidak kuat. Siswa yang mengalami keinginan kuat mungkin menunjukkan satu diantara tiga gejala: penghindaran, penentuan keputusan yang tidak sabar, atau tergantung penentuan keputusan. Tergantung penentu keputusan tidak bingung dengan anggota kelompok minoritas yang memiliki nilai sosial kolektif dan berbeda dengan orang tuanya dalam proses pembuatan pilihan pekerjaan. Siswa percaya mereka seharusnya menentukan keputusannya sendiri karena mereka memiliki nilai sosial yang bebas dan tidak bisa mengerjakan demikian seharusnya dikelompokkan sebagai kepemilikan keinginan yang tegas. Siswa – siswa ini mungkin menginginkan konselor untuk menentukan keputusan untuk mereka dan mungkin meminta berulang kali, Menurutmu apa yang harus saya lakukan? Mereka juga memilih suatu pekerjaan karena satu teman atau lebih telah memilihnya. Siswa yang menghindari penentuan keputusan mungkin tidak nyaman ketika topik untuk memilih suatu pekerjaan muncul atau mungkin tidak menunjukkan persoalan perencanaan. Penentu keputusan yang tidak sabar muncul menjadi ceroboh karena mereka memberi sedikit gagasan pada proses tersebut. Ketika ditunjukkan dengan daftar pekerjaan yang berhubungan dengan minatnya, mereka mungkin memilih satu dan tidak mampu menunjukkan akal yang cukup demi pilihan tersebut.
Konselor karir seharusnya mengingatkan bahwa keinginan yang kuat diciptakan oleh gagasan yang tidak rasional mengenai kemampuan membuat pilihan (saya akan mengacaukan ini) atau keinginan untuk menentukan keputusan yang sempurna (saya ingin membuat keputusan yang sempurna). Pendekatan perilaku kognitif pada konseling karir dijelaskan pada bab 3 yang mungkin merupakan pendekatan yang lebih disukai dari pada berhubungan dengan keinginan yang kuat. Penggunaan pendekatan ini, konselor karir mengenali gagasan yang tidak rasional yang menimbulkan keinginan dan penggunaan tehnik seperti berhenti berpikir, merubah berbicara sendiri, dan strategi pengenduran (misalnya, bernapas dan pengenduran otot) mengurangi kegelisahan.
Persoalan yang mungkin perlu untuk dipecahkan dalam konseling karir mungkin memunculkan keinginan kuat, tapi dikelompokkan lebih akurat sebagai kebimbangan. Kebimbangan karir muncul karena informasi yang begitu sedikit dan bisa berhubungan dengan memberikannya lebih pribadi atau informasi pekerjaan. Bimbingan konseling berikut ini mungkin membantu dalam membedakan keinginan yang kuat dengan keinginan yang tidak kuat mengenai karir:

1. Ketika Anda berpikir mengenai pilihan karir, tingkatkan keingianan Anda dari skala 1 hingga 10 dengan 10 yang sangat tinggi dan satu yang sangat rendah.
2. Gunakan skala tingkatan dari 1 hingga 10, dengan 10 yang sangat tinggi dan 1 yang sangat rendah, tingkat kemampuanmu untuk membuat pilihan karir jika kamu punya informasi tentang pilihan yang tersedia dan bagaimana mereka menanggapi minat dan kemampuan Anda.

Siswa dengan keinginan kuat mungkin memiliki tingkatan yang relatif tinggi untuk nomor 1 dan tingkat rendah untuk nomer 2. Siswa yang menunujukkan keputusan yang tidak kuat mengenai karir mungkin memiliki tingkat yang tinggi pada nomor 1 dan mereka mungkin memiliki tingkat yang tinggi pada nomor 2. Perbedaanya adalah bahwa siswa yang memiliki keinginan yang tidak kuat bersamaan dengan keingianan kuat, meragukan kemampuan untuk menentukan keputusan, dimanapun siswa dengan keinginan yang tidak kuat itu tidak akan ragu.
Siswa lain mungkin membutuhkan konseling karir, seperti bersamaan dengan persoalan gaya hidup, siswa minoritas, siswa gay dan lesbian, dan sebagainya. Siswa Amerika keturunan Afrika yang telah menghabiskan sebagian besar tahun – tahun sekolahnya di sekolah – sekolah kulit putih ingin mencari prosa dan konsonan munculnya perguruan tinggi Amerika keturunan Afrika yang kurang bergengsi daripada sekolah – sekolah lain di tempat dia diterima. Persoalan yang merupakan pengakuannya bahwa pengalamannya dengan poin itu tidak menuntun dia untuk mempertimbangkan apa maksud orang Amerika keturunan Afrika dalam budaya Amerika. Siswa gay dan lesbian yang belum “berakhir” mungkin mencari cara untuk dalam pencarian karir yang aman. Siswa perempuan mungkin ingin mencari dampak pemilihan karir tertentu terhadap rencananya menjadi istri atau ibu. Ketika persoalan ini dan persoalan lain, seperti persoalan yang mengenali pembahasan ini lebih dini, muncul konseling karir mungkin diusulkan.

