counceling

Arsip untuk kategori ‘Teori Kepribadian Freud

A. Pengantar
Psikoanalisis adalah sebuah pendekatan perkembangan kepribadian, filsafat tentang manusia serta pendekatan psikoterapi dan konseling. Peletak dasar teori psikoanalisis adalah Sigmund freud, seorang ahli saraf yang menaruh perhatian pada ketidaksadaran. Menurutnya kepribadian manusia terbesar berada pada dunia ketidaksadaran dan merupakan sumber energi tingkah laku manusia yang penting.
Psikoanalisis merupakan model konseling yang berorientasi pada pendekatan klinis dan irrasional. Pendekatan ini didasarkan pada konsep tentang gangguan kepribadian dan perilaku neurotik. Psikoanalisis memandang kejiwaan manusia sebagai ekspresi dari adanya dorongan yang menimbulkan konflik (Gunarsa, 1992:169). Dorongan-dorongan ini sebagian disadari dan sebagian lagi bahkan sebagian besar tidak disadari. Konflik timbul karena ada dorongan-dorongan yang saling bertentangan, yaitu adanya ketidakseimbangan antara id, ego, dan superego yang sering berakibat seseorang menjadi irrasional. Kondisi irrasional terjadi pada individu karena individu mengalami kepribadian yang kacau (tidak seimbang). Psikoanalisis dilaksanakan untuk menyembuhkan perilaku individu yang irrasional, sehingga dikatakan sebagai pendekatan yang berorientasi klinis (penyembuhan).
Sumbangan-sumbangan penting dari teori dan praktek psikoanalisis mencakup : (1) kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami, dan pemahaman terhadap sifat manusia bisa diterapkan pada peredaan penderitaan manusia. (2) Tingkah laku diketahui sering ditentukan oleh faktor-faktor ketidaksadaran, (3) Perkembangan pada masa dini memiliki pengaruh yang kuat terhadap kepribadian di masa dewasa, (4) menyediakan kerangka kerja yang berharga untuk memahami cara-cara yang digunakan oleh individu dalam mengatasi kecemasan dengan menggunakan mekanisme yang bekerja untuk menghindari luapan kecemasan, (5) pendekatan psikoanalitik telah memberikan cara-cara mencari keterangan dari ketaksadaran melalui analisis atas mimpi-mimpi, resistensi-resistensi, dan transferensi-transferensi. (Corey, 1995:13).
B. Sejarah singkat Sigmund Frued
Sigmund Freud adalah penemu teori psikoanalisis. Oleh karena itu ia disebut sebagai babak Psikoanalisis. Nama asli Sigmund Freud adalah Sigismund Freud atau Sigismund Schlomo Freud. Sigmund Freud dilahirkan pada tanggal 6 Mei 1856 di Freiberg (Austria), pada masa bangkitnya Hitler, dan wafat di London pada tanggal 23 September 1939 (usia 83 tahun). Ia adalah seorang Jerman keturunan Yahudi dengan nama Yahudi Schlomo. Pada usia 4 tahun ia dan keluarga pindah ke Viena, dimana ia menghabiskan sebagian besar masa hidupnya. Meskipun keluarganya adalah Yahudi namun Freud menganggap bahwa dirinya adalah atheist.
Ayahnya bernama Jacob Freud seorang pengusaha tekstil, memiliki dua anak dari perkawinan sebelumnya bernama Emmanuel dan Philippe. Ibu Freud sebenarnya bernama Amalia Nathansohn 1835-1930. Sebagai anak pertama Freud adalah anak yang paling disayangi oleh ibunya. Ia sering disebut dengan “My Golden Sigi”.(Jean Chiriac) .Meskipun dari keluarga yang sangat sederhana, Freud adalah anak yang sangat berprestasi. Ia menerima penghargaan summa cum laudae sewaktu di sekolah dasar.
Semasa muda ia merupakan anak favorit ibunya. Dia adalah satu-satunya anak (dari tujuh bersaudara) yang memiliki lampu baca (sementara yang lain hanya menggunakan lilin sebagai penerang) untuk membaca pada malam hari dan satu-satunya anak yang diberi sebuah kamar dan perabotan cukup memadai untuk menunjang keberhasilan sekolahnya. Freud dikenal sebagai seorang pelajar yang jenius, menguasai 8 (delapan) bahasa. Pada usia 17 tahun Freud masuk Universitas Vienna. Ia merencanakan masuk di jurusan hukum, namun tapa alasan yang jelas ia masuk di jurusan kedokteran. Freud merupakan orang yang sangat tekun, ia sangat tertarik pada bidang fisiologi dan neurologi. Sigmund Freud lulus dari unversitas Vienna pada tahun 1881 dan ia memutuskan untuk membuka praktek di bidang neurologi. . .
Pada saat masuk di universitas Vienna, Freud adalah seorang ateis. Bisa dikatakan bahwa dia tidak percaya pada Tuhan. Ia sangat konsen pada hal-hal yang bersifat mistis (Myth). Pandangan dan ideologinya inilah yang kemudian mempengaruhi karya-karyanya. Kalau dilihat dari teman dan gurunya, Freud adalah seorang yang positifistik. Gurunya yang paling ia kenang adalah Ernst Bruene, yaitu seorang ahli fisiologi yang keras. .
Dari sisi keluarga, Freud tidak pernah mendapat penekanan pada salah satu agama. Keluarganya memberi kebebasan kepadanya untuk berfikir sesuai dengan apa yang diyakini. Wajarlah jika akhirnya ia pun nampak tidak punya pendirian yang jelas mengenai suatu agama. Bahkan kaitannya dengan hal ini, Freud beranggapan bahwa agama adalah illusi. Setiap orang yang taat pada agama dianggapnya sebagai orang yang berada dalam ketakutan dan dalam ketidakberdayaan.
Pada tahun 1882, Freud meninggalkan perkejaanya di laboratiorium dan menerima pekerjaan di RSU Veinna. Pada saat itu Freud bertemu dengan seorang gadis bernama Martha Bernays yang kemudian menjadi istrinya. Dari perkawinan inilah lahir Anna, yang kemudian menjadi seorang tokoh psychoanalysis terkemuka.
Pada tahun 1890an Freud mulai menemukan fokus keahliannya yaitu dibidang psikologi. Ia telah membentuk teori psikoanalisis. Konsentrasi ini awalnya didasari atas dorongan dari Jean-Martin Charton, seorang ahli neurologi Prancis. Martin memberikan pemahaman yang mendalam tentang hipnotis. Sebagai sarana dalam mengatasi gangguan medis. Tesisnya menyatakan bahwa histeria merupakan suatu penyakit ringan yang diderita baik laki-laki maupun perempuan.
Setelah menemukan ketertarikannya pada bidang psikologi, Freud mulai belajar gejala-gejala psilogis dari teman dan pasien-pasiennya. Freud bahkan semakin menspesialisasikan diri pada para perempuan yang menderita histeria. Dari proses mendengarkan keluhan-keluhan pasien inilah Freud banyak menemukan kebenaran-kebenaran dari apa yang ia pesepsikan. Pada tahun 1895, Freud bersama dengan Joseph Breuer menerbitkan Studies of Hysteria. Majalah ini membahas tentang kisah-kisah pasien Breuer “Anna O”. Anna O merupakan pasien yang paling penting dalam penelitian psikoanalisis. Mulai dari sinilah Freud menyadari bahwa histeria merupakan akibat kesalahan fungsi seksual dan gejala-gejalan histeria adalah sesuatu yang bisa dibicarakan. .
Seiring dengan semakin matangnya ketertarikan Freud pada psikoanalisis, ia mengembangkan gagasan psikoanalisis dari mimpi-mimpinya sendiri. Hal ini ia lakukan dengan menganalisis mimpi-mimpinya sendiri pada saat yang hampir bersamaan Freud juga menemukan bahwa gejala psikologis sangat penting dalam mempengaruhi hidup seseorang. Hal ini ia buktikan saat ayahnya meninggal pada tahun 1896. Kematian sang ayah memberikan dampak sangat penting atas diri Freud dan juga psikoanalisis. Setelah kesedihan inilah Freud mulia memfokuskan diri pada psikoanalisis pada diri sendiri. .
Karya pertama Freud tentang psikoanalisis adalah The Interpretation of Dream tahun 1899 yang masih dikenal sampai hari ini. Dalam buku ini Freud memperkenalkan konsep yang disebut “unconscious mind” (alam ketidaksadaran).. Meskipun karya ini tidak mendapat sambutan positif Freud tetap optimis dan selalu mengembangkan teori psikoanalisis dengan menulis buku yang kedua. Buku kedua ini diberi judul Psychopathology of Every Day Life ditulis pada 1901. Pada karya kedua inilah Freud mulai mendapat sambutan dari pembaca. Meskipun mendapat berbagai pertentangan dan kontraversi atas pemikirannya, akhirnya pada tahun 1902 Freud mendapat gelar Professor di University of Viena dan saat ini namanya mulai mendunia. Pada tahun 1905 ia mengejutkan dunia dengan teori perkembangan psikoseksual (Theory of Psychosexual Development) yang mengatakan bahwa seksualitas adalah faktor pendorong terkuat untuk melakukan sesuatu dan bahwa pada masa balita pun anak-anak mengalami ketertarikan dan kebutuhan seksual. Beberapa komponen teori Freud yang sangat terkenal adalah:
 The Oedipal Complex, dimana anak menjadi tertarik pada ibunya dan mencoba mengidentifikasi diri seperti sang ayahnya demi mendapatkan perhatian dari ibu
• Konsep Id, Ego, dan Superego. — -
• Mekanisme pertahanan diri (ego defense mechanisms)
Istilah psikoanalisa yang dikemukakan Freud sebenarnya memiliki beberapa makna yaitu: (1) sebagai sebuah teori kepribadian dan psikopatologi, (2) sebuah metode terapi untuk gangguan-gangguan kepribadian, dan (3) suatu teknik untuk menginvestigasi pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan individu yang tidak disadari oleh individu itu sendiri. Sejak the Psychoanalytic Society (Perhimpunan Masyarakat Psikoanalisa) didirikan pada tahun 1906, maka muncul beberapa ahli psikologi yang dua diantaranya adalah Alfred Adler dan Carl Jung. Tahun 1908 Freud mulai menyebarkan pemikiran psikoanalisisnya dengan diskusi-diskusi. Sampailah akhirnya terbentuk kelompok diskusi yang diberi nama Veinna Psychoanalytic Society. Pada tahun 1909 Freud mulai dikenal di seluruh dunia ketika ia melakukan perjalanan ke USA untuk menyelenggarkan Konferensi International pertama kalinya. Freud dikenal sebagai seorang perokok berat yang akhirnya menyebabkan dia terkena kanker pada tahun 1923 dan memaksanya untuk melakukan lebih dari 30 kali operasi selama kurang lebih 16 tahun. Pada tahun 1933, partai Nazy di Jerman melakukan pembakaran terhadap buku-buku yang ditulis oleh Freud. Dan ketika Jerman menginvasi Austria tahun 1938, Freud terpaksa melarikan diri ke Inggris dan akhirnya meninggal di sana setahun kemudian.