IV. Perencanaan dan Pelaksanaan Evaluasi dan Bisa Mempertanggungjawabkan
Evaluasi merupakan proses dimana dampak program perkembangan karir pada perkembangan dan perilaku siswa dinilai dan karena itu, inti elemen dari usaha pertanggungjawapan. Proses pertanggungjawaban berlanjut dengan pembagian hasil rapot kepada penyelenggara program tersebut dan selesai ketika data dikembangkan dalam usaha evaluasi pada pembenahan program perkembangan karir (ASCA, 2003). Seluruh usaha pertanggunjawaban itu dinamis dan tidak berhenti.

Tabel 11.7

Keuntungan Yang Diharapkan dari Program Perkembangan Karir

Keuntungan Siswa
Berkurangnya tingkat dropout
Penghargaan dan konsep diri yang lebih tinggi
Penyesuaian diri terhadap masyrakat ang lebih baik
Tingkat pelanggaran, pembolosan, dan pelarian diri
Pemahaman hubungan antara pendidikan dan pekerjaan
Penentuan keputusan yang lebih kompeten
Membenahi pencarian informasi dan ketrampilan dalam menggunakan informasi
Kesadaran terhadap perubahan di dunia kerja
Kebebasan yang lebih besar dalam penentuan keputusan
Membenahi prestasi akademik
Meningkatkatkan penghargaan terhadap nilai pendidikan
Meningkatkan hasil motivasi dari tujuan karir pribadi
Pilihan materi pembelajaran yang lebih realistis

Keuntungan bagi Orang Tua
Besarnya keterlibatan dalam perencanaan karir siswa
Meningkatkan kepuasan orang tua dengan rencana karir siswa

Keuntungan bagi Sekolah
Program dinyatakan dengan hubungannya dengan hasil siswa (maka mempertinggi akuntabilitas)
Prestasi dinilai secara teratur
Komponen program dievaluasi dalam hubungannya dengan hasil siswa
Hasil siswa dan bagian program yang sangat spesifik di tiap level
Penguatan pembelajaran dai level sebelumnya
Penilaian kompetensi siswa yang memberikan dari bagi bantuan perencanaan karir individualis
Rencana karir individualis yang memberikan perencanaan karir berkelangsungan di berbagai tingkat

Ada dua strategi umum yang mungkin diikuti ketika mengevaluasi program perkembangan karir. Satu diantaranya yaitu melihat seluruh dampak program tersebut. Misalnya, metanalisa dari 18 program perkembangan karir oleh Baker dan popowicz (1983) menganjurkan bahwa, berbicara secara umum, program perkembangan karir bisa efektif. Pengembang dari Konseling Karir Nasional dan Garis Pedoman Bimbingan untuk SMA (Kobylarz, 1996) menyimpulkan bahwa program ini akan memiliki beberapa hasil positif-mereka akan menguntungkan siswa, orang tuanya, dan sekolahnya-berdasarkan pada tinjauan satera Campbell, Connell, Boyle, dan Bhaerman (1983); Crites (1987); Herr (1982); dan Spokane dan Oliver (1983). Keuntungan ini terdaftar pada tabel 11.7.
Walupun evaluasi dari dampak seluruh program merupakan tugas sulit dan mungkin tidak memberikan diperlukannya data untuk pembenahan program. Brown dan Trusty (2005a) juga telah mencatat bahwa, ketika seluruh program menjadi target penelitian atau evaluasi, sulit untuk membangun dimana aspek program sebenarnya menciptakan hasil yang diamati. Mereka menganjurkan bahwa konselor sekolah memulai usaha evaluasi untuk membangun keberhasilan strategi penyampaian, seperti perencanaan pribadi, konseling karir, penilaian, dan seterusnya. Tiga contoh bentuk evaluasi yang bisa digunakan untuk mengevaluasi aspek tertentu dari program tersebut bisa dilihat pada gambar 11.4, 11.5, dan 11.6.

V. Tip – Tip Perencanaan Program: Dasar
Program perkembangan karir SD mungkin seharusnya diatur seputar pokok yang berhubungan bahwa digunakannya penyelidikan sosial atau area kurikuler lain. Misalnya,

Tabel 11.6 Evaluasi Pembahasan Perencanaan Siswa Pribadi (SMA)

Puas Tidak Yakin Tidak Puas
________ ________ ___1. Orang yang mengadakan pembahasan tersebut membantu saya memahami pentingnya perencanaan. (C:A1.7)
________ ________ ___2.Secara aktif terlibat dalam proses penentuan keputusan dalam pembahasan perencanaan. (C:A1.5)
________ ________ ___3. Saya memperoleh pengetahuan dari proses perencanaan pendidikan dan bagaimana menentukan keputusan (C:B1.1; C:B1.3)
________ ________ ___4. Saya terdorong untuk berpikir mengenai sifat bagaimana sifat kepribadianku seperti minat dan kemampuan, seharusnya dipertimbangakan dalam memilih materi. (C:B1.1)
________ ________ ____5. Pembahasan membantu saya dengan menjelaskan hubungan diantara sifat pribadi, pemilihan materi, dan karir masa depan saya. (C:B1.20)

Semua kepuasan saya dengan pembahasan perencanaan (simak salah satunya)
_____ 1. Puas
_____ 2. Agak puas
_____ 3. Tidak puas

beberapa pernyataan mengurus program seputar pokok geografik yang dimulai dari rumah dan tetangga dan kemajuan pada masyarakat, Negara, bangsa, dan dunia. Program tipe yang kurang jelas sebagai berikut

TK Pekerja di sekolah dan rumah
Kelas Satu Pembantu masyarakat
Kelas dua Pekerja di negaraku
Kelas tiga Pekerja di negarabagianku
Kelas empat Pekerja di bangsaku
Kelas lima Pekerja di dunia
Unit bimbingan kelas bisa dibangun sekitar tema ini dan bisa dipertinggi oleh pembicara; perjalanan atau pengendaraan menjalankan bidang yang mengijinkan siswa untuk melihat pekerja; latihan peran main yang menggunakan topi pekerja dimana siswa memakai topi dan memberitahu apa yang dilakukan pekerja; latihan yang menggunakan sarana bahwa pekerja menggunakan dari berbagai area; mengunjungi pemadam kebakaran; pegawai keamanan umum, dan pegawai kebersihan; dan lain sebagainya.
Program yang diuraikan di sini berawal dengan pekerja di sekolah dan di rumah. Presentasi oleh guru, pelaksana, petugas, perawat gelanggang olah raga, asisten tata usaha, pembantu, perawat sekolah, pekerja sosial, psikolog sekolah, pekerja kafe, dan mungkin spesialis dari kantor tata usaha memberikan siswa dengan pandangan menarik tentang pekerjaan, klise pekerjaan, hubungan pendidikan dengan pekerjaan, dan kegunaan alat yang tepat untuk terpilih dan teroientasi.
Bidang perjalanan memberikan siswa dengan pandangan pada kondisi pekerjaan dari berbagai profesi, tetapi profesi tersebut mahal dan sedikit waktu untuk dihabiskan. Mungkin ketika, bidang perjalanan seharusnya diambil di situs kerja yang mencakup berbagai pekerjaan luas. Rumah sakit, bank, kantor pos, kantor tata usaha daerah sekolah, kantor pemerintahan, dan bisnis yang memperkerjakan pekerja dalam jumlah yang banyak adalah situs yang ideal. Siswa perlu berorientasi pada tipe pekerjaan bahwa mereka akan melihat saat kunjungannya, tahu apa yang ditanyakan, dan mengerti persoalan yang aman dari tindakan lanjut untuk menentukan apa yang siswa pelajari mengenai profesi dan minat seharusnya disalurkan.
Sekolah juga bisa menjalani sebagai sarana pengajaran yang subur untuk siswa yang lebih tua. Konselor bisa mengenali daftar bantuan bagi tiap profesi di sekolah dan memiliki siswa kelas lima atau kelas empat mengisi lamaran kerja, mengembangkan iktisar dan wawancara untuk posisi asisten. Setelah siswa membantu sebagai asisten selama satu atau dua minggu, mereka bisa dipindah oleh asisten lain. Secara periodik, siswa seharusnya dimintai dalam hal yang mereka pelajari tentang pekerjaan yang mereka pelajari. Satu – satunya petunjuk mengenai penempatan siswa pada posisi asisten itu menjauhkan mereka dari bahaya. Misalnya, membantu staf kafe seharusnya tidak diijinkan untuk ikut serta dalam kegiatan dimana mereka mungkin terbakar atau terluka dalam menggunakan sesuatu yang tajam.
Beberapa konselor telah menggunakan anak – anak dalam memulai dan menjalankan bisnis sebagai alat pengajaran mereka mengenai profesi. Bisnis yang menjual permen atau persedian sekolah saat istirahat memperkenalkan siswa dengan perencanaan, mengangkat modal, anggaran, seleksi personil dan evaluasi, pemasaran, dan mengendalikan inventaris menyebutkan beberapa kegiatan yang diperlukan untuk memulai dan menjalankan bisnis. Tiap – tiap kegiatan ini memiliki sejumlah profesi yang berhubungan dengan bisnis dan siswa yang bisa diperkenalkan pada profesi ini dengan menggunkan format pengalaman dalam menjalankan bisnis.
Hari karir, jka direncanakan dengan tepat, bisa memberikan karir yang menarik dan berhubungan dengan pengalaman bagi siswa. Proses perkembangan hai karir mulai dengan membantu siswa mengenali profesi yang mereka inginkan untuk mencari dan menyusun daftar profesi di tingkat kelas dengan ditargetkan. Kemudian pekerja dalam profesi ini diundang untuk datang ke sekolah dan bertemu dengan kelompok siswa. Dasar hari karir, siswa seharusnya terorientasi pada strategi pengumpulan informasi, seperti pertanyaan yang diminta mengenai aspek yang diinginkan dan yang tidak diinginkan terhadap pekerjaan pekerja, pendidikan yang diperlukan, kondisi pekerjaan, jam, dan gaji. Selama hari karir, siswa menemui kelompok kecil dengan tiga tahu empat pekerja sekitar 30 menit. Mengikuti hari karir melibatkan meminta siswa membahas apa yang mereka pelajari dari pekerja dan apakah minatnya dalam berbagai pekerjaan ditingkatkan atau dikurangi. Siswa seharusnya juga menulis catatan terima kasih kepada pekerja yang ikut serta dalam program tersebut.
Mungkin nasihat yang paling penting untuk melaksanakan program perkembangan karir SD yaitu seharusnya menyenangkan. Permainan, pembicara yang menarik, dan bidang perjalanan menempatkan seperti museum seni dan kebun binatang dimana maksud yaitu mencari profesi dalam pengaturan yang bisa mengatur sifat program tersebut. Dan lagi, klise profesi seharusnya ditujukan dalam program dan setiap usaha seharusnya dibuat untuk membantu siswa belajar tentang hubungan antara pendidikan dan pekerjaan, dan memperoleh pengetahuan tentang diri mereka dan profesi.