BAB II
PEMBAHASAN

1. Teori Psikoanalisa Sigmund Freud

A. Persepsi Tentang Sifat Manusia
Menurut Sigmund Freud, perilaku manusia itu ditentukan oleh kekuatan irrasional yang tidak disadari dari dorongan biologis dan dorongan naluri psikoseksual tertentu pada masa lima tahun pertama dalam kehidupannya. Pandangan ini menunjukkan bahwa aliran teori Freud tentang sifat manusia pada dasarnya adalah deterministik. Namun demikian menurut Gerald Corey yang mengutip perkataan Kovel, bahwa dengan tertumpu pada dialektika antara sadar dan tidak sadar, determinisme yang telah dinyatakan pada aliran Freud luluh. Lebih jauh Kovel menyatakan bahwa jalan pikiran itu adalah ditentukan, tetapi tidak linier. Ajaran psikoanalisis menyatakan bahwa perilaku seseorang itu lebih rumit dari pada apa yang dibayangkan pada orang tersebut. Frued juga menekankan peran naluri-naluri. Segenap naluri bersifat bawaan dan biologis. Frued menekankan naluri-naluri seksual dan impuls-impuls agresif. Ia melihat tingkah laku sebagai determinan oleh hasrat memperoleh kesenangan dan menghindari kesakitan. Manusia memiliki naluri-naluri kehidupan maupun naluri kematian atau dengan istilah lain freud mengelompokan isnting menjadi dua katagori, yaitu insting untuk hidup (life instincts) dan isnting untuk mati (death instinct). Life instincts mencakup lapar, haus dan seks. Ini merupakan kekuatan yang kreatif dan bermanifestasi yang disebut libido. Insting untuk mati (death instinct atau thanatos) merupakan kekuatan destruktif. Ini dapat ditujukan kepada diri sendiri, menyadari diri sendiri atau bunuh diri, atau ditujukan keluar sebagai bentuk agresi. Lebih lanjut beliau juga mengatakan kehidupan tidak lain adalah jalan melingkar kearah kematian. Di sini, Freud memberikan indikasi bahwa tantangan terbesar yang dihadapi manusia adalah bagaimana mengendalikan dorongan agresif itu. Bagi Sigmund Freud, rasa resah dan cemas seseorang itu ada hubungannya dengan kenyataan bahwa mereka tahu umat manusia itu akan punah.
B. Teori Kepribadian
Dalam mencoba memahami sistem kepribadian manusia, Frued membangun model kepribadian yang saling berhubungan dan menimbulkan ketegangan satu sama lain. Konflik dasar dari tiga sistem kepribadian tersebut menciptakan energi psikis individu. Energi dasar ini menjadi kebutuhan instink individu yang menuntut pemuasan. Tiga sistem tersebut adalah id, ego dan superego. Meskipun memiliki ciri-ciri, prinsip kerja, fungsi dan sifat yang berbeda, ketiga sistem ini merupakan satu tim yang saling bekerja sama dalam memengaruhi prilaku manusia. Id adalah komponen kepribadian yang berisi impuls agresif dan libinal, dimana sistem kerjanya dengan prinsip kesenangan “pleasure principle”, mencari pemuasan segera impuls biologi.. Ego adalah bagian kepribadian yang bertugas sebagai pelaksana, dimana sistem kerjanya pada dunia luar untuk menilai realita, menunda pemuasan sampai bisa dicapai dengan cara diterima masyarakat dan berhubungan dengan dunia dalam untuk mengatur dorongan-dorongan id agar tidak melanggar nilai-nilai superego. Superego adalah bagian moral dari kepribadian manusia, karena ia merupakan filter dari sensor baik- buruk, salah- benar, boleh- tidak (hati nurani;suara hati) sesuatu yang dilakukan oleh dorongan ego. Jadi, jelas bahwa dalam dalam teori psikoanalisis Frued, ego ini harus menghadapi konflik antara id ( yang berisi naluri, seksual dan agresif yang selalu minta disalurkan). Selanjutnya, Ego masih harus mempertimbangkan realitas di dunia luar sebelum menampilkan prilaku tertentu. Gerald Corey menyatakan dalam perspektif aliran Freud ortodoks, manusia dilihat sebagai sistem energi, dimana dinamika kepribadian itu terdiri dari cara-cara untuk mendistribusikan energi psikis kepada id, ego dan super ego, tetapi energi tersebut terbatas, maka satu diantara tiga sistem itu memegang kontrol atas energi yang ada, dengan mengorbankan dua sistem lainnya, jadi kepribadian manusia itu sangat ditentukan oleh energi psikis yang menggerakkan. Menurut Calvil S. Hall dan Lindzey, dalam psikodinamika masing-masing bagian dari kepribadian total mempunyai fungsi, sifat, komponen, prinsip kerja dinamika dan mekanisme tersendiri, namun semuanya berinteraksi begitu erat satu sama lainnya, sehingga tidak mungkin dipisahkan. Id bagian tertua dari aparatur mental dan merupakan komponen terpenting sepanjang hidup. Id dan instink-instink lainnya mencerminkan tujuan sejati kehidupan organisme individual. Jadi id merupakan pihak dominan dalam kemitraan struktur kepribadian manusia. Menurut S. Hall dan Lindzey, dalam Sumadi Suryabarata, cara kerja masing-masing struktur dalam pembentukan kepribadian adalah: (1) apabila rasa id-nya menguasai sebahagian besar energi psikis itu, maka pribadinya akan bertindak primitif, implusif dan agresif dan ia akan mengubar impuls-impuls primitifnya, (2) apabila rasa ego-nya menguasai sebagian besar energi psikis itu, maka pribadinya bertindak dengan cara-cara yang realistik, logis, dan rasional, dan (3) apabila rasa super ego-nya menguasai sebagian besar energi psikis itu, maka pribadinya akan bertindak pada hal-hal yang bersifat moralitas, mengejar hal-hal yang sempurna yang kadang-kadang irrasional. Jadi untuk lebih jelasnya sistem kerja ketiga struktur kepribadian manusia tersebut adalah: Pertama, Id merupakan sistem kepribadian yang orisinil, dimana ketika manusia itu dilahirkan ia hanya memiliki Id saja, karena ia merupakan sumber utama dari energi psikis dan tempat timbulnya instink. Id tidak memiliki organisasi, buta, dan banyak tuntutan dengan selalu memaksakan kehendaknya. Seperti yang ditegaskan oleh A. Supratika, bahwa aktivitas Id dikendalikan oleh prinsip kenikmatan dan proses primer. Kedua, Ego mengadakan kontak dengan dunia realitas yang ada di luar dirinya. Di sini ego berperan sebagai “eksekutif” yang memerintah, mengatur dan mengendalikan kepribadian, sehingga prosesnya persis seperti “polisi lalulintas” yang selalu mengontrol jalannya id, super- ego dan dunia luar. Ia bertindak sebagai penengah antara instink dengan dunia di sekelilingnya. Ego ini muncul disebabkan oleh kebutuhan-kebutuhan dari suatu organisme, seperti manusia lapar butuh makan. Jadi lapar adalah kerja Id dan yang memutuskan untuk mencari dan mendapatkan serta melaksanakan itu adalah kerja ego. Sedangkan yang ketiga, superego adalah yang memegang keadilan atau sebagai filter dari kedua sistem kepribadian, sehingga tahu benar-salah, baik-buruk, boleh-tidak dan sebagainya. Di sini superego bertindak sebagai sesuatu yang ideal, yang sesuai dengan norma-norma moral masyarakat.
C. Dinamika Kepribadian Freud sangat terpengaruh oleh filsafat determinisme dan positivisme abad XIX dan menganggap organinisme manusia sebagai suatu kompleks sistem energi, yang memperoleh energinya dari makanan serta mempergunakannya untuk bermacam-macam hal : sirkulasi, pernafasan, gerakan otot-otot, mengamati, mengingat, berfikir, dan sebaginya. Maka frued menamakan energi dalam bidang psike ini “energi psikis” (psychic energi). Menurut hukum “penyimpanan tenaga” (Conservation of energy) maka energi dapat berpindah dari satu tempat kelain tempat, tetapi tak dapat hilang. Berdasarkan pada pemikiran itu freud berpendapat bahwa energi psikis dapat dipindahkan ke energi fisiologis dan sebaliknya . ( Sumadi S. 1993:149). Lebih lanjut Frued mengatakan jembatan antara energi tubuh dengan kepribadian ialah Id dengan instink
1. Instink. Ada tiga istilah yang banyak persamaanya, yaitu instink, keinginan (wish), dan kebutuhan (need). Instink adalah sumber perangsang somatis dalam yang dibawa sejak lahir, keinginan adalah perangsang psikologis, sedangkan kebutuhan adalah perangsang jasmani. Instink mempunyai empat macam sifat, yaitu ; a. Sumber instink yang menjadi sumber instink adalah kondisi jasmaniah; jadi kebutuuhan. b, Tujuan instink adapun tujuannya adalah menghilangkan rangsangan kejasmanian, sehingga ketidak-enakan yang timbul karena adanya tegangan yang disebabkan oleh meningkatnya energi dapat ditiadakan. Misalnya: tujuan instink lapar (makan) ialah menghilangkan keadaan kekurangan makanan, dengan cara makan. c, obyek instink yaitu segala aktivitas yang mengantarai keinginan dan terpenuhnya keinginan itu. Jadi tidak hanya terbatas pada benda saja, tetapi termasuk pula cara-cara memenuhi kebutuhan yang timbul karena instink. d, pengerak instink adalah kekuatan instink itu, yang tergantung kepada intensitas (besar-kecil) kebutuhan. Misal; makin lapar orang (sampai batas tertentu) penggerak intink makanannya makin besar. Walaupun demikian frued menerima bahwa bermacam-macam instink itu dapat dikelompokan menjadi dua kelompok, yaitu intink hidup dan instink mati. Fungsi instink-instink hidup adalah melayani maksud individu untuk tetap hidup dan memperpanjang ras. Bentuk utama instink hidup adalah instink makan dan minum serta seksual. Sedangkan isntink mati disebut juga instink merusak (destruktif). Insting ini berfungsi kurang jelas jika dibandingkan dengan instink hidup, karenanya tidak begitu dikenal. Akan tetapi adalah suatu kenyataan yang tidak dapt difungkiri, bahwa tiap orang itu pada ahirnya akan mati juga. Inilah yang menyebabkan Frued merumuskan bahwa “tujuan semua hidup adalah mati”.
2. Kecemasan Bagian yang tidak kalah penting dari teori Freud adalah tentang kecemasan. Gerald Corey mengartikan kecemasan itu adalah sebagai suatu keadaan tegang yang memaksa kita untuk berbuat sesuatu. Kecemasan ini menurutnya berkembang dari konflik antara sistem id, ego dan superego tentang sistem kontrol atas energi psikis yang ada. Fungsinya adalah mengingatkan adanya bahaya yang datang. Frued (Sumadi S. 1993:161) mengemukakan adanya tiga macam kecemasan, yaitu ; a. Kecemasan realitis, takut akan bahaya didunia luar. b, kecemasn neurotis yaitu kecemasan kalau instink-instink tidak dapat dikendalikan dan menyebabkan orang berbuat sesuatu yang dapat dihukum. Kecemasan ini sebenarnya mempunyai dasar di dalam realitas, karena dunia sebagaimana diwakili oleh orang tua dan lain-lain orang yang melakukan tindakan. c, kecemasan moral adalah kecemasan kata hati. Sedangkan menurut Calvin S. Hall dan Lindzey, kecemasan itu ada tiga: kecemasan realita, neurotik dan moral. (1) kecemasan realita adalah rasa takut akan bahaya yang datang dari dunia luar dan derajat kecemasan semacam itu sangat tergantung kepada ancaman nyata. (2) kecemasan neurotik adalah rasa takut kalau-kalau instink akan keluar jalur dan menyebabkan sesorang berbuat sesuatu yang dapat mebuatnya terhukum, dan (3) kecemasan moral adalah rasa takut terhadap hati nuraninya sendiri. Orang yang hati nuraninya cukup berkembang cenderung merasa bersalah apabila berbuat sesuatu yang bertentangan dengan norma moral.
D. Pandangan Tentang Kepribadian Pemahaman tentang kesadaran dan ketidaksadaran manusia merupakan salah satu sumbangan terbesar dari pemikiran Freud. Menurutnya, kunci untuk memahami perilaku dan problema kepribadian bermula dari hal tersebut. Ketidakasadaran itu tidak dapat dikaji langsung, karena perilaku yang muncul itu merupakan konsekuensi logisnya. Menurut Gerald Corey (2003:16), bukti klinis untuk membenarkan alam ketidaksadaran manusia dapat dilihat dari hal-hal berikut, seperti: (1) mimpi; hal ini merupakan pantulan dari kebutuhan, keinginan dan konflik yang terjadi dalam diri, (2) salah ucap sesuatu; misalnya nama yang sudah dikenal sebelumnya, (3) sugesti pasca hipnotik, (4) materi yang berasal dari teknik asosiasi bebas, dan (5) materi yang berasal dari teknik proyeksi, serta isi simbolik dari simptom psikotik. Sedangkan kesadaran itu merupakan suatu bagian terkecil atau tipis dari keseluruhan pikiran manusia. Hal ini dapat diibaratkan seperti gunung es yang ada di bawah permukaan laut, dimana bongkahan es itu lebih besar di dalam ketimbang yang terlihat di permukaan. Demikianlah juga halnya dengan kepribadian manusia, semua pengalaman dan memori yang tertekan akan dihimpun dalam alam ketidaksadaran. Tingkatan kesadaran manusia dapat digolongkan menjadi 3 tingkat, yaitu: a. Kesadaran; merupakan tingkatan yang memiliki fungsi mengingat, menyadari, dan merasakan sesuatu secara sadar. Kesadaran ini memiliki ruang yang terbatas dan tampak pada saat individu menyadari berbagai stumulus yang ada disekitarnya. b. Ambang sadar; merupakan tingkatan kesadaran yang menyimpan ide, ingatan, dan perasaan yang berfungsi mengantarkan ke tingkat kesadaran. Ambang sadar bukan merupakan bagian dari tingkat kesadaran, tetapi merupakan tingkatan lain yang biasanya membutuhkan waktu beberapa saat untuk menyadari sesuatu. c. Ketidaksadaran ; adalah tingkatan dunia kesadaran yang terbesar dan sebagai bagian terpenting dari struktur psikis, karena segenap pikiran dan perasaan yang dialami sepanjang hidupnya yang tidak dapat disadari lagi akan tersimpan di dalam ketidaksadaran. Tingkah laku manusia sebagian besar didorong oleh perasaan dan pikiran yang tersimpan di tingkat ketidaksadaran ini.
E. Mekanisme pertahanan ego Untuk menghadapi tekanan kecemasan yang berlebihan, sistem ego terpaksa mengambil tindakan ekstrim untuk menghilangkan tekanan itu. Tindakan yang demikian itu, disebut mekanisme pertahanan, sebab tujuannya adalah untuk mempertahankan ego terhadap tekanan kecemasan. Dalam teori Freud, (Corey. 1995 :18) bentuk-bentuk mekanisme pertahanan yang penting adalah: (1) Penyangkalan, pertahan melawan kecemasan dengan “menutup mata” terhadaop keberadaan kenyataan yang mengancam (2) Proyeksi, mengalamatkan sifat-sifat tertentu yang tidak bisa diterima oleh ogo kepada orang lain., (3) Fiksasi menjadi “terpaku” anak yang terlalu bergantung menunjukan pertahanan berupa fiksasi.:kecemasan menghambat sianak belajar mandiri. (4) Regresi, melangkah mundur ke fase perkembangan yang lebih awal yang tuntutan –tuntutannya tidak terlalu besar, (5) Rasionalisasi, menciptakan alasan-alasan yang “baik” guna menghindarkan ego dari cedera : memalsukan diri sehingga kenyataan yang mengecewakan menjadi tidak begitu menyakitkan, (6) sublimasi; menggunakan jalan keluar yang lebih tinggi atau yang secara sosial lebih dapat diterima bagi dorongan-dorongannya, (7) Displacement, mengerahkan energi kepada obyek atau orang lain apabila obyek asal atau orang yang sesungguhnya, tidak dapat dijangkau, (8) Represi, melupakan isi kesadaran yang traumatis atau menjadi tidak menyadari hal-hal yang menyakitkan, (9) Formasi reaksi, melakukan tindakan yang berlawanan dengan hasrat-hasrat tak sadar ; jika perasaan-perasaan yang lebih dalam menimbulkan ancaman maka seseorang menampilkan tingkah laku yang berlawanan guna menyangkal perasaan-perasaan yang bisa menimbulkan ancaman.
F. Perkembangan kepribadian. Perkembangan manusia dalam psikoanalitik merupakan suatu gambaran yang sangat teliti dari proses perkembangan psikososial dan psikoseksual, mulai dari lahir sampai dewasa. Dalam teori Freud setiap manusia harus melewati serangkaian tahap perkembangan dalam proses menjadi dewasa. Tahap-tahap ini sangat penting bagi pembentukan sifat-sifat kepribadian yang bersifat menetap. Freud (Corey, 1995:21) menyebutkan perkembangan kepribadian manusia kedalam tahap-tahap sebagai berikut :
1. Fase Oral (0 sampai 1 Tahun)
Dari lahir sampai usia satu tahun seorang bayi menjalani fase oral. Sumber kenikmatan yang pokok yang berasal dari mulu adalah makan. Makan meliputi perangsangan terhadap bibir dan rongga mulut, menelan, dan menyemburkan keluar apabila makanan tidak menyenangkan. Setelah gigi tumbuh, kenikmatan itu dapat juga timbul karena menggigit, fase ini mulut merupakan daerah pokok aktivitas dinamis. Pemindahan objek dari menyuapkan makanan ke mulut misalnya kesenangan memperoleh pengetahuan atau hak milik. Pemindahan objek dari menggigit atau agresi oran misalnya berdebat.
Tugas perkembangan fase oral adalah memperoleh rasa percaya kepada orang lain, kepada dunia dan kepada diri sendiri. Cinta adalah perlindungan terbaik terhadap ketakutan, ketidakamanan. Anak yang ditolak oleh orang lain akan belajar untuk tidak mempercayai dunia : mereka memandang dunia sebagi tempat yang mengancam. Efek penolakan pada fase oral adalah kecenderungan menjadi penakut, tidak aman, haus perhatian, iri, agresif, benci dan kesepian. Masa oral ini juga anak sama sekali tergantung kepada ibu dalam segal hal maka timbulah “rasa tergantung” pada masa ini. Rasa tergantung ini cenderung untuk tetap selama hidup dan menonjol kalau orang dalam ketakutan atau rasa tidak aman.