VI. Nasihat Perencanaan Program: SMP
Sebagian besar siswa SMP telah memulai proses penentuan pilihan profesi. Jessel dan Boyer (1989) mengsurvey 5464 siswa kelas tujuh dan delapan dan menemukan bahwa hanya 6 persen setidaknya belum memberikan beberapa pertimbangan pada karir masa depannya. Menariknya, 94 persen siswa berharap menyelesaikan SMAnya. Meskipun memperkirakan tingkat dropout SMA yang berubah – ubah, ini diharapkan bahwa setidaknya 25 persen siswa yang memasuki SMA akan pergi sebelum mereka lulus (Brown, 1998)
Di SD, tujuan dasar adalah untuk meningkatkan kesadaran siswa terhadap pilihannya dengan memberikan informasi profesi dalam format yang menarik dan dengan menarik klise profesinya. Meskipun tujuan ini masih penting pada tingkat SMA, meningkatkan kesadaranya dan mempertinggi arah tujuannya, perencanaan, dan kemampuan menentukan keputusan menjadi penting. Alat penilaian bisa digunakan untuk menyelesaikan dan meningkatkan kesadaran diri, tapi siswa seharusnya digunakan pada latihan penilaian diri. Kemampuan penilaian diri bisa ditingkatkan dengan meminta siswa memperkirakan minat dan bakatnya dengan hasil ujian dan hasil inventaris.
Hanya ketika persoalan di SD, tema pengaturan untuk ekplorasi profesi harus dipilih. Karena banyak informasi yang tersedia untuk siswa yang diatur sekitar teori Holland (197), modelnya RIASEC mungkin berguna sebagai tema. Siswa yang telah mengambil satu diantara banyaknya skala minat yang mengukur elastis, Penyelidikan Artistik, Sosial, Keberanian untuk Berubah, dan profesi konvesional akan bisa menghubungkan minat dengan profesi tersebut. Walaupun, ini juga penting bagi siswa untuk mempertimbangkan dengan syarat diperlukannya ketrampilan dan kemampuan untuk menunjukkan profesi yang menarik mereka dan menghubungkan ini dengan pilihan pendidikannya.
Perencanaan gaya hidup dimulai di SMP dan maka unit yang berhubungan dengan kesadaran ekonomi yang seharusnya tercakup ke dalam program tersebut. Satu latihan yang berguna yaitu memberikan siswa gaji dan meminta mereka mencoba membuat pilihan gaya hidup tertentu. Misalnya, siswa mungkin ditempatkan ke dalam kelompok dihargai $20,00, $30,000, dan $40,000,. Kemudian, menggunakan Koran setempat, mereka mencoba menentukan dimana mereka akan tinggal (misalnya, apartemen, gedung, atau di rumah), mobil yang akan mereka kendarai, dan kegiatan waktu luang yang akan mereka gunakan. Bagian latihan ini membutuhkan mereka menyelidiki setelah pajak pendapatan seperti yang ditentang pada pendapatan bersih, biaya keperluan, asuransi mobil dan kepemilikan rumah, transportasi untuk berangkat kerja, dan sebagainya. Tipe informasi ini bisa diperoleh dari orang tua, saudara, atau teman. Setelah tiap kelompok telah menyelsaikan tugasnya, mereka melaporkan keputusannya mereka melakukannya dengan kelompok lain. Pada kesimpulan latihan ini, siswa meneliti profesi yang mereka pertimbangkan dengan menggunakan informasi berdasarkan internet untuk menentukan gaji yang diperoleh oleh orang – orang dalam profesi tersebut.
Sistem biimbingan karir yang dibantu komputer (CACGS) bisa digunakan untuk meningkatkan proses perkembangan karir di tingkat SMP. Luzzo dan Pierce (1996) mendirikan karir pendewasaan siswa ditingkatkan ketika siswa menggunakan penemuan dalam penjelajahan karirnya.
Prosedur kelompok kecil dikenal sebagai sarana meningkatkan perkembangan karir baik di SMP maupun di SMA, tetapi karena struktur, kelompoknya lebih mudah diatur di tingkat ini.
Kegiatan perkembangan karir kelompok mungkin sangat bervariasi, mungkin mengadakan seminar karir yang mewakili suatu profesi, seperti sales asuransi, atau supir truk bisa membahas sifat – sifat pekerjaannya, persyaratan pelatihan, persyaratan penggajian, keuntungan dan kerugian gaya hidup, dan lain sebagainya dengan kelompok kecil dari siswa yang tertarik. Kelompok juga bisa diatur untuk tujuan penyelidikan, fokus pada proses penentuan keputusan karir; atau untuk bidang perjalanan penjelajahan rumah sakit, tempat industri, dan sebagainya.