2. Fase Anal ( 1 sampai 3 Tahun)
Apabila fase oral menuntut individu untuk mengalami rasa bergantung yang sehat, menaruh kepercayaan pada dunia, dan menerima cinta. Fasa anal menandai langkah lain dalam perkembangan kepribadian. Tugas-tugas yang harus diselesaikan selama fase ini adalah belajar mandiri, memiliki kekuatan pribadi dan otonomi, serta belajar bagimana mengakui dan menangani persaan-perasaan yang negatif. Selama fase anal, anak dipastikan akan mengalami perasaan-perasaan negatif seperti benci, hasrat merusak, marah, dan sebagainya.
Fase ini dimulai pada tahun kedua dan berlanjut hingga tahun ke tiga. Ketika memasuki usia dua tahun, anak mulai diperkenalkan dengan metode “toilet training” yang akan memberikan pengalaman pertama bagi anak untuk belajar disiplin, fase ini berpusat pada fungsi eliminatif (pembuangan kotoran). Hal yang juga penting pada fase ini adalah anak memperoleh rasa memiliki kekuatan, kemandirian dan otonomi. Jika orang tua terlalu berbuat banyak terhadap anak, ini berarti bahwa orang tua mengajari anaknya untuk tidak memiliki kesanggupan diri. Pada masa ini anak perlu eksperimen, berbuat salah dan merasa bahwa mereka tetap diterima untuk kesalahanya itu, dan menyadari diri sebagi individu yang terpisah dan mandiri.
Pengaruh yang diterima oleh anak dalam pembiasaan akan kebersihan ini dapat mempunyai pengaruh yang jauh pada sifat-sifat kepribadian kemudian :
a. Apabila ibu bersikap keras dan menekan, anak mungkin menahan faeces-nya. Apabila reaksi yang demikian meluas ke lain-lain hal, maka anak dapat mempunyai sifat kurang bebas, kurang berani, tertekan, kurang terbuka.
b. Apabila ibu bersikap membimbing dengan kasih sayang dan memuji apabila anak defekasi (susah buang air besar), maka anak mungkin memperoleh pengertian bahwa memproduksikan faeces adalah aktifitas yang penting.pengertian inilah yang mungkin menjadi dasar kreativitas dan produktivitas.

3. Fase Phalik (3 sampai 5 Tahun)
Dengan meningkatnya perkembangan kemampuan motorik dan perceptual, maka kecakapn interpersonal anak akan mengalami perkembangan. Kemajuan anak dari periode penguasaan pasif dan reseptif kepada penguasaan aktif, menyusun tahapan bagi perkembangan psikoseksual kedalam fase phalik. Fase ini terjadi ketika anak memasuki usia tiga sampai lima tahun.
Selama fase falik anak perlu belajar menerima perasaan-perasaan seksualnya sebagai hal yang alamiah dan belajar memandang tubuhnya sendiri secara sehat. Anak membutuhkan model yang memadai bagi identifikasi peran seksual. Yang menjadi pusat pada masa ini adalah perkembangan seksual dan rasa agresi serta fungsi alat-alat kelamin. Kenikmatan masturbasi serta khayalan yang menyertai aktivitas oto-erotik sangat penting. Pada masa inilah adanya kompleks Oedipus, Freud beranggapan, bahwa pendapatnya tentang komplek Oedipus itu adalah salah satu penemuannya yang terpenting.
Secara singkat kompleks Oedipus itu terdiri atas cathexis seksual terhadap orang tua yang berlainan jenis kelaminnya serta cathexis permusuhan terhadap orang tua yang sama jenis kelaminnya. Anak laki-laki ingin memiliki ibu dan mengusir ayah, dan anak perempuan ingin memiliki ayah dan mengusir ibu.
Komplek Oedipus pada laki-laki dan pada perempuan itu tidak sama. Mula-mula keduanya jenis anak itu cinta kepada ibunya, karen ibu memenuhi kebutuhannya, dan menentang ayah karena ayah dianggap saingan dalam memperebutkan kasih itu. Perasaan yang demikian itu pada anak laki-laki tetap, tetapi pada anak perempuan berubah.
a. Perkembangan komplek Oedipus pada anak laki-laki. Dorongan incetr dengan ibu serta sikap menentang terhadap ayah menyebabkan anak laki-laki konflik dengan orang tuanya, terutama ayah. Ia menghayalkan bahwa ayah akan melukainnya, dan hal ini sering disertai oleh ancaman ayah yang keras atau terutama mengenai kemungkinan dikastrasi, karena bagian tubuh itulah yang merupakan sumber rasa nikmatnya ( disebut ketakutan kastrasi). Ketakutan diskastrasi ini menyebabkan ditekannya keinginan seksual kepada ibu dan rasa permusuhan kepada ayah. Hal ini juga menjadi sebab anak laki-laki mengidentifikasikan diri terhadap ayah. Dengan mengidentifikan diri terhadap ayah itu anak laki-laki mendapatkan dua manfaat, yaitu : (1) memperoleh pemuasan dorongan seksualnya terhadap ibu; (2) rasa erotisnya terhadap ibu yang berbahaya ditutupi oleh sikap menurut dan sayang pada ibu.
b. Perkembangan kompleks Oedipus pada anak perempuan : Anak perempuan mengganti obyek cintanya yaitu ibu diganti dengan ayah. Hal ini sebagai reaksi terhadap pengalaman traumatisnya, yaitu anak laki-laki memiliki alat-alat kelamin yang sempurna sedangkan dia tidak – keadaanya seperti dikastrasi : (1) Dia beranggapan bahwa ibulah yang bertanggung jawab terhadapan keadaan yang demikian itu yang melemahkan cathexis-nya terhadap ibu, (2) Dia mentransfer cintahnya kepada ayah, karena ayah memiliki organ yang dia inginkan.
Cinta anak perempuan terhadap ayah dan orang laki-laki yang lain disertai oleh rasa kosong, karena orang-orang itu memiliki sesuatu yang dia tidak punya.
Perbedaan sifat dari kompleks Oedipus serta komplek kastrasi inilah yang menjadi dasar berbagai perbedaan psikologis dari kedua jenis kelamin. Freud berpendapat, bahwa tiap orang secara inhaerent adalah biseksual; tiap jenis kelamin tertarik oleh jenis kelamin yang sama dan jenis kelamin yang berlainan. Inilah yang menjadi dasar daripada homoseksual, kendati pada kebanyakan orang impuls homoseksual tetap latent. Pikiran tentang biseksualitas ini dikuatkan oleh hormonologi, dimana diketemukan bahwa hormon seksual kedua jenis kelamin itu ada pada masing-masing jenis kelaminan. Timbulnya komplek Oedipus itu merupakan hal yang pokok pada masa phalik dan tetap membekas selama hidup.

4. Tahap Latent
Usia masa laten adalah berkisar antara 5 tahun sampai kira-kira 12 atau 13 tahun (Suryabrata, 1993:173). Pada fase ini impuls-impuls cenderung berada dalam keadaan tertekan. Interest seks diganti oleh interest pada sekolah, teman bermain, olahraga, dan sederetan aktivitas baru. Tahap ini adalah masa sosialisasi oleh karena anak-anak berpaling ke luar dan menjalin hubungan dengan orang lain. Pada masa ini juga dorongan dinamis itu seakan-akan latent, sehingga anak-anak pada masa ini secara relatif lebih dididk daripada fase-fase sebelum dan sesudahnya.
5. Fase Pubertas
Terjadi pada usia kira-kira 12 atau 13 tahun sampai 20 tahun. Pada fase ini impuls-impuls menonjol kembali. Apabila ini dapat dipindahkan dan disublimasikan oleh ego dengan berhasil maka sampailah orang kepada fase kematangan terakhir, yaitu fase genital. Orang dewasa muda bergerak ke dalam tahap genital kecuali jika mereka mengalami fiksasi pada tahap perkembangan psikoseksual lebih dini.
6. Fase Genital
Cathexis pada fase genital mula (fase falik) mempunyai sifat narcistis; artinya individu mempunyai kepuasan dari perangsangan dan manipulasi tubuhnya sendiri dan orang-orang lain dinginkannya hanya karena memberikan bentuk-bentuk tambahan dari kenikmatan jasmaniah itu. Pada fase pubertas narcisme diarahkan ke objek di luar; anak puber mulai belajar mencintai orang lain karena alasan-alasan altruistis dan bukan hanya karena alasan-alasan narcistis. Pada akhir fase pubertas dorongan-dorongan yang altruistis dan telah disosialisasikan ini telah menjadi tetap dalam bentuk-bentuk pemindahan objek, sublimasi, dan identifikasi. Jadi, individu telah berubah dari mengejar kenikmatan menjadi orang dewasa yang telah disosialisasikan dan realistis. Fungsi biologis yang pokok pada fase genital ini ialah reproduksi.
Menurut Frued (Sumadi S.1993:172) anak kira-kira umur sampai lima tahun melewati fase-fase yang terdiferensiasikan secara dinamis, kemudian sampai umur dua belas atau tiga belas tahun mengalami fase latent, yaitu dinamika menjadi lebih stabil. Dengan datngnya masa remaja maka dinamika itu meletus lagi, dan selanjutnya makin tenang kalau makin dewasa. Bagi Frued , masa sampai umur dua puluh tahun adalah masa yang menentukan bagi pembentukan kepribadian.