Kelompok pencegahan dropout yang memusatkan pada kegiatan perkembangan karir sangat popular. Dalam dropout atau bergantung (Brown, 1998) merupakan pedoman bagi siswa untuk menggunakan dalam kelompok pencegahan dropout, pertama siswa diajak melewati deretan kegiatan kesadaran diri. Siswa dilibatkan oleh kegiatan yang dibentuk untuk mengajarkan ketrampilan menentukan keputusan, kemudian siswa didorong berlatih menggunakan ketrampilannya dalam menentukan tujuan karir, pendidikan, dan tujuan kehidupan lain. Puncak kelompok kecil ini mempersiapkan siswa untuk masuk sekolah jika mereka dropout tetapi menentukan bahwa mereka telah melakukan kesalahan.
Seperti yang telah tertulis lewat buku ini, dukungan meningkat untuk pengalaman karir yang lebih luas yang melibatkan bersatunya perencanaan karir dengan peran hidup yang lain. Brown (1980) digarisbawahi apa yang dia maksud dengan kelompok perencanaan hidup, yang terdiri dari tujuh komponen: (1) memahami perilaku manusia, (2) konsep diri sebagai pemenang, (3) pentingnya fantasi dalam perencanaan, (4) mencocokan fantasi dengan kenyataan, (5) menentukan tujuan, (6) perencanaan jangka pendek, (7) perencanan jangka panjang.
Amatea, Clark, dan Cross (1984) mengevaluasi materi SMA selama dua minggu yang disebut gaya hidup yang dimaksudkan pada (1) meningkatkan kesadaran siswa terhadap nilainya dan kesenangannya untuk berbagai peran hidup, (2) meningkatkan kesadaran siswa terhadap biaya dan keuntungan yang berhubungan dengan berbagai gaya hidup, dan (3) membantu siswa membangun prioritas peran hidup. Mereka menemukan bahwa materinya nampak meningkatkan penentuan siswa mengenai pilihan karirnya. Mereka juga menemukan bahwa pada akhir pembahasan kelompok, laki – laki dan perempuan tidak berubah – ubah dalam sikap – sikapnya kearah peran keluarga.
Sebelum melibatkan siswa di dalam kegiatan kelompok, penyaringan wawancara seharusnya diadakan untuk menentukan tujuan siswa, tingkat motivasi dimana mereka bekerjasama dengan anggota kelompok lain. Siswa yang tidak termotifasi dan potesi masalah kedisiplinan mungkin terhindar dari kelompok kalau konselor merasa bahwa masalah tersebut bisa dikoreksi di dalam pengaturan kelompok.

VII. Kelas Karir
Beberapa SMP menawarkan kelas karir yang lamanya dari 9 hingga 18 minggu. Sekali materi ini diajarkan di tingkat kelas sembilan, tapi dengan reorganisasi SMA dan SMP, lebih mungkin mereka ditawarkan pada tingkat kelas tujuh atau delapan.
Kelas yang diatur pada karir memberikan pertimbangan topik yang lebih ekstensif daripada pada unit singkat yang dipelajari di kelas lain. Meskipun demikian, materi apapun tidak merupakan nilai yang terbatas jika ini ditemui pada buku pelajaran fashion dengan maksud cermatnya keakraban dengan dunia kerja. Tujuan materi semacam itu seharusnya memaksimalkan aktualisasi diri lewat perkembangan konsep yang tepat dengan tingkat pendewasaan siswa dan dekatnya dengan dunia kerja.
Satu keuntungan dari materi yang diatur dalam profesi atau karir bahwa ini bisa terikat dengan seluruh program konseling sekolah sebagaimana diangkat. Dalam beberapa materi sekolah diajarkan oleh anggota staf konseling yang persiapan akademiknya mungkin lebih tepat untuk pengajaran seperti materi daripada guru area persoalan. Bahkan meskipun rencana ini memberikan konselor yang berhubungan dengan siswa, ini juga mengurangi waktu yang ada untuk konseling pribadi dan kegiatan lain.
Materi diatur secara teratur diajarkan oleh konselor yang mungkin menawarkan kesempatan yang terbaik untuk menemui kebutuhan individu dari siswa yang terdaftar. Ini sehausnya mungkin menghubungkan kegiatan kelas dengan konseling individu dan mengembangkan pendekatan yang berdasarkan baik prosedur kelompok dan konseling individu, dengan siswa yang terlibat dengan kedua fase apakah perluasan itu tepat. Ketika pendekatan ini rangkap bisa diatur, siswa memiliki kesempatan maksimal dengan keuntungan.
Pemakaian materi yang diatur mungkin menyebabkan kemampuan sekolah untuk mengambil bahwa ini telah menemui tanggung jawabnya untuk membantu siswa dalam proses perkembangan karir. Ketika ini terjadi, materi menjadi satu usaha, dan aksioma dasar bahwa pilihan karir dan perkembangan seharusnya mulai pada awal sembilan tahun dan melanjutkan seluruh kehidupan seseorang tidak diperdulikan. Kuliah selama dua dan empat tahun sering mengambil pandangan dan menawarkan mata pelajaran pilihan yang disebut Perencanaan Hidup dan Karir atau Penjelajahan Karir. Meskipun materi tersebut berguna bagi yang mengikuti, ini tidak cukup menemui kebutuhan dari semua siswa.

VIII. Keterlibatan Orang Tua
Awal pada bab 2, persoalan pengenalan penentu keputusan dibahas. Meskipun orang tua yang memegang nilai sosial yang bebas mungkin tidak terlibat dalam proses penentu keputusan, mereka seharusnya terlibat dalam proses tersebut (Young, 1994). Orang tua yang memiliki nilai sosial kolektif berharap terlibat dalam proses penentuan pilihan karir seperti yang dilakukan anan – anak. Di SMP, orang tua seharusnya terlibat dalam perencanaan pendidikan dan disadarkan dengan hubungan antara pendidikan dan karir. Website tersedia untuk membantu orang tua supaya terlibat dalam perencanaan karir anak – anaknya, seperti
http://www.jobweb.com/Resources/Library/Parents/A_Parents_Guide_to136_01.htm, dimana bimbingan orang tua pada perkembangan karir itu ditempatkan. Hubungan karir (www.afb.org/section/asp?DocumentID=2843), yang diciptakan oleh Yayasan Amerika untuk Orang Buta, khususnya bisa digunakan kepada orang tua murid yang terganggu. Hubungan karir bisa didownload pada komputernya orang tua. Orang tua SD dan SMP mungkin berharap mengakses website pemerintah Amerika untuk anak – anak dan pelajar (http://benshuide.gpo.gov/subject.html), yang berisi kayanya tingkat informasi dalam karir ilmu pengetahuan di militer.
Bagian yang paling sulit dari dalam keterlibatan orang tua yaitu meminta orang tua yang miskin ikut serta, tidak berbahasa Inggris, atau tidak memiliki ketrampilan yang berkembang dengan baik sendiri. Beberapa orang tua ini berasal dari budaya yang tidak mendorong keterlibatan orang tua. Yang lain memiliki pengalaman negatif di sekolah dan makanya mengindari kontak dengan pendidik. Yang lain masih memiliki masalah perhatian dan transportasi. Ini dianjurkan di sini bahwa perkembangan karir diajak ke dalam masyarakat dengan memegang pembahasan untuk orang tua di pusat komunitas dan gereja dan memberikan pelayanan kunjungan bayi bersama dengan minuman dan makanan. Informasi tersebut seharusnya diberikan dalam bahasa Inggris seperti bahasanya para peserta.

IX. Saran Perencanaan Program: SMA
Banyak saran yang ditawarkan pada dua pembahasan sebelumnya bisa disesuaikan pada pengaturan SMA. Walaupun, siswa di tingkat ini seharusnya mempersiapkan untuk peralihan di tingkat pendidikan selanjutnya atau tugas dunia. Supaya membuat pilihan profesi yang bijak, mereka membutuhkan pengalaman penjelajahan karir yang dalam yang akan memberikan mereka keputusan informasi mengenai pengetahuannya, ketrampilannya, minatnya, dan nilai seperti saat memasuki tingkat kerja. Ini bisa dikerjakan sebaik baiknya lewat sedikit pekerjaan, training, penempatan kerja paruh waktu, dan wawancara dengan pekerja. Siswa yang bekerja memerlukan ketrampilan yang bisa dikerjakan, seperti menempatkan dan melamar kerja di internet, mengisi lamaran kerja, mengembangkan resume, wawancara, menulis surat untuk atasan, dan sebagainya. Ketrampilan ini bisa dikembangkan dalam kelmpok kecil atau pengaturan ruang kelas.

X. Menargetkan Siswa SMA dengan Kebutuhan Tertentu
Siswa dengan ketidakmampuan program perkembangan karir SMA seharusnya khusus diperhatikan bagi siswa yang tidak mampu. Pusat Nasional Pada Pendidikan dan Peralihan Tambahan (2005) menghasilkan cara penting: Pedoman untuk Pelaksanaan dan Program Pembelajaran yang Berdasarkan Pekerjaan Komprehensif untuk Hubungan Tindakan Standar Pekerjaan, yang mengenali empat bagian, penilaian karir, latihan yang berhubungan dengan pekerjaan, dan pengalaman kerja sama. Grayson (1999) menjelaskan dua program penggabungan. Sekolah yang didukung untuk bekerja (SSW) program fleksibel dari meteri akademik dan dibayarnya pengalaman kerja dalam memasuki tingkat kerja, semua diawasi oleh direktur yang mengembangkan pekerjaan, menempatkan siswa, dan melayani sebagai pelatih kerja. Pendekatan SSW bekerja berdampingan dengan pendidik kejuruan, mengingat pendekatan pekerjaan yang terkoordinasi melibatkan kerja training. Kedua pendekatan tersebut juga bekerja mendekatkan ketrampilan anjuran diri, ketrambilan untuk dapat bekerja, dan ketrampilan sosial.
Conway (2003/2004) menganjurkan bahwa tekanan yang lebih besar juga diperlukan untuk membantu siswa dengan ketidakmampuan melakukan transisi ke pendidikan yang lebih tinggi. Dia menunjukkan bahwa usaha ini mulai dengan mempersiapkan siswa ke tingkat SMA dengan ketidakmampuan dengan menyarankan mereka sungguh – sungguh mengenai syarat masuk, mendorong anjuran diri dan membantu mereka mengakses teknologi yang mendukung prestasi akademik. Perguruan tinggi dan universitas harus melanjutkan usaha diawali di SMA jika siswa dengan ketidakmampuan meraih keberhasilan.
Biller dan Horn (1991) telah menganjurkan bahwa ahli perkembangan karir mungkin memerlukan penyesuaian jika mereka membantu siswa dengan mempelajari ketidakmampuan. Biller dan Horn mengingatkan konselor untuk memepertimbangkan kemungkinan bahwa siswa dengan ketidakmampuan pembelajaran mungkin tidak sesiap persamaannya untuk menggunakan dalam perencanaan karir dan karena tingkat membaca yang lebih rendah, mereka mungkin lebih sulit menyerap informasi dari hal yang dicetak, petunjuk bacaan pada layar komputer, dan menyelesaikan cara penilaian. Juga, Humes (1992) menemukan bahwa siswa dengan mempelajari ketidakmampuan bagaimanapun memiliki minat karir yang berbeda daripada siswa lain dan menyarankan bahwa konselor perlu dipersiapkan untuk membantu mereka menjelajahi karir yang berhubungan dengan minat tersebut.
Roessler, Johnson, dan Schrimmer (1988) mengenali beberapa rintangan pada pelaksanaan program komprehensif untuk perkembangan karir bagi siswa yang tidak mampu: “penilaian, perencanaan, materi kurikulum, pengelompokan dan pertahanan (dari sekolah ke masyarakat), dan system komitmen” (hal. 24). Proses yang digarisbawahi dalam bimbingan Perkembangan Karir Nasional (Kobylarz, 1996; NOICC, 1989b) bisa digunakan jika diterapkan dengan tepat seperti bimbingan untuk menguasai perencanaan dan rintangan komitmen system sekolah. Ukuran untuk menilai potensi profesi siswa dengan ketidakmampuan membenahi terus menerus, dan Roessler dan koleganya (Roessler dkk., 1988) tepatnya materi yang bisa digunakan dalam penilaian siswa yang tidak mampu. Ressler juga menyimpulkan bahwa materi kurikulum Pendidikan Karir Pusat mungkin menyebabkan defisit sebelumnya di area ini.