2. Aplikasi Teori Sigmund Freud Dalam Bimbingan Konseling. . Apabila menyimak konsep kunci dari teori kepribadian Sigmund Freud, maka ada beberapa teorinya yang dapat aplikasikan dalam bimbingan, yaitu: Pertama, konsep kunci bahwa ”manusia adalah makhluk yang memiliki kebutuhan dan keinginan”. Konsep ini dapat dikembangkan dalam proses bimbingan, dengan melihat hakikatnya manusia itu memiliki kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan dasar. Dengan demikian konselor dalam memberikan bimbingan harus selalu berpedoman kepada apa yang dibutuhkan dan yang diinginkan oleh konseli, sehingga bimbingan yang dilakukan benar-benar efektif. Hal ini sesuai dengan fungsi bimbingan itu sendiri. Mortensen (dalam Yusuf Gunawan) membagi fungsi bimbingan kepada tiga yaitu: (1) memahami individu (understanding-individu), (2) preventif dan pengembangan individual, dan (3) membantu individu untuk menyempurnakannya.
Memahami individu. Seorang guru dan pembimbing dapat memberikan bantuan yang efektif jika mereka dapat memahami dan mengerti persoalan, sifat, kebutuhan, minat, dan kemampuan anak didiknya. Karena itu bimbingan yang efektif menuntut secara mutlak pemahaman diri anak secara keseluruhan. Karena tujuan bimbingan dan pendidikan dapat dicapai jika programnya didasarkan atas pemahaman diri anak didiknya. Sebaliknya bimbingan tidak dapat berfungsi efektif jika konselor kurang pengetahuan dan pengertian mengenai motif dan tingkah laku konseli, sehingga usaha preventif dan treatment tidak dapat berhasil baik. Preventif dan pengembangan individual. Preventif dan pengembangan merupakan dua sisi dari satu mata uang. Preventif berusaha mencegah kemorosotan perkembangan anak dan minimal dapat memelihara apa yang telah dicapai dalam perkembangan anak melalui pemberian pengaruh-pengaruh yang positif, memberikan bantuan untuk mengembangkan sikap dan pola perilaku yang dapat membantu setiap individu untuk mengembangkan dirinya secara optimal. Membantu individu untuk menyempurnakan. Setiap manusia pada saat tertentu membutuhkan pertolongan dalam menghadapi situasi lingkungannya. Pertolongan setiap individu tidak sama. Perbedaan umumnya lebih pada tingkatannya dari pada macamnya, jadi sangat tergantung apa yang menjadi kebutuhan dan potensi yang ia meliki. Bimbingan dapat memberikan pertolongan pada anak untuk mengadakan pilihan yang sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimilikinya. Jadi dalam konsep yang lebih luas, dapat dikatakan bahwa teori Freud dapat dijadikan pertimbangan dalam melakukan proses bantuan kepada konseli, sehingga metode dan materi yang digunakan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan individu. Kedua, konsep kunci tentang “kecemasan” yang dimiliki manusia dapat digunakan sebagai wahana pencapaian tujuan bimbingan, yakni membantu individu supaya mengerti dirinya dan lingkungannya; mampu memilih, memutuskan dan merencanakan hidup secara bijaksana; mampu mengembangkan kemampuan dan kesanggupan, memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya; mampu mengelola aktivitasnya sehari-hari dengan baik dan bijaksana; mampu memahami dan bertindak sesuai dengan norma agama, sosial dalam masyarakatnya. Dengan demikian kecemasan yang dirasakan akibat ketidakmampuannya dapat diatasi dengan baik dan bijaksana. Karena menurut Freud setiap manusia akan selalu hidup dalam kecemasan, kecemasan karena manusia akan punah, kecemasan karena tidak dapat bersosialisasi dengan lingkungan dan banyak lagi kecemasan-kecemasan lain yang dialami manusia, jadi untuk itu maka bimbingan ini dapat merupakan wadah dalam rangka mengatasi kecemasan.
Ketiga, konsep psikolanalisis yang menekankan pengaruh masa lalu (masa kecil) terhadap perjalanan manusia. Walaupun banyak para ahli yang mengkritik, namun dalam beberapa hal konsep ini sesuai dengan konsep pembinaan dini bagi anak-anak dalam pembentukan moral individual. Dalam sistem pemebinaan akhlak individual, Islam menganjurkan agar keluarga dapat melatih dan membiasakan anak-anaknya agar dapat tumbuh berkembang sesuai dengan norma agama dan sosial. Norma-norma ini tidak bisa datang sendiri, akan tetapi melalui proses interaksi yang panjang dari dalam lingkungannya. Bila sebuah keluarga mampu memberikan bimbingan yang baik, maka kelak anak itu diharapkan akan tumbuh menjadi manusia yang baik. Dalam hal ini sebuah hadits Nabi menyatakan bahwa “Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah, hingga lisannya fasih. Kedua orangtuanyalah yang ikut mewarnainya sampai dewasa.” Selain itu seorang penyair menyatakan bahwa “Tumbuhnya generasi muda kita seperti yang dibiasakan oleh ayah-ibunya”. Hadis dan syair tersebut di atas sejalan dengan konsep Freud tentang kepribadian manusia yang disimpulkannya sangat tergantung pada apa yang diterimanya ketika ia masih kecil. Namun tentu saja terdapat sisi-sisi yang tidak begitu dapat diaplikasikan, karena pada hakikatnya manusia itu juga bersifat baharu. Keempat, teori Freud tentang “tahapan perkembangan kepribadian individu” dapat digunakan dalam proses bimbingan, baik sebagai materi maupun pendekatan. Konsep ini memberi arti bahwa materi, metode dan pola bimbingan harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan kepribadian individu, karena pada setiap tahapan itu memiliki karakter dan sifat yang berbeda. Oleh karena itu konselor yang melakukan bimbingan haruslah selalu melihat tahapan-tahapan perkembangan ini, bila ingin bimbingannya menjadi efektif. Kelima, konsep Freud tentang “ketidaksadaran” dapat digunakan dalam proses bimbingan yang dilakukan pada individu dengan harapan dapat mengurangi impuls-impuls dorongan Id yang bersifat irrasional sehingga berubah menjadi rasional.
a.Tujuan Konseling
Kusmawati (http://www.acehinstitute.org) menyebutkan tujuan konseling psikoanalisis adalah :
1. Membantu klien untuk membentuk kembali struktur karakternya dengan menjadikan hal-hal yang tidak disadari menjadi disadari oleh klien. Proses konseling difokuskan pada usaha menghayati kembali pengalaman masa kanak-kanak. Pengalaman masa lampau ditata, dianalisis, dan ditafsirkan dengan tujuan untuk merekonstruksi kepribadian.
2. Menolong individu mendapatkan pengertian yang terus menerus dari mekanisme penyesuaian diri mereka sendiri.
3. Membentuk kembali struktur kepribadian klien dengan jalan mengembalikan hal-hal yang tak disadari menjadi sadar kembali, dengan menitikberatkan pada pemahaman dan pengenalan pengalaman-pengalaman masa anak-anak, terutama usia 2-5 tahun, untuk ditata, disikusikan, dianalisis dan ditafsirkan sehingga kepribadian klien bisa direkonstruksi lagi.

b.Deskripsi Proses Konseling
Proses konseling difokuskan pada usaha menghayati kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak. Pengalaman masa lampau ditata, dianalisis, dan ditafsirkan dengan tujuan untuk merekonstriksi kepribadian. Menekankan dimensi afektif dalam membuat pemahaman ketidakdasaran. Pemahaman intelektual penting, tetapi yang lebih penting mengasosiasikan antara perasaan dan ingatan dengan pemahaman diri. Dalam konseling psikoanalisis terdapat dua bagian hubungan konselor dengan klien, yaitu aliansi dan transferensi.
 Aliansi :
sikap klien kepada konselor yang relatif rasional, realistik, dan tidak neurosis (merupakan prakondisi untuk terwujudnya keberhasilan konseling).
 Tranferensi :
- pengalihan segenap pengalaman klien di masa lalunya terhadap orang-orang yang menguasainya yang ditujukan kepada konselor
- merupakan bagian dari hubungan yang sangat penting untuk dianalisis
- membantu klien untuk mencapai pemahaman tentang bagaimana dirinya telah salah dalam menerima, menginterpretasikan, dan merespon pengalamannya pada saat ini dalam kaitannya dengan masa lalunya.
c. Peran Konselor Psikoanalisis
Peran utama konselor dalam konseling ini adalah membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, ketulusan hati, dan hubungan pribadi yang lebih efektif dalam menghadapi kecemasan melalui cara-cara yang realistis. Konselor membangun hubungan kerja sama dengan klien dan kemudian melakukan serangkaian kegiatan mendengarkan dan menafsirkan.
Konselor memberikan perhatian kepada resistensi klien. Fungsinya adalah mempercepat proses penyadaran hal-hal yang tersimpan dalam ketidaksadaran. Secara lebih spesifik, fungsi konselor meliputi:
1. Konselor berfungsi sebagai penafsir dan penganalisis
Konselor bersikap anonim, artinya konselor berusaha tak dikenal klien, dan bertindak sedikit sekali memperlihatkan perasaan dan pengalamannya, sehingga klien dengan mudah dapat memantulkan perasaannya untuk dijadikan sebagai bahan analisis.
Seorang konselor psikoanalisis disyaratkan memiliki kemampuan dalam bidang-bidang :
1. Pengetahuan
Konselor harus memahami pengetahuan tentang struktur kepribadian dan dinamika kepribadian menurut teori psikoanalisis agar dapat melakukan analisis psikis sesuai dengan kaidah pendekatan psikoanalisis.
2. Sikap
Konselor mampu menerima klien apa adanya, yaitu sebagai orang yang sakit dan memerlukan bantuan penyembuhan dari konselor. Sikap yang diharapkan dari seorang konselor adalah mampu bertindak sebagai psikoanalisis dan mampu menciptakan hubungan interpersonal sampai tercipta transferensi.
3. Keterampilan
Konselor psikoanalisis harus memiliki kemampuan dan terampil mengungkap kehidupan bawah sadar klien dengan menggunakan berbagai teknik yang dikembangkan dalam pendekatan psikoanalisis yaitu asosiasi bebas, interpretasi, analisis mimpi, analisis resistensi, dan analisis transeferensi. Dengan teknik-teknik tersebut konselor menggali pengalaman masa lampau klien. Konselor harus mampu untuk merekonstruksi, mendiskusikan, membahas, menafsirkan, dan melakukan analisis dan diagnosis permasalahan klien.
4. Peranan
Konselor psikoanalis pertama-tama harus mampu membuat hubungan kerja sama yang baik dengan klien, ketulusan hati, mendengarkan keluh kesah klien. Selain itu juga harus (1) menjadi pendengar yang positif (aktif), (2) sebagai seorang penganalisis, pendiagnosis, dan penginterpretasi perilaku klien, (3) berperan sebagai pengendali perilaku klien yang impulsif dan irrasional.

d.Klien dan Pola Hubungan Dengan Konselor alam Konseling Psikoanalisis
Klien dalam menjalani proses konseling harus melaporkan perasaan-perasaan, pengalaman-pengalaman, asosiasi-asosiai, ingatan-ingatan dan fantasi-fantasinya. Melalui beberapa tahapan pertemuan klien menjalani konseling secara intensif. Klien diharapkan mampu membawakan dirinya serileks mungkin dan mengurangi stimulus yang dapat menghambat dirinya di dalam memperoleh hubungan dengan konflik-konflik dan produksi internalnya.
Klien menjalani konseling beberapa tahapan sampai akhirnya memperoleh pemahaman masa lampaunya yang tidak pernah disadari, mengembangkan resistance (hambatan) untuk belajar tentang diri sendiri, mengembangkan hubungan transferensi dengan psikoanalis, dan menangani setiap resistance ke arah pemecahan masalah.
Pola hubungan antara konselor dengan klien yang dikembangkan dalam proses konseling psikoanalisis adalah :
1. Hubungan bersifat pribadi
2. Pembicaraan dititikberatkan pada masa lalu klien dalam kaitannya dengan masa sekarang (masalah yang dihadapi klien) dan cara-cara mengambil keputusan pemecahan masalah klien.
3. Hubungan bersifat dokter pasien
4. Terjadinya transferensi antara konselor dengan klien, sehingga mendorong klien untuk mampu menyelesaikan unfinished problem (urusan atau masalah yang tidak pernah selesai). Transferensi adalah terjadinya penyerahan klien tanpa syarat kepada konselor. Transferensi berhenti, konselor melakukan diagnosis dengan menunjukkan kenyataan-kenyataan yang telah diceriterakan klien.