Program Perkembangan Karir Siswa Minoritas untuk siswa minoritas merupakan dasar setiap usaha untuk memajukan keadilan ekonomi. Perbedaan antara tarip dan pendapatan untuk siswa minoritas mulai pada saat masuk kedalam tenaga kerja dan memperluas dengan waktu dan pengalaman, tanpa memperhatikan apakah siswa tidak mampu (Cameto, Marder, Wagner, dan Cardosa, 2003). Beberapa program untuk siswa minoritas seharusnya lebih besar. Yang lain, seperti salah satunya dijelaskan oleh Grover (1999) di SMA Whitehorse di Utah yang sangat berbeda. SMA Whitehorse terletak di daerah Navajo. Lima puluh lima persen siswa dikelompokkan sebagai tunawisma, 93 persen bebas memenuhi syarat atau berkurangnya tingkat makan siang, banyak siswa yang tidak hadir sekali sebanyak 30 kali, dan 14 persen berada di pendidikan khusus. Setiap siswa di dalam program tersebut dimampukan dengan perkembangan ketrampilan teknologi, harus menentukan pilihan karir dan ikut serta dalam seminggu pengalaman sedikit pekerjaan sebagai bagian kelas seni bahasa di tahun keempat. Orang tua terlibat dalam pertemuan dua kali setahun. Ada 300 siswa di dalam program tersebut dan 265 komputer tersedia untuk mereka gunakan. Beberapa lulusan program telah bekerja khususnya dibutuhkannya sarjana. Penelitian oleh Karunanayake dan Nauta (2004) menganjurkan bahwa bagian dari program bagi siswa minoritas seharusnya mencakup contoh peran sesama ras. Siswa minoritas dalam pembelajarannya dikenal sebagai contoh yang bepengaruh seperti yang dilakukan oleh siswa kulit putih dan sebagian besar daftar contoh ras yang sama.

Siswa yang Memiliki Berbagai Potensi Ini mungkin kebenaran yang tak dapat disangakal lagi bahwa konselor meremehkan kebutuhan siswa yang berbakat, atau sebagai Pask-McCartney dan Salamone (1988) menghubungkan mereka, siswa yang memiliki berbagai potensi, karena mereka memiliki begitu banyak kesempatan yang terbuka merupakan semacam sumpah. Post-Kammer dan Perrone (1983) melaporkan bahwa lebih dari 30 persen siswa yang berbakat dalam pembelajaranya terasa tidak dipersiapkan untuk menentukan keputusan karir ketika mereka meninggalkan SMA. Ini mungkin merupakan persoalan bahwa tipe program yang diperlukan oleh siswa ini tidak berubah – ubah dari yang diperlukan oleh teman yang kurang berbakat, meskipun laporan oleh Borman, Nash, Colson (1978) menganjurkan bahwa siswa yang berbakat di dalam programnya tidak menyukai bagian ujian tersebut. Ini sangat mungkin bahwa siswa ini telah teruji begitu luas bahwa mereka berbeda dengan proses penilaian formal.
Dalam pembelajaranya bahwa maksud program perkembangan karir anak anak yang berbakat, Gassin, Kelly, dan Feldhusen (1993) tidak menemukan perbedaan terhadap pastinya pilihan karir antara anak berbakat di SMP. Walaupun, di saat mereka dewasa menjadi kurang yakin tentang pilihan karirnya, mungkin karena mereka mulai mempertimbangkan perannya sebagai bapak dan ibu dalam rencananya. Menariknya, perempuan lebih terlibat dalam perencanaan karir daripada laki – laki selama SMA. Pembelajaran ini menganjurkan bahwa usaha yang diarahkan terhadap perempuan mungkin perlu fokus mengenali faktor – faktor yang menuntun pada ketidakpastian dan membantu menghadapi mereka, mengingat usaha yang mungkin perlu dijaga untuk memperkirakan perencanaan antar anak SMA.