e. Teknik Konseling
Teknik-teknik konseling psikoanalisis diarahkan untuk mengembangkan suasana bebas tekanan. Dalam suasana bebas itu klien menelusuri apa yang tepat dan tidak tepat pada tingkah lakunya dan mengarahkan diri untuk membangun tingkah laku baru.
Corey menyatakan bahwa teknik-teknik pada psikoanalisis disesuaikan untuk meningkatkan kesadaran, memperoleh pemahaman intelektual atas tingkah laku klien, dan untuk memahami makna berbagai gejala. Kemajuan terapeutik berawal dari pembicaraan klien kepada katarsis, kepada pemahaman, kepada penggarapan bahan yang tidak disadari, ke arah tujuan-tujuan pemahaman dan pendidikan ulang intelektual dan emosional, yang diharapkan mengarah pada perbaikan kepribadian. Tahapan konseling dimaksudkan untuk membangun kembali struktur kepribadian klien yang kacau karena adanya ketidak seimbangan id-ego-superego klien.
Ada lima teknik dasar dalam konseling psikoanalisis, yaitu :
1. Asosiasi bebas
Asosiasi bebas merupakan teknik pokok dalam terapi psikoanalisis. Prosedur yang dilakukan adalah konselor memerintah klien untuk duduk santai atau berbaring di sofa. Klien diminta berceritera untuk menjernihkan pikirannya dari pemikiran sehari-hari dan sebanyak mungkin untuk mengatakan apa yang muncul dalam kesadarannya betapapun menyakitkan, menjengkelkan, remeh, tidak logis, dan tidak relevan kedengarannya. Pada intinya, klien mengemukakan semua perasaan atau pikirannya dengan melaporkan apa adanya tanpa sensor.
Asosiasi bebas merupakan suatu metode pengungkapan pengalaman masa lampau dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatik di masa lampau, dan disebut sebagai katarsis. Katarsis sementara dapat mengurangi pengalaman klien yang menyakitkan, akan tetapi tidak memegang peranan utama dalam proses penyembuhan. Untuk membantu klien memperoleh pengetahuan dan evaluasi diri sendiri, konselor menafsirkan makna-makna yang menjadi kunci teknik asosiasi bebas. Selama proses asosiasi bebas, tugas konselor adalah mengidentifikasi hal-hal yang tertekan dan terkungkung dalam ketidaksadaran. Urutan-urutan asosiasi memberi petunjuk kepada konselor dalam memahami hubungan-hubungan klien dengan peristiwa-peristiwa yang dialaminya. Penghalangan-penghalangan atau pengacauan-pengacauan oleh klien terhadap asosiasi merupakan isyarat bagi adanya bahan yang menimbulkan kecemasan. Konselor menafsirkan bahan itu dan menyampaikannya kepada klien, membimbing klien ke arah peningkatan pemahaman atas dinamika-dinamika yang mendasarinya, yang tidak disadari oleh klien.
2. Interpretasi
Interpretasi atau penafsiran adalah prosedur dasar yang digunakan dalam analisis asosiasi bebas, mimpi, resitensi, dan transferen. Prosedurnya terdiri atas penetapan analisis, penjelasan, dan bahkan mengajar klien tentang makna tingkah laku yang dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, resitensi, dan hubungan terapeutik itu sendiri. Fungsi interpretasi adalah membiarkan ego untuk mencerna materi baru dan mempercepat proses menyadarkan hal-hal yang tersembunyi. Interpretasi mengarahkan tilikan dan hal-hal yang tidak disadari klien.
Hal-hal yang penting adalah bahwa interpretasi harus dilakukan pada waktu-waktu yang tepat karena kalau tidak, klien dapat menolaknya. Ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam interpretasi sebagai teknik terapi. Pertama, interpretasi hendaknya disajikan pada saat gejala yang diinterpretasikan berhubungan erat dengan hal-hal yang disadari klien. Kedua, Interpretasi hendaknya selalu dimulai dari permukaan dan baru menuju ke hal-hal yang dalam yang dapat dialami oleh situasi emosional klien. Ketiga, menetapkan resitensi atau pertahanan sebelum menginterpretasikan emosi atau konflik.
3. Analisis mimpi
Analisis mimpi merupakan prosedur yang penting untuk membuka hal-hal yang tidak disadari dan membantu klien untuk memperoleh tilikan kepada masalah-masalah yang belum terpecahkan. Selama tidur pertahanan menjadi lebih lemah dan perasaan-perasaan tertekan muncul ke permukaan. Freud melihat bahwa mimpi sebagai “royal road to the unconcious”, dimana dalam mimpi keinginan, kebutuhan, dan ketakutan yang tidak disadari diekspresikan. Beberapa motivasi yang tidak diterima oleh orang lain, dinyatakan dalam simbolik dari pada secara terbuka dan langsung.
Pada analisis mimpi, klien diminta untuk mengungkapkan tentang berbagai kejadian dalam mimpinya dan konselor berusaha untuk menganalisisnya. Teknik ini digunakan untuk menilik masalah-masalah yang belum terpecahkan. Proses terjadinya mimpi adalah karena pada waktu tidur pertahanan ego menjadi lemah dan kompleks yang terdesak pun muncul ke permukaan. Menurut Freud, mimpi ini ditafsirkan sebagai jalan raya mengekspresikan keinginan-keinginan dan kecemasan yang tak disadari.
4. Analisis resistensi
Resistensi merupakan suatu fundamental praktek-praktek psikoanalisis, adalah sesuatu yang bekerja melawan kemajuan terapi dan mencegah klien untuk menampilkan hal-hal yang tidak disadari. Selama asosiasi bebas, atau asosiasi mimpi, klien mungkin menunjukkan ketidakmauan untuk mengkaitkan pemikiran, perasaan, dan pengalaman tertentu. Freud memandang resistensi sebagai suatu dinamika yang tidak disadari yang mendorong seseorang untuk mempertahankan terhadap kecemasan. Hal ini akan timbul bila orang menjadi sadar terhadap dorongan dan perasaan yang tertekan.
Interpretasi konselor terhadap resistensi ditujukan kepada bantuan klien untuk menyadari alasan timbulnya resistensi. Sebagai ketentuan umum, konselor meminta perhatian klien dan menafsirkan resistensi yang paling nampak untuk memperkecil kemungkinan penolakan terhadap interpretasi.
Resistensi bukan sesuatu yang harus diatasi, karena hal itu merupakan gambaran dari pendekatan-pendekatan defensif pertahanan klien yang biasa dalam kehidupan sehari-hari. Resistensi-resistensi harus diakui sebagai alat pertahanan menghadapi kecemasan, tetapi menghambat kemampuan klien untuk mengalami kehidupan yang lebih memuaskan.
5. Analisis transferensi.
Transferensi adalah mengalihkan, bisa berupa perasaan dan harapan masa lalu. Dalam hal ini, klien diupayakan untuk menghidupkan kembali pengalaman dan konflik masa lalu terkait dengan cinta, seksualitas, kebencian, kecemasan yang oleh klien dibawa ke masa sekarang dan dilemparkan ke konselor. Biasanya klien bisa membenci atau mencintai konselor. Konselor menggunakan sifat-sifat netral, objektif, anonim, dan pasif agar bisa terungkap tranferensi tersebut.
Analsisi transferensi adalah teknik yang utama dalam psikoanalisis, sebab mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi. Penafsiran hubungan transferensi juga memungkinkan klien mampu menembus konflik-konflik masa lampau yang tetap dipertahankannya hingga sekarang dan yang menghambat pertumbuhan emosionalnya.

BAB III
PENUTUP

Pandangan Psikoanalisa tentang manusia adalah menganggap manusia cenderung pesimistik, deterministik, mekanistik dan reduksionistik. Manusia dideterminasi oleh kekuatan-kekuatn irasional, motivasi-motivasi tidak sadar, kebutuhan-kebutuhan dan dorongan-dorongan biologis dan naluriah oleh peristiwa-peristiwa psikoseksual yang terjadi pada masa lalu dari kehidupannya. Tingkah laku manusia : (1) ditujukan untuk memenuhi kebutuhan biologis dan insting-instingnya, (2) dikendalikan oleh pengalaman-pengalaman masa lampau dan (3) ditentukan oleh faktor-faktor interpersonal dan intrapsikis.
Implikasi dari pendekatan Psikoanalisa, sebagai suatu pandangan tentang manusia, sebagi suatu model pemahaman tingkah laku, dan sebagi suatu model terapi bagi para konselor. Dalam psikoanalisa juga menggunakan methode terapi ketidak sadaran yaitu menggali ketaksadaran dan bekerja kearah pengubahan kepribadian.
Psikoanalisa memberikan kepada konselor suatu kerangka konseptual untuk melihat tingkahlaku serta sangat berguna untuk memahami fungsi pertahan-pertahan ego sebagai reaksi-reaksi atas kecemasan. .
Tujuan konseling psikoanalisis meliputi usaha membantu klien untuk membentuk kembali struktur karakternya dengan menjadikan hal-hal yang tidak disadari menjadi disadari oleh klien. Tujuan konseling secara spesifik dapat digambarkan sebagai berikut: (1). Membawa klien dari dorongan-dorongan yang ditekan (ketidaksadaran) yang mengakibatkan kecemasan kearah perkembangan kesadaran intelektual; (2). Menghidupkan kembali masa lalu klien dengan menembus konflik yang direpres; dan (3). Memberikan kesempatan kepada klien untuk menghadapi situasi yang selama ini gagal diatasinya.
Peran utama konselor dalam konseling ini adalah membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, ketulusan hati, dan hubungan pribadi yang lebih efektif dalam menghadapi kecemasan melalui cara-cara yang realistis. Konselor membangun hubungan kerja sama dengan klien dan kemudian melakukan serangkaian kegiatan mendengarkan dan menafsirkan. Konselor memberikan perhatian kepada resistensi klien. Fungsinya adalah mempercepat proses penyadaran hal-hal yang tersimpan dalam ketidaksadaran.
Teknik-teknik konseling psikoanalisis diarahkan untuk mengembangkan suasana bebas tekanan. Dalam suasana bebas itu klien menelusuri apa yang tepat dan tidak tepat pada tingkah lakunya dan mengarahkan diri untuk membangun tingkah laku baru.Ada lima teknik dasar dalam konseling psikoanalisis, yaitu: (1) asosiasi bebas, (2) interpretasi, (3) analisis mimpi, (4) analisis resistensi, dan (5) analisis transferensi.
Di akhir catatan tentang teori kepribadian freud, banyak melahirkan tokoh-tokoh hebat aliran-aliran psikologi yang lahir dari punda raksasa Freud dalam membangun teori-teorinyanya. Freud sendiri tidak mengaku memiliki semua jawaban tentang masalah psikologi bahkan beliau sendiri sering merevisi teori-teorinyanya berulang kali. Para pembaca bisa menerima aspek-aspek tertentu dari pendekatan Freud serta mengambil beberapa mehode dan pandangannya tanpa harus menjadi freudian yang ortodoks.

DAFTAR PUSTAKA

Corey G. 1995. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Cetakan II. Eresco. Bandung.

Sarwono Sarlito Wirawan. 2002. Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi. Cetakan II. Bulan Bintang. Jakarta.

Suryabrata Sumadi. 1993. Psikologi Kepribadian. Rajawali Pers. Jakarta.

Sobur Alex. 2003. Psikologi Umum. Pustaka Setia. Bandung.

Walgito Bimo. 2004. Pengantar Psikologi Umum. Andi. Yogyakarta.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.