XI. Sumber Keterlibatan Masyarakat dalan Program tersebut
Kegunaan sumber masyarakat ini penting di segala tingkat pendidikan, tapi memperkerjakan mereka di tingkat SMA itu penting. Bisnis bisa memberikan sedikit pekerjaan di tingkat majunya pengalaman, masa training, dan bekerja paruh waktu atau full time. Agen penempatan kerja mungkin memberikan knseling karir dan pelayanan penempatan kerja. Sumber masyarakat, jika dipekerjakan dengan tepat, bisa menambah dimensi penting menuju program perkembangan karir SMA
Pada sebagian besar persoalan, bisnis dan industri lokal memiliki ikatan kuat dengan sekolahan. Mereka memiliki minat dalam diri siswa terhadap sekolah setempat, yang merupakan sumber utama pegawai, khususnya untuk posisi yang tidak membutuhkan training setelah SMA. Karena sifat hubungan ini, mereka tertarik dalam bekerjasama dengan berbagai kemungkinan cara untuk membenahi kualitas siswanya. Ini memberikan masukan sekolah sebagai perwakilan dari bisnis dan industri daerah, yang mungkin bisa memberitahukan siswa mengenai bidang kegiatanya. Kelompok profesianal setempat mungkin juga ingin sekali memberikan semacam pelayanan yang sama bagi siswa yang tertekan.
Klub pelayanan setempat, yang anggotanya tertarik dengan bisnis setempat, industri, dan profesi juga ingin sekali memberikan bantuan kepada sekolah atau siswa tertentu dalam hubungannya dengan informasi karir. Mereka bisa membantu dalam mengatur pertemuan hari karir atau peninjauan profesi masyarakat. Anggota sering didorong menyediakan siswa untuk membahas kesempatan karir di bidangnya.
Perwakilan serikat kerja setempat atau pegawai bisa memberikan informasi persyaratan training, program pekerjaan magang, kesempatan kerja, syarat keanggotaan, dan keuntungan. Kantor pemerintah terletak di masyarakat, di daerah, atau tingkat nasioanl, sering bisa memberikan informasi untuk membantu siswa kesempatan dan persyaratan pelayanan pemerintah merupakan area yang bisa mencakup oleh perwakilan. Agen seperti kantor perluasan wilayah dan layanan pekerjaan sudah terlibat oleh sifat kerjanya dalam kegiatan informasi karir.
Setiap masyarakat mencakup beberapa agen sosial yang terlibat dalam kegiatan informasi karir. Khususnya mungkin terlibat merupakan agen yang memiliki pelayanan yang pada dasarnya diarahkan pad anak muda, seperti pramuka, YMCA, YWCA, dan klub 4H. Banyak diantaranya melayani sesama anak sekolah ketika di sekolah. Proyek informasi karir tertentu mungkin bahwa mereka mungkin bisa mengembangakan bantuan sebenarnya ke sekolah. Mereka mungkin juga memiliki akses informasi di bidang tertentu yang bisa membantu sekolah pada program informasi karir.
Banyak gereja mengatur program kegiatan tertentu untuk anak usia sekolah. Seringnya program ini fokus pada perhatian dan masalah usia kelompok yang terlibat; bagi remaja, ini tak terelakkan mencakup masalah hubungankarir. Banyak gereja yang mendukung atau memelihara hubungan perguruan tinggi dengan gereja atau institusi pendidikan lain yang mungkin sangat penting bagi anggota kelompok pemuda gereja. Sejumlah gereja menjalankan program perkemahan musim panas untuk anak muda usia sekolah, maka memberikan sarana tambahan untuk mencapai pendewasaan.
Kerjasama dengan perpustakaan seempat mungkin memberikan kumpulan yang lebih komprehensif dari materi informasi karir seperti perkembangan pelayanan khusus yang merupakan bantuan kepada anak muda usia sekolah.
Banyak sumber mengabaikan lebih dari satu diantara kategori yang telah kami pertimbangkan. Di berbagai cara, ini mungkin paling berharga diantara semua. Konselor dan guru mungkin menemukan keuntungan untuk membenagun jaringan yang melibatkan hubungan dengan sebanyak sekolah dan sumber masyarakat semungkin yang tiap hubungan ini bisa memberikan informasi pada sumber baru.

XII. Ringkasan
Model nasioanl ASCA (ANM) menggabungkan perkembangan karir dengan model komprehensif. Dalam mengikuti ANM, pendekatan yang digaris bawahi dalam bab ini berdasarkan kompetensi. Program mungkin menargetkan semua daftar kompetensi pada ANM. Agaknya, perencanan program seharusnya memilih untuk potensi perkembangan menargetkan potensi perkembangan berdasarkan pada penilaian terhadap kebutuhan siswa.
Proses program perkembangan karir itu menemui kebutuhan siswa merupakan program sulit yang hanya diawal pada maksud program tersebut itu terlaksanakan. Evaluasi data seharusnya dikumpukan dan disebarkan pada dasar terus menerus dan hasilnya digunakan untuk membenahi program tersebut. Dengan penuh harapan, kunci elemen program tersebut akan membenahi perkembangan karir dari siswa minoritas dan siswa yang tidak mampu. Ahli perkembangan karir memiliki kesempatan untuk membenahi kedudukan ekonomi dan sosial ini dan siswa lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: